Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 40 - Latihan Deni Dan Asep 3


__ADS_3

"Sudah lebih dari satu jam mereka semua bertukar jurus, tapi belum ada yang terlihat lelah, pertarungan malah semakin panas, kini Deni mundur dan merapal mantra, dan tangannya membentuk segel tangan.


Komandan Singa dan Maha patih Giyana tidak percaya dengan apa yang dilihatnya,


Pedang phonik tingkat lima, Ilusi Air Suci ,seketika seluruh arena diselimuti kabut tipis, kini komandan Singa Lebih waspada, ia tau betul jurus ilusi itu sangat merepotkan, ia bahkan hampir mati saat berhadapan dengan Sono.


Saat dirinya sedang mengamati situasi Asep telah menggunakan jurus pedang sembrani tingkat lima, jurus Bumi menarik jiwa, Asep yang luput dari komandan Singa, telah melepaskan jurus yang membuatnya hampir mati ditangan Waru.


Tapi sesuatu yang aneh terjadi, tiba tiba keduanya rubuh ditengah arena.


"Deni dan Asep merasa tenaga mereka benar benar terkuras, kabut tipis disekitar arena menghilang, begitu juga tekanan didalam arena, keduanya benar - benar jatuh."


Melihat situasinya hal tersebut tidak disia - siakan oleh komandan singa, ia langsung membentuk segel tangan, jurus pedang neraka tingkat enam, Lidah Api Neraka, seketika puluhan lidah api terbentuk diarena pertarungan dan langung membentur tubuh Deni dan Asep.


Mereka berdua sudah tidak bisa menggunakan tenaganya terpaksa menerima jurus lidah api neraka, seketika tubuh keduanya terpental keluar dari arena dan menimbulkan luka yang cukup lebar, darah segar mengalir disela - sela bibir keduanya, mereka menatap bagian perut yang terkena serangan dengan luka lebar menganga, bahkan bagaian dalam perut mereka terlihat jelas, dan darah terus mengalir dari luka mereka,


"Cep maafin gua ya, Deni langung roboh dan tidak bisa bergerak lagi."


'Gua juga bos, tak lama Asep juga roboh tanpa bisa bergerak lagi.'


Tapi hal aneh terjadi, tiba - tiba luka ditubuh mereka tertutup kembali, seluruh tubuh mereka kembali utuh. Padahal baru satu minggu, tapi mereka sudah sampai ditahap ini, maha patih Giyana mendekati tubuh keduanya, para pengawal membawa keduanya kedalam ruangan mereka.


Hai pemalas, mau sampai kapan lo pada tidur dilantai, sebuah pukulan keras membangunkan keduanya.


Terlihat maha patih Giyana menimmati secangkir teh, tengah duduk dengan pose menggoda dikursi yang tersedia diruangan itu. Deni dan Asep menahan sakitnya pukulan telak dari prajurit kerajaan dasar bumi.


"Eh apa kita masuk neraka ya, haduh hamsyong bos, gua nyesel sholatnya jarang - jarang, lata Asep menatap Deni."


'Gimana mau sholat, lah kita lagi disiksa koplak, sudah seminggu kita ninggalin sholat, ampun ya Allah, hamba nyesel banget, ini gara - gara ki Encep ya Allah, ngasih ide sama cewek demit yang sadis itu.'


Kembali tamparan keras para perajurit menyadarkan mereka.


Lo pada pingin sholat, kenapa gak bilang, dasar manusia bodoh. Lo beneran pengen mati apa, kata Giyana Dingin.


"Lah luka gua tadi besar banget, gak mungkin hidup lah, kata Deni."

__ADS_1


Masih belom sadar lo pada, apa gua suruh para perajurit menghajar kalian sampe babak belur, baru pada sadar.


'Tapi secara manusia, kita gak mungkin selamat cewek demit.'


Tamparan keras Giyana mendarat dipipi Deni dan Asep, jangan buat gua kesel ya, gua kasih tau lo pada ya, lu masih hidup, itu adalah manfaat lo pada dibuat kaya teh celup itu, itu asalah latihan dasar para perajurit, kecuali orang dengan energi murni, tidak ada yang bisa membunuh kalian, tapi efek penyembuhamnya masih lumayan lama, gua kasih contoh ya, lihat baik - baik.


Maha patih Giyana mencabut pedangnya, lalu memenggal kepala salah satu perajurit, seketika perajurit itu jatuh tersungkur, namun hal aneh terjadi, kepalanya kembali utuh dan perajurit itu kembali seperti semula.


Paham sampai disini.


*****


Deni dan Asep saling memandang, kini istarahatlah, besok kalian akan masuk kembali kedalam kolam lava, sampai preoses penyembuhannya bisa cepet kata Giyana yang berjalan pergi meninggalkan mereka berdua, oh iya jangan lupa makan semua itu, kalo sampe ada sisa gua bener - bener bunuh lo berdua, satu lagi kalian dapat keringanan dari yang mulia, pada jam sholat kalian akan diberikan waktu untuk ibadah selama 20 menit, paham.


Giyana menghilang dengan ditutupnya pintu oleh pasukan penjaga kerajaan dasar bumi.


****


"Cep lo nyadar gak kata - kata cewel demit itu, dia bilang itu latihan, mereka saling pandang, sebenermya kita ini dihukum apa dilatih sih, bingung gua Cep?"


"Ye somplak, malah makan, lo bantu mikir napa Cep."


'Kalo laper gak bisa mikir bos, lo mau makan gak, kalo gak jatah lo gua sikat nih kata Asep yang telah menghabiskan separuh jatah makannya.'


"Emang lo aja yang laper, dasar Encep koplak, dengan wajah kesal Denipun menyambar makanannya, tak jauh beda dengan Asep ia pun makan dengan lahapnya."


****


Disisi Dewi Durga


Giyana dan komandan Singa ingin menghadap, kata salah satu perajurit yang menemui Dewi Durga yang sedang duduk diatas di singasananya bersama dengan Nona June dan maha patih utama.


"Biarkan mereka masuk, kata Dewi Durga yang dijawab anggukan oleh perajurit tersebut."


****

__ADS_1


Maha patih Giyana dan Juga komandan Singa langsung berlutut dihadapan Dewi Durga yang didampingi Nona June dan Maha Patih Utama.


Hormat pada yang mulia, hormat Maha Patih Umbara, hormat pada Nona June.


Bangunlah maha patih Giyana, dan Komandan Singa.


Mereka duduk disebelah nona June.


"Giyana izin melaporkan yang mulia, hari ini kami berdua benar - benar terkejut, pusaka penguasa air dan penguasa tanah milik bangsawan langit terdahulu, telah memilih mereka sebagai tuan, bahkan Komandan Singa sampai terdesak dibuatnya."


Semua yang ada diruangan itu terkejut.


Apa benar komandan Singa.


'Ampun yang mulia, benar yang dikatakan maha patih Giyana, bahkan penguasa tanah bisa menggunakan jurus hujan batu suci, sedang penguasa air menggunakan teknik Ilusi air suci dan Teknik Bumi Menarik Jiwa.'


June sampai membelalakan matanya, kau sedang tidak bercandakan komandan Singa.


'Ampun beribu ampun pemimpin tertinggi bangsawan langit, aku tidak sedang bercanda, tapi tubuh mereka masih terlalu lemah untuk menggunakan teknik itu, karena tidak lama kemudian, semua jurus itu menghilang dan mereka berdua tidak bisa bergerak lagi, aku sampai menggunakan jurus Lidah Api Neraka untuk menyerang mereka.'


Kini Dewi Durga dan Maha Patih Umbara yang dibuat terkejut, tidak biasanya komandan Singa menggunakan jurus itu, kecuali dalam keadaan terdesak.


"Apa kau ingin membunuh mereka Komandan Singa, kata Dewi Durga penuh amarah dan menatap Komandan Singa."


Bersambung...


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Like


Komen,


Vote dan


Tambahkam ke favorite agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2