
Setelah cukup beristirahat, Deni dan yang lainnya berkumpul kembali didepan rumah pak Taufik, suasana malam yang sangat Asri, dengan kicauan suara jangkrik, sangat jauh dari hingar bingar kota.
Disitulah pak Amir membuka Serat Pepadun.
Deni mencoba menterjemahkan tulisan palawa kuno yang dia tau
"Ketika titik balik matahari, dan disaat purnama emas perlahan naik, disitulah tabir akan terbuka, sinar bulan akan menuntun penempa menuju istana merah, dan Dewi Bulan akan bertemu dengan penempanya, setelah waktunya tiba sang Dewi akan bertemu dengan tuannya.
Dewi bulan adalah pasangan yang sangat cocok untuk Dewi Pedang, penempanyalah yang akan menuntun Dewi Bulan bertemu Dewi Pedang."
Aku masih belum mengertu apa maksud dari tulisan ini, kata Astagina dan panglima kumbang didalam pikiran Deni, sementara Asep terus mengawasi sekitar tempat itu.
Ia menggunakan mata halimunnya untuk menatap jauh keliling tempat tersebut.
'Cari apa lho, kata Dika berkata pada Asep.'
Gua cari sesuatu yang berhubungan dengan Istana
'Nak Asep menggunakan mata lain untuk melihat nak Dika, orang biasa pasti hanya meanggap nak Asep seperti orang bingung, kata Ustad Amir menjelaskan apa yang sedang dilakukan Asep.'
"Ketemu kata Asep dengan wajah sumringah, aku melihat gua yang telah lama ditinggalkan, memang jika dilihat hanya seperti perkebunan karet biasa, tapi dibawah salah satu pondoknya, ada jalan tersembunyi yang jika diurut akan menuju gua di bukit kapur, letaknya lumayan jauh dari sini, terus ketimur tapi aku tau tempatnya, kata Asep yakin."
****
Ustad Amir dan pak Taufik saling berpandangan, mereka benar - benar tidak bisa mengukur kemampuan orang - orang dihadapannya, sekilas mereka seperti pemuda biasa, namun belum selsai keterkejutannya, Deni yang dari tadi diam ikut berbicara..
"Bapak tidak perlu khawatir pak, kemampuan kami masih jauh dari yang diharapkan, kami hanya pemuda beruntung yang mendapat anugrah Allah, katanya santai."
Hal tersebut sontak membuat ustad Amir menelan ludah, dia sangat terkejut dengan apa yang didengarnya Ustad Amir yang berada diposisi bidadara tanpa anugrah warna, jarang ada manusia biasa bisa merasakan apa yang dilakukannya, hal ini membuatnya merasa tidak enak hati, jelas kemampuan orang - orang ini jauh diatasnya katanya dalam hati.
'Baiklah kita istirahat dulu kata pak Sandi, kita atur rencana untuk besok pagi, setelah sholat jum'at dan makan siang, mereka semua beristirahat, Deni dan Asep menuju ruang dimensi milik Deni, mereka kembali berlatih memperkuat diri, Deni dan Asep memutuskan untuk bermeditasi, aura biru mulai bersinar terang ketika Deni memusatkan pikirannya, aura tersebut seperti melindungi tubuh Deni, begitu juga dengan Asep, aura cokalat tanah bersinar dan berputar melindunginya.'
Ketika mereka didalam kamar Ustad Amir mencoba melihat apa yang terjadi, namun ia terkejut Deni dan Asep tidak ada dikamarnya, padahal ia yakin mereka masuk kedalam kamar, dan letak jendela sangat sulit dimasuki oleh tubuh orang dewasa, kemana mereka kata Ustad Amir, ia berusaha menyapu ruangan dengan mata Halimunnya tapi hasilnya tidak ada apa - apa.
Ada apa kata pak Taufik, sepertinya kamu bingung Amir?
"Bukan yai, ini dua bujang tadi kemana ya? Hilang gak ada sama sekali kata Ustad Amir.
Masa hilang, salah kali kamu Amir kata Pak Taufik.
__ADS_1
Gak yai bener, hilang orangnya. Kalo yang dua tidur dikamarnya, yang dua lagi hilang.
***
Kembali kesisi Deni dan Asep,
Setelah hampir dua bulan diruang Dimensinya mereka menghentikan meditasinya,
Masih ada dua minggu bro, kata Deni
Mereka sengaja memperkuat batin dengan meditasi, dan mereka juga mengkonsumsi buah Tin.
"Iya bos, gua sudah bisa buat pil dan masak - masak nih kata Asep senang."
Kita memang harus tingkatin kekuatan kita, lawan kita sepertinya tidak sesederhana itu, dan sepertinya ustad Amir itu juga bukan orang biasa.
***
Tak lama panglima kumbang dan Astagina ikut bergabung.
'Ustad Amir berada diposisi bidadara tanpa anugrah warna, hal ini ia dapat karena dzikir yang selalu ia lakukan, kata panglima kumbang menambahkan, ia mencoba mencari tau siapa kalian, tapi ia ada dipihak yang baik, aku sudah berbicara dengan kyai Jabat, ia meminta kalian memberikan buah Tin kepadanya dan pil penguat jiwa tingkat 1 ini, sambil menyerahkan pil putih ketangan Deni.'
'Tenang saja nak Asep, kyai Jabat sudah menjaminnya, insya Allah mereka ada dipihak yang baik, aku pergi dulu Assalammualaikum.'
Waalaikumsalam, dijawab serempak orang ketiganya.
Astagina masih mendampingi Deni, ia tersenyum bangga melihat tuannya.
Baiklah nak Deni, aku juga harus pamit, kami akan selalu menjaga nak Deni kata Astagina.
Setelah Astagina pergi, Deni dan Asep memutuskan keluar ruang Dimensinya.
****
Didunia nyata.
Pak Taufik dan Usatad Amir masih menunggu, tak lama Sandi dan Dika keluar dari kamarnya, tak lama berselang Deni dan Asep juga keluar dari kamarnya, namun wajah mereka terlihat lebih segar dan aura mereka lembut dan menenagkan.
Sudah pada bangun nih, kata pak Taufuk berbasa - basi.
__ADS_1
Sudah pak, alhamdulillah kata mereka bersamaan.
Ya sudah sholat Ashar dulu, nanti waktunya habis kata pak Taufik.
Kebetulan aku dan Asep sudah sholat Ashar pak, mungkin pak Sandi dan Dika yang belum, jawab Deni singkat.
Pak Taufik dan Ustad Amir saling pandang, benar apa yang dibilang Amir, orang - orang ini benar - benar keluar, tapi lewat mana, kata pak Taufik dalam hati.
****
Waktu terus berjalan dan malam telah berganti, Setelah sholat isya, mereka berkumpul diruang tengah rumah pak Taufik
"Aku ingin berbicara pada semuanya, pak Sandi, dan yang lainnya mulai serius mendengarkan."
Ini adalah pil penguat jiwa tingkat 1, silakan diambil masing - masing satu butir, Deni meleyak kan enam butir pil penguat jiwa, dan sebelum mengkonsumsi pil itu, makanlah dulu ini, Deni kembali mengeluarkan buah tin dan diletakkan diatas meja.
"Ustad Amir dan pak Taufik benar - benar terkejut, Deni dengan mudahnya memberi mereka buah surga dan pil penguat jiwa."
Siapa sebenarnya kamu nak, kata Ustad Amir mulai bertanya.
Aku hanya pemuda yang perduli pada sejarah pak, kata Deni sambil tersenyum, makanlah dulu setelah makan baru kita bicara dan atur rencana untuk besok."
Tak menunggu waktu lama, mereka langsung makan setelah mendengar instruksi Deni.
Tak lama rasa hangat menjalar disekukur tubuh mereka, mereka merasakan tubuh mereka jauh lebih segar, lalu mereka memakan pil penguat jiwa dan hal yang diluar dugaan mereka rasakan, mereka merasa kekuatan mereka semakin meningkat, Ustad amir yang sebelumnya ada ditingkat bidadara tanpa anugrah warna, kini memancarkan cahaya kuning disekujur tubuhnya, sementara pak Taufik memancarkan aura merah terang.
Apa yang sebenarnya kau berikan pada kami nak, aku merasa banyak pengetahuan tergambar diotakku, pengatahuan yang belum pernah aku miliki, kata pak Taufik
Bersambung
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Like
Komen,
Vote dan
Tambahkan ke favorite dan bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...
__ADS_1