
Ada aturan yang tidak bisa kami langgar, seluruh alam ini sudah ada aturannya sendiri, gua gak bisa langsung turun jika tidak terpaksa, sama seperti para bangsawan langit, kalian turun kemedan perang jika sudah terpakasa.
Nah sekarang mari kita kembali, setelah melakukan pertemuan singkat mereka beristirahat diruang dimensi tersebut.
Tepat pukul sepuluh lewat mereka semua kembali kedunia nyata, disana mereka akan bersiap berangkat ke Jakarta.
"Sudah datang mobilnya, kata Pak Sandi bertanya pada Bima."
Sudah pak itu sudah siap didepan, setelah selesai berkemas mereka akhirnya berangkat menuju bandara Raden Intan dua, jaraknya tidak terlalu jauh, lebih kurang satu jam perjalanan.
Perjalanan kebandara tidak terlalu padat, jadi tidak sampai satu jam mereka tiba dilokasi bandara.
****
Baiklah para gadis selanjutnya kita akan berangkat menggunakan burung besi itu kata Barra dengan penuh semangat sambil menunjuk pesawat tersebut.
"Apa yang lo maksud benda besar berbentuk aneh itu, itu tidak tampak seperti burung, kata June dan Giyana bersamaan."
Gua lupa Ki, ni cewek - cewek kan bukan dari dunia manusia kata Barra dalam pikiran mereka, lo sama Chika dan Nun aman lah ya Kii?
'Aman babang Barra, Chika sama Nun baik - baik kok, lemah lembut mereka kata Asep sambil tersenyum, jadi ki Encep aman tapi gak tau tu nasib bos Deden, si June tegang banget kayaknya, hahaha'
^Sue lo ki, seneng banget kayaknya dapet tiga cewek pada akur, lah gua satu aja kagak jinak - jinak.^
Lo jinakin dong bos Deden, masa kalah sama kita, kata hahaha
Tenang June ada babang Deni yang tampan kata emaknya, tambah Asep sambil tertawa lepas, yang disusul tawa oleh Barra dan yang lainnya.
****
Sementara June agak kesal, maklum mereka para bangsawan langit belum pernah menggunakan transportasi dari dunia manusia.
'Hai otak mesum jangan coba - coba cari masalah ya, kata June agak jengkel.'
"Lah gua kagak bilang apa - apa, duh nasib - nasib, dapet cewek satu, galaknya kaya macan gak makan setahun."
Tiba - tiba June kembali mendaratkan sebuah tamparan ke pipi Deni.
"Biar gak ngantuk, awas ya kalo macem - macem."
Sontak seluruh mata dibandara melihat aksi June.
"Hai ayok malah diem mau ditampar lagi, kata June dengan tatapan tajam."
Sontak hal tersebut semakin menambah keruh suasana dan memancing petugas bandara.
****
Maaf ada apa ini ribut - ribut, bapak - ibu mohon jangan sampai bikin onar di area bandara ya.
"Mohon maaf bapak, ini temen saya matanya suka jelalatan makanya istrinya marah kata Barra sambil mengedipkan mata."
__ADS_1
Ooh masalah rumah tangga to, ya sudah tapi kalo boleh jangan sampe buat onar ya, bapak harusnya bersyukur istrinya sudah cantik begitu masih kurang aja pak, kata petugas bandara menasehati Deni.
Baik silahkan lanjutkan ini hanya salah paham, bapaknya main mata didepan istri ya begini jadinya hehehe...
"Lah sue kapan gua nikah sama ni demit."
'Mau ditampar lagi'
Sudah bos lu ikutin aja, jagan bikin masalah, istri lo cantik begini bos kata Barra sambil melangkah masuk kedalam pesawat.
****
Didalam pesawat
"Kenapa banyak sekali kursi disini kata June, apakah akan ada pertunjukan atau semacamnya dalam pikiran mereka."
Sudah lu duduk aja diem jangan bergerak, sekarang gua yang bilangin lo jangan bikin ulah ya, kata Deni.
^Sudah - sudah tidak perlu ribut lagi, silakan lihat kertas yang kalian pegang dan duduk sesuai dengan nomor yang tertulis disitu, kata Barra."
****
Pengumunan pesawat akan lepas landas terdengar, para bangsawan langit dan June agak terkejut, apakah ia pemimpinnya kata mereka bersamaan.
^Sudah tenang saja itu hanya pengumuman, kalian semua harus terbiasa dengan alat - alat buatan manusia kata Barra."
Silakan kenakan sabuk pengaman, kebetulan Deni dan June duduk bersebelahan, Deni melihat June kesulitan memasang sabuk pengamannya.
'Lo mau apa, kata June saat melihat Deni mendekatinya.'
"Gua mau bantu lo bodoh, sini kata Deni."
Ketika Deni mencoba membantu June dan mencoba mengambil sabuk didekat perut June, sebuah tamparan kembali medarat dipipinya.
"Jangan macam - macam ditempat umum otak mesum."
Sontak seluruh mata menatap Deni dan June.
^Maaf ini hanya salah paham, maklum mereka pengantin baru kata Barra pada seluruh penumpang sambil tersenyum.^
Seorang petugas pramugari datang, ia akhirnya membatu June mengikat sabuknya.
Maaf mbak ini kali pertama aku terbang dengan benda aneh ini, maaf jika aku sudah buat onar.
(Benda aneh, pesawat maksudnya?)
Iya mbak apalah namanya, lelaki bodoh disebelahku ini tidak pernah memberi tahu hal ini sebelumnya, sambil menunjuk Deni yang duduk disebelahnya.
(Pengantin baru memang begitu bu, kata petugas pramugari, bapak lain kali istrinya dibantu ya pak, sepertinya ibu kesulitan pakai sabuk pengaman)
"Lah siapa yang gak mau bantu, orang mau dibantu malah kena tabok."
__ADS_1
Habisnya pikiran lo mesum terus, katanya sambil menjulurkan lidahnya.
(Ada lagi yang bisa saya bantu ibu, kata petugas tersebut dengan ramah.)
Sudah mbak, biarkan lelaki bodoh ini yang membantuku kata Jane.
****
'Maafin gua ya kata June, jujur gua takut kata June didalam pikiran Deni.'
"Iya gak apa - apa, makanya lo jangan main tabok aja, gua gak seperti yang lo pikirin kata Deni."
Pesawat mulai bergerak dan perlahan mengudara, June yang takut secara tak sadar menggenggam tangan Deni, ia memejamkan matanya sesuai arahan Deni, lama penerbangan lebih kurang satu jam.
June semakin keras menggenggam tangan Deni, tiba - tiba pesawat berguncang akibat turbulensi.
Sontak para bangsawan langit bersikap siaga, apakah kita mendapat serangan?
^Tenang saja ini hanya turbulensi, kata Barra dalam pikiran mereka.^
June semakin kencang memegang tangan Deni. Deni yang paham situasinya berusaha menenangkan June, secara repleks merangkul June mendekat.
June yang ketakutan langsung tertidur didalam pelukan Deni.
*****
(Kepada para penumpang pasang kembali sambuk keselamatan anda kita akan bersiap untuk pendaratan.)
Suara pengumuman membangunkan June, mereka tersenyum melihat June dan Deni bisa akur.
'Alhamdulillah luluh juga tu cewek ya bos kata Asep santai.'
^Bener lo Ki, akhirnya ya luluh juga.^
Deni dan June menatap mereka penuh tanya.
"Hey Dukun somplak siapa yang kau sebut luluh itu, kata June didalam pikiran mereka."
'Lah gua bilang Alhamdulillah kita mau sampe, ini demut langit sensitif aja bawaannya, lagian lo guakan bilangnya sama babang Barra, kata Asep santai.'
^Awas lo ki sampe ganggu bininya dipecat bos Deden baru tau rasa, kata Barra sambil terkekeh.^
Gua pasrah aja dah, diem aja gua salah apa lagi ngomong, kata Deni sambil menggeleng.
"Hai bodoh apa kau akan diam saja kita di bully seperti ini, kata June berbicara pada Deni."
^Cie - cie diaduin ki, atut babang ki kata barra dan asep yang terus meledek Deni dan June.^
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Vote, Like, Komen dan
__ADS_1
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibu dab Author lebih semangat lagi, terima kasih...