Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 56 - Masa Lalu Batara Kala


__ADS_3

Sementara gua karena satu kesalahan yang gak gua lakukan harus menjalani gukuman pengasingan dan dibuang kedasar inti bumi, karena kasihan sama gua nyokap ikut gua dan meminta tinggal di inti bumi akhirnya nyokap gua jadi penguasa dikerajaan dasar bumi.


Gua difitnah karena telah memecahkan guci pengatur waktu, karena kebetulan gua yang nemuin tergeletak ditempat biasa gua latihan, gua dipaksa diem didasar bumi sampai batas waktu yang gak ditentukan, gua terus cari siapa pelakunya yang ternyata ya ulahnya kakak gua setelah bokap pake mata kebenarannya


Sebagai permintaan maaf gua diberi anugrah penjaga waktu oleh bokap yang disetujui dewan tertinggi dan delapan kaisar langit, sejak saat itulah gua menjadi penjaga waktu dan dengan kecerdasan gua, gua terus belajar dan memperbaiki diri dan hidup gua.


Tapi tetep lah bos nyokap gua selalu pesen, biar seburuk - buruk apapun dia tetep kakak gua, saudara gua. Bagus kakaknya orang, jelek kakak sendiri ya tetep kakak sendiri yang harus diutamakan tapi seiring berjalannya waktu dan terus belajar yang salah ya harus dihukumlah. Itu baru adil


Makanya gua sangat paham sama Asep bos, bukan gua jahat sama lo, tapi hidup Asep gak semudah lo, lo punya keluarga utuh yang sayang sama lo, segalak - galaknya nyokap lo dia masih perduli sama lo.


Hadeew kenapa gua jadi curhat sama lo pada ya, kata Barra sambil mengakhiri pembicaraan


*****


Semua yang mendengarkan cerita Batara Kala kini mulai memahami, sikap cerianya adalah untuk menutupi kesedihan yang ia rasakan, dibalik sosok bodohnya tersimpan masa lalu yang pahit.


Para gadis sampai meneteskan air matanya, tak terkecuali Asep, ia sampai memeluk Barra.


"Makasih ya bang, lo bener - bener memahami gua bang."


Hadeeew kenapa jadi lo yang meluk gua Ki, segini banyak cewek gak ada yang mau meluk gua tah, gua masih normal ki, aduuh kok jadi gini ya, wah salah sasaran gua nasib - nasib


Yang disusul tawa semuanya.


Maafin gua ya, kata June diikuti tunduk hormat para bangsawan langit, gua juga minta maaf ya kata Giyana yang mendekatinya dan memberi hormat pada Barra.


*****


Gua juga minta maaf, gak seharusnya gua bilang hal ini, gua gak pernah cerita hal ini pada siapapun semua gua simpen sendiri.


Tapi lo tenang aja, gua mau kok sama lo kata Giyana, dari awal gua suka sama lo, tapi lo tu nyebelin banget jadi cowok, heran ada ya dewa bodoh begitu, tapi setelah gua tau gua jadi yakin kalo gua gak salah pilih tambahnya.


Heem gimana ya, gua pikirin dulu deh secara gua kan....


Belum selesai kata - katanya sebuah pukulan telak mendarat mulus diwajah Barra.


Hei Dewa Bodoh jika berani macam - macam awas aja lo gua mau peluk lo tapi ya gak didepan umum juga keles.


"Buset dah ini cewek - cewek gak seneng langsung nabok atau mukul, heran gua kata Deni dan dijawab anggukan oleh Asep."


Tenang saja kanda, dinda tidak seperti itu tapi jika kanda sampai macam - macam dan terpaksa ya dinda bisa berbuat lebih dari sekedar pukulan.


"Hamsyong dah kanda sudah seneng dinda, jadi mikir mau aneh - aneh."

__ADS_1


Tidak apa - apa kanda, tapi jika kanda tidak sayang nyawa ya tidak apa - apa dinda tinggal mengurung kanda didimensi pedang bulan dan menguluti kanda, dengan senyum tipis dibibirnya.


"Kanda tipe setia kok dinda tenang aja."


Yah lo Cep setia dari mane lo, dimana - mana tebar pesona, bilang setia.


Nah itu bos kemarin waktu di Palembang itu siapa namanya bos kata Barra yang coba memancing amarah Mayang.


Wah lupa gua bang, siapa ki itu lo yang janda itu ki, haduuh yang deket pabrik.


"Kanda benarkah itu, Mayang melotot menatap Asep."


Kan waktu itu belum kenal dinda, belum kanda apa - apain kok anaknya sumpah dah. Wah temen gua jadi PRT nih.


Sue lo Cep gua dibilang PRT emang gua pembantu apa?.


Ye si bos sudah zaman two point o masih kagak tau PRT, (PRT itu Perusak Rumah Tangga) bos.


Eh dukun cabul Bos Deden sama gua, jangan macem - macem lo, gua tabok balik miskin lagi lo kata June dengan tatapan dingin


Cie - cie dibelain, kata Barra disusul tawa oleh semuanya.


*****


Sudah sore nih cabut yuk, nanti kemaleman malah besok kesiangan.


"Nak Deni besok kita akan berangkat pukul sebelas siang, semua urusan akomodasi telah kami siapkan, lalu untuk orang - orang yang bersama nak Deni akan di masukkan sebagai asisten nak Deni, kalian akan masuk kedalam tim penjelajahan situs gunung padang dan menangani proyek yang sempat tertunda.


Besok kita akan berangkat bersama dari kantor pukul sembilan pagi."


Baik pak kami akan datang tepat waktu.


"Baiklah persiapkan diri baik - baik."


*****


Besok kita akan berangkat dari kantor jam sembilan pagi, jadi jam delapan kita harus sudah siap.


Oke sekarang kita pulang dan istirahat dulu, oke kang Ujang gua cabut yah.


Berhubung babang bara lagi senang hatinya babang tambahin kang uangnya, seraya melempar kartu debit khas dari kerajaan dasar bumi, dan satu lagi tempat ini sudah dilindungi pasukan jin sakti ki Encep kang, baek kan dia kang.


Loh beneran, tapi kang Ujang gak mau jadi tumbal lo Ki, atau disuruh betapa gitu

__ADS_1


"Kagak kang, wah nama gua bener - bener rusak dibuat lo bang, katanya sambil menepok jidat."


Barra sengaja menempatkan pasukan elit inti bumi untuk menjaga tempat kang Ujang dari semua serangan baik fisik ataupun gaib.


Wuuih Ki Encep beneran sakti eii, makasih ya ki, sehat selalu, jadi bener ya kang Ujang gak perlu aneh - aneh.


"Gak perlu kang, yang penting jangan sampe tinggalin sholat ok."


Itu kartu debit gaib tanpa batas limit kang, pergunakan dengan bijak, itu bisa dipakai disemua bank jadi lo gak perlu repot kang, pinnya ada di gelang itu.


Kang Ujang sangat senang menerima hadiah dari Barra. Hatur nuhun Ki, kang Ujang pasti pegang amanat ki Encep. Nanti sebagian boleh kang Ujang sedekahkan ki.


"Boleh banget kang, kata Asep santai makasih ya kang."


Mereka akhirnya pergi meninggalkan warung kopi sederhana.


*****


Sebelum pulang Deni mengajak mereka ke area kota tua dan kawasan monas, tepat pukul sembilan malam mereka tiba dirumah.


"Sudah pada pulang kata ibu dan bapak yang menyambut mereka sambil menikmati teh diberanda rumah."


Deni yang telah mengetahui kebenaran langsung bersujud pada ibunya.


Maafin Deni ya bu, Deni sering bikin ibu sama bapak kecewa.


Kamu kenapa ngger kamu tidak salah makan obat kan? Atau mungkin kepalanya terbentur bu, cepat panggil dokter Harun untuk memriksa Deni kata bapak.


Deni baik - baik aja pak, ibu besok Deni mau berangkat tugas ke gunung padang, Deni minta rihdo bapak sama ibu.


Ooo alah Ratna kira mas Deni kesambet apaan gitu, ia tiba - tiba muncul dari dalam baru aja Ratna mau panggil Ustad Amir untuk ruqiah mas Deni.


Dia kesambet jin tomang dek kata Barra yang disambut tawa oleh semuanya.


Loh kok pada ketawa, jin tomang pesugihannya keluarga Hadi Ningrat itu, kata Ratna dengan wajah panik


Hadeew babang adek gua masih lugu bang, becanda begitu diseriusin sama dia.


Ya sudah sana pada mandi dan istirahat ya, kata Ibu dengan lembut.


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan

__ADS_1


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2