
(Perjalanan Menuju Gunung Krakatau 1)
Semua yang ada disana sampai harus menyalurkan tenaga dalam untuk menahan besarnya aura yang semakin mendekat, beberapa dari mereka ada yang sampai tidak sadarkan diri karena tidak mampu menahan aura besar itu, para jin tingkat rendah bahkan harus pergi menjauh karena tidak tahan dengan hawa mistis mustika kedewataan tersebut
"Apa - apaan ini, hawa kehadirannya bisa sekuat ini, kata Kanjeng Ratu Kidul.
Ketika ketiganya tiba disana betapa terkejutnya mereka melihat Deni dan Asep menggunakan Jubah Perang Naga dalam legenda.
Semua mata tertuju pada mereka, hingga Batara Ismaya meminta mereka menarik aura kehadiran mereka.
"Sudah cukup waktu pamernya, kini tarik kembali hawa kehadiran kalian, kata Batara Ismaya sambil tersenyum.
Mendengar perintah Batara Ismaya, keduanya menarik aura kehadiran mereka, beserta menghilangnya jubah perang naga, hingga semua yang ada disana kembali terkejut karena mereka benar - benar tidak bisa merasakan hawa kehidupan Deni dan Asep.
Keduanya menunduk hormat pada Batara Ismaya yang mulai membuka pembicaraan.
"Masalah yang kita hadapi tidak sesederhana yang terlihat, karena masalah ini telah melibatkan tiga dunia, namun karena masalah ini sudah terjadi maka dari itu kita bersama - sama mencari solusi untuk memecahkan masalah ini.
Aku sangat bersyukur dan sangat berharap Deni dan Asep adalah anak dalam ramalan, namun kita tidak bisa menyerahkan tanggunh jawab ini kepads mereka secara penuh, meskipun sepasang mustika naga telah memilih tuannya, tambah batara Ismaya.
Semua yang ada ditempat itu hampir tidak percaya, jika sepasang mustika naga yang telah lama hilang telah berhasil menemukan tuannya...
Catatan
Bagi kalangan manusia apa lagi yang awam tentang ilmu gaib, mustika naga tidak terlalu penting, namun bagi para jin dan penghuni langit mustika naga adalah pusaka terkuat dan sangat langka, ditambah mustika naga sangat sulit ditaklukan karena konon ia akan memilih sendiri siapa yang pantas menjadi tuannya.
Jadi sekuat dan sesakti apapun seseorang, para jin dan dewa - dewa tidak akan bisa mendapatkan atau menggunakan kekuatannya tanpa izin dari sang naga.
Setelah semua duduk disana susana mendadak hening, hingga akhirnya batara Ismaya membuka pembicaraan.
"Selamat datang kembali cah bagus, semoga dengan begini kita bisa mengimbangi kekuatan Dewasrani dan para pengikutnya, namun kita tetap akan bernegosiasi untuk menghindari perang, katanya dengan sangat tenang.
"Kapan negosiasinya akan dimulai? Kata Deni singkat
(Tiga hari dari sekarang, Batara Manikmaya langsung mengirim Komandan Sugriwa untuk datang ketempat ini, seperti yang kita tau, Komandan Sugriwa hanya bertugas disaat - saat mendesak saja, jadi pasti Batara Manikmaya sedikit banyak sudah memahami apa yang di inginkan anaknya, tambah Ratu Kidul).
"Baiklah kita persiapkan semuanya dengan baik, jangan sampai kita gagal, karena jika negosiasi ini gagal, maka perang besar tiga dunia bisa dipastikan akan pecah, kata Batara Ismaya.
*****
Tiga hari berlalu dengan cepat, Istana Laut Selatan benar - benar disibukan untuk mempersiapkan tempat negosiasi yang akan menentukan nasib tiga dunia.
Mereka semua sudah berada di posisinya, kali ini batara Ismaya meminta Deni dan Asep untuk tidak menahan auranya, hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi.
Semua manusia yang hadir ditempat itu telah diberi segel pelindung untuk menahhan aura mistis kesatria naga, bapak presiden, dan para petinggi lima matra, para pasukan PASPAMPRES dan para jendral dari kalangan manusia kini tidak terpengaruh karena segel yang di tanam Batara Ismaya.
"Mereka datang, kata Deni yang sedari tadi memainkan jarinya diatas meja.
(Rombongan Bangsa Langit telah hadir, kata penjaga yang datang menghadap)
"Kawal mereka ketempat ini, kata Kanjeng Ratu Kidul.
Dewasrani berjalan paling depan, didampingi oleh Komandan Sugriwa, dibelakang mereka ikut serta Batara Kala yang mau tidak mau harus bermain peran, lalu para pasukan elit penjaga kerajaan dan, Batara Dewasrani, Batara Kala, dan Komandan Sugriwa duduk ditempat yang telah disediakan, dibelakang mereka para pasukan elit langsung bereaksi menerima aura mistis dari para kesatria naga.
Suasana sempat hening, hingga akhirnya Komandan Sugriwa mulai berbicara.
"Apakah ini yang namanya negosiasi, bukankah kemarin kalian yang berkata seperti itu padaku, tapi sekarang dua satria naga yang ikut hadir sepertinya mau unjuk gigi.
"Jangan salah paham Sugriwa, mereka berdua adalah kesatria naga yang berasal dari kalangan manusia, jadi masih belum mampu mengontrol kekuatan mereka dengan baik, aku sedang berusaha membantu menekan kekuatan mereka, katanya dengan sangat tenang.
"Apa mereka manusia? Kata Sugriwa penuh selidik?
"Benar Sugriwa, seperti yang kau lihat, para mamusia itu aku berikan segel pelindunh khusus agar tidak terpengaruh kekuatan mereka, jadi tunggulah sebentar lagi katanya lagi.
__ADS_1
"Para manusia itu benar - benar lemah tuan, sebaiknya suruh saja mereka pergi katanya sedikit mengejek.
Suasana hampir saja pecah jika batara Ismaya tidak langsung melerainya.
"Mungkin mereka memang lemah, tapi orang yang yang ada didepanmu adalah presiden di tempat ini, dialah penguasa yang telah dipilih seluruh Rakyat Nusantara untuk menjadi pemimpin, dan perlu kau ketahui, Nusantara saat ini bernama Indonesia, dan sebelahnya adalah para petinggi pasukan perang dan para jendralnya.
"Nusantara saat ini benar - benar kacau, apa kau sudah kehabisan stok raja - raja yang mumpuni sehingga orang tanpa kesaktian bisa diangkat jadi pemimpin, lalu para jendral dan petinggi pasukan perang, kau memang sungguh naif tuan, aku bisa saja menghabisi mereka semua sebelum mereka bangkit dari duduknya, katanya semakin memprovokasi.
(Coba saja kalau kau mampu, kata Deni dan Asep secara bersamaan)
Seketika aura membunuh mereka semakin pekat dan hampir merusak segel pelindung milik Batara Ismaya, bahkan Komandan Sugriwa, Batara Dewasrani dan Batara Kala sampai harus mengalirkan teanga mereka untuk meredam aura mistis itu.
Bahkan para penjaga yang ada di luar ikut merasakan aura mengerikan itu.
"Sudah - sudah bukankah kita akan bernegosiasi bukan untuk saling berperang kata Batara Ismaya dengan sedikit cemas.
Deni, Asep tarik kembali aura kalian.
Seketika aura diruangan tersebut kembali normal, dan suhu udara juga kembali normal dengan hilangnya jubah perang mereka.
Susana tampak hening seketika, dan kembali Batara Ismaya mengutarakan pendapatnya.
"Sebaiknya kau sudahi saja ambisimu itu nak, semua untuk kebaikan kita bersama, kita harus menjaga keseimbangan tiga dunia dan tidak mengganggu satu sama lain, kata batara Ismaya singkat.
"Tapi aku akan tetap berusaha untuk menjadi yang terkuat paman, aku akan tetap menjalankam rencanaku untuk memurnikan dunia ini, seperti yang paman ketahui, bahwa Nusantara ini sudah sangat kacau, tugas kitalah sebagai para dewa yang memiliki kelebihan untuk melakukan pemurnian, katanya sambil menatap tajam pada Batara Ismaya.
"Tapi akan banyak mahluk tidak bersalah dan tidak berdosa yang akan jadi korbannya, apakah itu yang kau mau nak.
"Hahaha, benar kata paman Sugriwa, paman Ismaya benar - benar naif, kita hanya melakukan tugas kita paman, apa lagi, dan perlu paman ingat untuk mendapat sesuatu yang besar ada hal besar pula yang harus dikorbankan tambahnya sambil tersenyum
"Tapi aku lebih senang mengambil jalan tengah, tanpa harus berperang, keculai memang sudah tidak ada pilihan laim kata Batara Ismaya dengan sangat tenang.
"Berapa kalipun aku berkata sepertinya kita akan selalu bersebrangan paman, baik akan aku kabulkan keinginan paman tapi dengan beberapa syarat.
"Bawakan aku Palem Pertonggo Jiwo, Jambu Diponirmolo, dan Anggur Sarangan.
"Apa hanya itu nak? Jangan sampai kau mengingkari janjimu jika kami bisa menyediakan buah yang kau minta, katanya dengan serius.
"Kau bisa memenggang janjiku paman, aku akan menghentikan semua ambisiku jika buah itu bisa kalian bawa kehadapanku.
"Sejujurnya tidak sembarangan buah - buah itu bisa didapatkan tapi baiklah aku akan membujuk dan memintanya langsung pada Sang Hyang Batara Narada, tunggulah disini kata Batara Ismaya.
"Jika paman yang mengambilnya, maka itu terlalu mudah, seperti yang aku katakan untuk mendapat hal besar maka pengornananyapun haruslah sepadan, aku ingin dua manusia dengan anugrah satria naga itu yang melakukannya, dan harus dilakukan dengan topo ngrame, katanya lagi.
Seketika suasana diruangan itu menjadi kembali memanas, karena mereka sadar hal itu hanyalah akal - akalan Batara Dewasrani agar ia bisa lebih mudah memicu perang.
Batara Ismaya mulai terpancing amarahnya, bagi para dewa saja agak sulit mendapatkan ketiga buah tersebut, apa lagi jika manusia yang datang kesana, ditambah sikap Batara Narada yang tidak mudah percaya membuat hal itu semakin sulit saja, namun Batara Isamaya berusaha tetap tenang
"Nak apa kau lupa di mana ketiga buah itu berada?
"Aku sangat ingat paman, ketiga buah itu adalah buah kedewataan yang hanya ada di alam jawoto, dimensi kahuripan tempat para dewa bersemayam.
"Lalu kenapa kau masih meminta mereka untuk mengambilnya, jelas - jelas hal itu sulit dilakukan.
"Bukankah paman sendiri yang selalu berkata pada para raja di Tanah Jawa, selalu ada jalan jika kita mau berusaha, anggap saja ini adalah ujian untuk mereka, apakah mereka layak menyandang gelar Kesatria Naga
Biar aku permudah, karena mereka berasal dari alam manusia aku akan memberi mereka waktu selama satu tahun dan selama mereka melakukan topo ngrame dan menghindari kecurigaan kalian, aku akan tinggal di istana laut selatan didalam pengawasan ketat kalian, cukup adil kan, tambahnya.
Mendengar keputusan Batara Dewasrani mereka sedikit bingung, tapi setidaknya perang besar tiga dunia masih tertunda, meskipun mereka juga yakin, perang bisa pecah kapan saja.
(Baiklah kami akan berangkat, kata Deni dan Asep, secara bersamaan)
"Nah mereka sudah setuju lalu apa lagi yang perlu kalian khawatirkan.
__ADS_1
"Kau benar - benar telah melewati batas nak, kata Batara Ismaya sambil menggeleng.
(Lalu tapa macam apa yang harus kami jalani, katanya mereka berdua dengan sangat yakin).
"Sepertinya jalan takdir sudah menuntun mereka sampai sejauh ini, topo ngrame adalah topo yang berbeda dari topo kebanyakan cah bagus, jika pada umumnya topo atau bertapa di lakukan di tempat tertentu, hal itu tidak berlaku untuk topo ngrame, kata Kanjeng Ratu Kidul.
(Lalu kami harus melakukan apa? Tambahnya).
"Sesuai permintaan Batara Dewasrani, kalian harus berjalan kaki, lalu selama melakukan topo ngrame, kalian harus menanggalkan semua kemewahan kalian, semua anugrah yang kalian dapat dan benar - benar menjadi orang biasa.
"Selama perjalanan kalian akan bertemu dengan banyak hal, kalian harus mau membantu sesama mahluk tuhan, jadi bukan hanya sesama manusia, tambah Batara Ismaya.
"Dan selama membantu, jangan pernah memunjukan kesaktian kalian pada manusia, bantulah selayaknya kalian membantu manusia, jadi jangan pernah berpikir menghajar atau melukai orang lain selama perjalanan kalian apapun alasannya.
Setelah mendapat wejangan dari Kanjeng Ratu dan Batara Ismaya, mereka merasa setahun ini akan dilalui dengan sangat panjang dan berat.
(Lalu kearah mana kami harus berjalan, kata mereka bersamaan).
"Sebenarnya ketiga buah itu tumbuh disemua alam Jawoto namun pada saat ini ketiga buah yang sudah siap panen ada di Puncak Gunung Krakatau yang ada di Selat Sunda, tambah Batara Ismaya.
'Apa aku tidak salah dengar? Kata petinggi angkatan darat?
"Tidak tuan, buah - buah itu memang tumbuh di hampir semua alam Jawoto, tapi bukan seperti di alam manusia, buah - buah itu hanya bisa di panen setelah seribu tahun sekali dan saat ini di Puncak Gunung Krakatau buah yang telah siap panen, tambahnya).
'Jaraknya dari kota Jogjakarta menuju ke Selat Sunda cukup jauh, dengan mobil saja paling cepat satu hari perjalanan, apa lagi dengan berjalan kaki, mungkin bisa satu bulan atau lebih, terlebih mereka juga harus membantu orang - orang yang mendapat kesulitan, itu akan memotong waktu mereka, tambahnya.
"Maka dari itu Batara Dewasrani memberi waktu hingga satu tahun, pastinya itu akan menjadi perjalanan panjang untuk mereka, karena bukan hanya manusia, bahkan jika ada mahluk dari dunia bawah kalangan demit, jin, dan memedi yang meminta pertolongan mereka tidak boleh menolaknya.
'Apa bangsa jin masih butuh pertolongan? Katanya bertanya dengan serius.
"Sejatinya kita semua sama tuan, hanya dimensi saja yang berbeda, namun kewaskitaan mereka telah terbuka jadi mereka juga bisa melihat dan berinteraksi dengan para mahluk dunia bawah, tambah Kanjeng Ratu.
'Pantas saja waktu yang diberikan sampai setahun, semoga mereka bisa mendapatkannya.
(Tapi ada masalah lain, aku tidak di izinkan menghubungi Batara Narada, sehingga mungkin akan terjadi persinggungan, dan jika mereka tidak bisa meyakinkan Batara Narada maka bisa dipastikan mereka berdua akan gagal, tambah Batara Ismaya.
'Jadi sebenarnya, petinggi angkatan darat menggantung perkataannya dan tidak melanjutkan kata - katanya.
"Sekarang apa kalian paham tuan - tuan, hal ini hanyalah alasan agar Batara Dewasrani bisa memicu perang kapan saja, kata Kanjeng Ratu sambil menarik napas panjang.
(Sudahlah waktu kami tidak banyak, sebaiknya kami segera mempersiapkan diri dan berangkat kesana, kata mereka bersamaan).
Setelah meletakkan semua kemewahan duniawi, Deni dan Asep dibekali makanan khusus yang biasa di pakai oleh tentara lima matra untuk berperang.
'Pergunakan dengan bijak, kalian hanya perlu menambahkan air, satu atau dua sendok saja, itu sudah mampu menahan lapar lebih kurang satu minggu kata petinggi lima matra, mengingat kalian tidak boleh dibekali uang dan sebagainya, hanya ini yang bisa kami bantu.
(Terima kasih banyak Jendral, ini sudah lebih dari cukup, kata mereka bersamaan)
Setelah mendapat anugrah kesatria naga, mereka terlihat lebih tenang dan berkarisma, namun kini mereka harus menanggalkan semuanya.
Hanya pakaian yang menempel di badan, tas ransel butut dan topi khas prajurit yang mereka kenakan, mereka berjalan di antar menuju pintu gerbang Istana Laut Selatan.
****
"Bos kita harus bisa saling mengingatkan kata Asep berkata pada Deni.
"Yah setidaknya perang masih bisa di tunda, dan setidaknya untuk sementara aman bro.
"Semoga mereka tidak membuat Dewasrani marah, kata Asep sambil berjalan mendahului Deni.
Sepasang sahabat itu memulai petualangan barunya mencari buah kedewataan, demi menyelamatkan Nusantara.
Bersambung.
__ADS_1
Selamat pagi para pembaca, mohon maaf sebesar - besarnya karena baru bisa Update lagi, semoga masih setia mendukung SPN jangan lupa untuk komen dan votenya untuk kedepannya author akan berusaha bisa update tepat waktu, terima kasih untuk semua doa dan dukungannya