Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 51 - Tiba di Jakarta


__ADS_3

^Ud Den iyain aja biar cepet, jangan dibantah, emak - emak dimana - mana sama Den, repot lawan emak - emak mah kata Barra didalam pikiran Deni.^


(Heeem nasib - nasib, kata Deni sambil menggeleng)


*****


Setelah selesai makan mereka berencana berbelanja.


Hari ini Ratna gak bisa ikut mas, ada tugas dari sekolah besok harus dikumpulkan, have fun aja ya kakak cantik nanti jika memang bisa Ratna Nyulus deh, oh iya kak jagain mas Deni kalo nakal jewer aja kupingnya.


"Beres dek, siap itu mah kalo Deden berani macem - macem pindah alam dia, diselangi tawa oleh mereka semua hahahaha."


****


Selepas sholat isya mereka berangkat ke mall KoKas (Kota Kasablanka) suasana mall malam itu cukup ramai kebetulan malam minggu jadi suasananya riuh dengan berbagai aktivitas anak muda.


Mereka tiba dengan dua mobil, hal tidak terduga terjadi.


June, Giyana, Nun, Boa, dan Chika sangat kagum dengan suasana mall. Maklum mereka belum pernah masuk mall, jadi ya seperti itu deh...


"Apakah disini akan diadakan pertunjukan, suasananya sangat ramai kata June, yang langsung bersemangat."


Bukan memang setiap hari seperti ini, kata Deni.


"Oh gitu, ia juga melihat para wanita dengan penampilan yang belum pernah dilihatnya."


^Nah seperti yang babang Barra bilang kemarin, buat para gadis bisa belanja sepuasnya, beli dah yang lo mau beli, bebas, pilih sendiri ya model baju yang disuka.^


Ok babang Barra jawab para gadis serempak.


'Bay the way, babang Barra uangnya dari mana ya, kata Boa yang mulai buka suara.'


Ye dedek Boa jangan khawatir, anak Dewa masa miskin hahaha, sudah jangan pake mikir, sambil menyerahkan lima kartu Debit platinum pada para gadis, nanti ketika bayar tunjukan saja kartu itu, tenang uangnya gak terbatas, kata Barra santai


"Wuih babang Barra ternyata Sultan, eh gini bang, aduh gimana ya kata Asep agak malu - malu."


Kenapa lo Ki, mau juga ya?


"Gimana ya kalo dikasih ya mau bang, kalo bisa yang tidak terbatas juga kata Asep sambil nyengir."


Ok Ki apa sih yang gak gua kasih buat lo ki, sambil melemparkan kartu Debit paltinum ke Asep, buat lo juga ada jatah nya bos Deden santai.


*****


Oh iya para gadis mau jalan sendiri - sendiri atau gimana, kalo mau pergi sendiri kita kumpul di titik ini dua jam lagi, karena para lelaki tampan mau tebar pesona dulu hehehe


Akhirnya mereka bersepakat untuk berpisah, para gadis jalan sendiri, dan tiga lelaki koplak jalan sendiri.

__ADS_1


^Wah enaknya kita belanja juga Ki, cari baju - baju kece biar koplak tetep kece hahaha.^


'Bos kan lo yang sering belanja bos, ayoklah bantu kita - kita yang jarang belanja ini kata Asep.'


Boleh Kuy lah Cus, kata Deni


Mereka pergi keliling dan memeilih beberapa pakaian, mereka juga tidak lupa membeli ransel besar untuk persiapan naik ke Tambora, perlengkapan pendakian dan kebutuhan yang mereka butuhkan.


****


Disisi para Gadis, beruntung mereka bertemu Ratna di mall


"Ratna kata Giyana yang melihatnya sedang berjalan sendiri."


Loh kakak Giya, dan kakak - kakak yang lain, eh ada kakak ipar juga, mau ngapain nih.


'Mau belanja dong masa mau rebahan, tapi bingung nih, maklum belum pernah main ke mall, kata June.'


Mau ditemenin gak?


"Mau dong tapi gimana tugas kamu, apa tidak apa - apa ditinggal?"


Gak apa - apa sudah selsai, yuk aku kasih tau tempat yang ok, kata Ratna akhirnya para gadis berjalan ketoko langganan Ratna.


Tapi sampai ditoko, ada teman Ratna yang nota bane sebagai anak orang terkaya ditempat itu.


"Wuih ada Tikus Tanah disini, mau belanja lo, kata Sri yang memandang rendah pada Ratna dan kelompoknya."


Ratna hanya ingin menghindar agar tidak terjadi selisih. Ketika mereka beranjak pergi celoteh Sri membuat June dan Giyana naik pitam.


"Nah gitu tau diri, orang miskin kaya lo gak pantes ada disini, bawa pergi sekalian kelompok pengemis ini ya, bikin sepet mata, disusul tawa oleh kelompok Sri."


^Siapa yang lo sebut pengemis cewek kerempeng?^


Nun dan Boa yang mencium gelagak tak baik langsung mengubungi Batara Kala, mereka tau bagaimana sikap ketua mereka saat marah.


****


Tuan Kala maaf, disini terjadi masalah, cepatlah kemari.


"Mereka dalam masalah ayo kita segera ketempat mereka."


Mereka langsung menuju tempat June dan para Gadis.


****


Kembali Kepara Gadis.

__ADS_1


Memang disini ada siapa lagi, lihat penampilan kalian, ud kaya orang kampung baru pulang dari sawah.


"Eh cewek somplak, kalo gak ada orang kampung yang nanam padi, yakin lo bisa makan, dasar beban keluarga."


Lo tau ini butik punya nyokap gue, jadi hak gue dong gak mau ada pengemis ditempat gue.


"Iblis betina, panggil nyokap lo gua bayar ni tempat se elonya sekalian,"


Hellow seluruh Kokas juga tau kelles, Sri Puji Astuti Hadi Ningrat Orang paling tajir melintir, gak seperti anak dokter itu, baru juga punya rumah sakit kecil sok - sok an.


"Kutu aer ni cewek, dibiarin malah ngelunjak."


Ketika perdebatan terjadi orang tua Sri keluar dan mencoba menenangkan.


****


Ada apa ini kata pak Hadi ayah Sri.


"Romo ini lho orang kampung ini ganggu aja, pake mau beli butik kita lagi, sudah kaya kebanyakan uang aja, kata Sri dengan nada sewot."


Maaf apa benar yang anak saya bilang mbak.


'Didik yang bener pak beban keluarga itu, jangan sampe buat malu, kata June dengan tatapan dingin.'


Heh orang kampung, hati - hati ya jika bicara, saya sudah mendidik anak saya dengan baik, jika kamu memang mampu bayar toko saya, saya akan pulang pakai celana kolor, orang miskin saja belagu, kata pak Hadi yang terpancing emosinya


'Oke gua pegang kata - kata lo ya, dia mengeluarkan kartu debit pemberian Batara Kala.'


Sontak pak Hadi yang menganut pesugihan sangat mengenal kartu Debit Alam Gaib itu, dan yang membuatnya terkejut disitu tertera stempel Kerajaan Dasar Bumi, siapa mereka ini, apa salah satu dari abdi Dewi Durga, pantas aja sombong kata pak Hadi.


Tapi aku belum pernah melihat kartu tersebut, paling - paling mereka dari kalangan rendah, baiklah aku akan mempermainkannya, sambil tersenyum sinis.


****


Baiklah nona mari ikuti saya, kita lakukan pembayaran dan lihat apakah anda benar - benar bisa membayar seluruh barang ditoko kami, total keseluruhannya adalah empat miliyar delapan ratus juta, mari kita kekasir, satu lagi jika anda tidak bisa membayar maka anda harus melakukan hal yang sama.


Ok Deal. Pak Hadi dan June bersalaman


Untung disaat tersebut Deni dan kelompoknya tiba.


^Pakai kartu ini saja aku yang membayar untuk adik kecilku, kata Batara Kala.^


June yang melihat mereka disini akhirnya bisa tenang.


^Mereka perlu diberi pelajaran kata Barra dalam pikiran mereka.^


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan

__ADS_1


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibu dab Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2