
Akhirnya aku setuju untuk tinggal dilingkungan keraton, aku bertugas sebagai orang kepercayaan sri sultan, aku berserdia tinggal dilingkungan keraton dengan syarat kami harus saling membagi pengetahuan tentang kitab masing - masing.
Butuh waktu lama untuk kami bisa memahami ajian tersebut, hampir dua puluh tahun kami mempelajarinya, kitab Serat Kama Sutra dan Kitab Batu Langit. Kedua kitab itu benar - benar berisi ilmu pengetahuan yang luar biasa, disana juga tertulis tatanan membangun sebuah kerajaan, mempersiapkan pasukan hingga cara bertahan, itulah sebabnya Keraton Jogja tidak pernah tersentuh oleh penjajah dari Tanah Eropa.
Dimana banyak kerajaan - kerajaan mulai hilang dan musah, Keraton Jogja dan Keraton Solo tetap ada sampai saat ini dan sampai kapanpun mereka tidak akan bisa menyentuh atau mengusik Keraton Solo apa lagi Keraton Jogja. Jika leluhurmu mau, ia bisa menguasai dan menaklukan seluruh Tanah Nusantara atau bahkan seluruh dunia, namun kerendahan hati Sri Sultan yang berprinsip tidak mau mengusik selama tidak diusiklah yang membuat hal itu tidak terjadi.
Keinginan leluhurmu sangat sederhana, ia hanya ingin agar keraton yang dibangun oleh leluhurnya, tetap terjaga tak lekang oleh waktu, dan tetap melestarikan budaya dan kearipan lokal. Dengan Kitab Serat Kama Sutra, dan kecerdasan luar biasa yang dimilikinya, tidak membuatnya jumawa, ia tetap menjadi raja yang rendah hati dan selalu memikirkan rakyatnya, itulah yang terus terjaga hingga saat ini di Keraton Jogja.
Namun semakin kami menguasai pengatahuan itu, kami semakin takut, jika kitab itu jatuh ketangan yang salah, setelah melewati semuanya, aku memutuskan keluar dari keraton, saat Sri Sultan turun tahta, dan digantikan penerusnya, dan aku memilih menjauh dari kehidupan pana ini, sambil terus mengawasi semua keturunan keluarga Wijaya.
Namun hal yang membuatku terpukul adalah berita mangkatnya Sri Sultan, hal itu seharusnya tidak terjadi, karena dalam kedua kitab itu terdapat rahasia hidup abadi.
"Apa yang empu Jatmiki maksud adalah Rahasia Air Aritma Soma?", kata Sultan Jogja.
"Jadi kau telah membaca seluruh kitab itu ya, apa kau sudah memahaminya?
"Belum sepenuhnya empu Jatmiko, karena dalam Kitab Serat Kama Sutra hanya berisi kutipan - kutipan dan sajak - sajak dengan bahasa yang terkadang sulit aku mengerti", kata Sultan Jogja sambil menggeleng.
"Sepertinya kau tidak sebaik leluhurmu, disana tersimpan rahasia seluruh ilmu pengetahuan, ilmu perang, kebatinan, dan masih banyak lagi, kemampuan masing - masing orang dalam menterjemahkan kitab itu bisa seperti dua sisi mata uang, saling bersebrangan namun saling melengkapi.
Kami menemukan tempat itu juga berdasarkan petunjuk dari kitab itu, tempat dimana kami mempelajari ajian telarang itu, ajian yang pernah diciptakan oleh seorang mahapatih yang tanah jawa yang sangat setia kepada rajanya, namun seperti kata pepatah.
(Jika kau menginginkan sesuatu yang besar, ada hal yang harus rela kau korbankan, semakin besar hal itu maka jumlah korbanpun akan berbanding lurus).
"Maaf kakek, jika aku menyela, tapi ada baiknya kita segera pelajari kitab itu", kata Deni dengan penuh hormat.
__ADS_1
"Sepertinya kau masih harus banyak belajar cucukku, kau tau apa maksud kutipan terakhir", kata kakek Jatmiko menatap tajam kearah Deni.
Deni hanya menggeleng, pikirannya menerawang entah kemana, ia masih mencoba mencerna apa maksud dari kutipan yang disampaikan kakeknya. Hingga akhirnya Sultan Jogja membuka suara.
"Ada harga yang sangat mahal yang harus kau bayar nak, percayalah semua tidak sesederhana pikiranmu, sekaya apapun dirimu, tidak semua hal bisa dibayar dengan uang, apa kau siap", kata Sultan Jogja yang juga menatap tajam pada Deni.
Semua yang ada ditempat itu terdiam, semua belum berani berkomentar, semua masih larut dalam pikiran masing - masing, baik para manusia, para penghuni langit ataupun penghuni dunia bawah semua terdiam seolah waktu berhenti sejenak.
*****
Kembali kesisi Terawan.
Sudah dua hari sejak sang prabu melakukan tapa brata, tidak ada yang berani mengusiknya, termasuk Terawan sekalipun, Ajian Jerat Jiwa memang sangat hebat, namun ia masih belum mampu mengendalikan mereka semua, butuh tenaga besar dan juga konsentrasi penuh.
Sial aku sudah mengorbankan semuanya, aku tidak mau gagal disini, tapi mengendalikan empat orang hebat dimasanya bukanlah perkara yang mudah, aku tidak boleh terus bergantung pada pil pemulih energi itu, aku harus segera mencari cara mengendalikan mereka semua sesuai kehendakku, katanya dalam hati.
"Apa kau pikir aku senang bersandiwara, tapi mau bagaimana lagi, mengendalikan mereka sekaligus benar - benar membuatku sakit kepala, satu hal yang harus kau tau, jika mereka sampai sadsr telah dikendalikan mereka bisa berbalik menyerang kita, jadi cepat temukan kitab - kitab itu", kata Terawan dengan sedikit kesal.
"Baik yang mulia, aku sudah menyebar semua anak buahku, namun pergerakan kita benar - benar terkunci, pasukan gabungan TNI - POLRI membuat pergerakan kita semakin sulit, mereka membatasi akses masuk keseluruh area Mojokerto, setiap perbatasan dijaga pasukan bersenjata lengkap, mereka juga terus mencari jalan masuk rahasia, itulah sebabnya aku belum mau menggunakan terowongan penghubung", kata Respati.
"Sial pergerakan kita sudah terbaca, untung saja aku sudah menanam jurus pembunuh yang akan aktiv jika mereka mau buka mulut, sementara bertahan adalah pilihan terbaik, sambil menunggu informasi dari Dewasrani sebaiknya jangan lalukan apapun".
"Baik yang mulia, Respati menerima perintah", katanya sambil mengakhiri pembicaraan.
*****
__ADS_1
Kembali kesisi Deni.
"Aku sudah melangkah sampai sejauh ini kek, izinkan aku mempelajari ajian itu, tolong bimbing aku", kata Deni sambil berlutut.
"Aku sudah pernah kehilangan saudara terbaikku, orang yang sangat aku sayangi dan sangat aku hormati, berpikirlah kembali jangan turuti hawa nafsumu nak, karena hal itu hanya akan menjadi mala petaka", kata Kakek Jatmiko yang berjalan masuk kedalam gua tempat bersemayamnya Ruh Naga Air.
"Jadi bagaimana baiknya, waktu terus berjalan", kata Bapak Presiden denga nada cemas.
Sementara Ustad Hadi dan Lee masih terus membuat skema kemungkinan yang bisa terjadi, mereka bersama pemimpin tertinggi lima matra terus memutar otak untuk mencari jalan terbaik.
Sebagian dari mereka telah menerima pil peningkat tenaga dan pil pemulihan, Asep terus membuat pil peningkat tenaga untuk dibagikan kepada seluruh pasukan Gabungan TNI - POLRI, mengingat banyak pasukan yang tidak mampu menahan kuatnya aura Batu Mustika Prabu Hayam Wuruk.
Sementara Sultan Jogja kembali membuka Kitab Serat Kama Sutra, ia membaca kitab itu dengan lebih teliti, dibantu Sultan Solo mereka mencoba menterjemahkan kitab itu.
"Bahasa ini terlalu tua kakang, sepertinya aku perlu tapa brata untuk sementara waktu", kata Sultan Solo.
Mungkin sebaiknya aku juga melakukannya adik, harapan kita adalah empu Jatmiko mau membimbing cucunya untuk mempelajari kedua ajian tersebut.
Sementara sebaiknya kita melakukan tirakat untuk minta petunjuk pada sang pencipta", kata Sultan Jogja.
Waktu terus berjalan, semua sibuk dengan aktivitas masing - masing, mereka semua berusaha mencari cara untuk mengembalikan Sang Prabu dan orang - orang yang dihidupkan kembali.
Bersambung....
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
__ADS_1
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...