
^Cie - cie diaduin ki, atut babang ki kata Barra dan asep yang terus meledek Deni dan June.^
Setelah hampir satu jam mereka mendarat di Bandara Soekarno - Hatta, butuh waktu sejam bagi mereka untuk sampai ditujuan.
****
Dalam perjalanan ke Jakarta June lebih memilih didekat Deni, ia bahkan sudah tidak segalak sebelumnya.
"Den tempatnya masih jauh Kata June memecah suasana yang sejak tadi hening."
'Sudah dekat kok, kita sama pak Sandi kan pisah, pak Sandi dan Bima mau langsung ke kantor, sementara gua mau ajak lu pada pulang dulu, gak mungkin kan kita kekantor kaya mau pindahan katanya singkat.'
"Oh nanti kita tinggal dimana, apa boleh gua sama yang lain nginep ditempat lo."
^Memang mau tinggal dimana lagi, ya tempat bos Deden dong kata Barra yang menggu kedekatan mereka, bener gak bro Deden?^
'Siap babang Bar - bar, beres sudah gua bilangi nyokap gua, tapi maaf nih kalo tempatnya kurang berkenan, kata Deni sambil tertunduk.'
(secara yang dia tau yang dijamunya adalah dewa waktu, maha patih dan para bangsawan langit?
^Masalah itu kagak perlu khawatir bro, tingga lo ajarin tu Yayang Jujun jangan sampe buat malu di mall nanti, awas aja dia minta gendong naik eskalator, kata Barra dengan nada meledek.^
Seketika June naik pitam, sebuah tinju keras telak menghantam perut Barra
"Jangan karena lo Dewa lo bisa seenaknya ya, kata June dingin."
'Eh serius lo mukul Bar, belum selsai Deni bicara, sebuah tamparan kembali mendarat di pipinya'
"Lo harusnya belain gua Deden, bukan dewa laknat itu, ya ampun jika bukan karena misi ini aku tidak akan terjebak disini.
'Eh kok gua ikut dipukul, kata Deni protes.'
"Mau lagi, kata June dingin."
^Buset bener kata orang cewek kalo lagi halangan jangankan Dewa, setan lewat setannya yang takut, Den bini lo galak banget ya, gua dewa sudah hilang harga dirinya, sabar - sabar aja lo ya bini lo galaknya tingkat dewa kata Barra yang masih memegangi perutnya yang sakit karena pukulan June.^
"Ya ampun apa benar dia anak Dewi Durga? Dia sama bodohnya dengan mereka berdua."
*****
Setelah satu jam perjalanan mereka tiba dirumah Deni, mereka berpisah dengan pak Sandi dan Bima
Dirumah mereka sudah disiapkan tempat, mereka menempati rumah disebelah tempat tinggal deni, terdapat lima kamar disana, sementara pak Taufik dan ustad Amir menempati rumah disebelahnya lagi
****
__ADS_1
Wuih bos Deden worang kaya ya kata Barra memuji Deni, hebat lo bos Deden.
Selamat datang digubuk kecil kami perkanalkan saya ibunya Deni, kata ibu Deni yang kebetulan sedang ada dirumah.
"Wah ibu ini terlalu merendah, rumah besar dan mewah gini dibilang gubuk, gimana rumah saya di kampung kata Bara sambil tersenyum.
Perkenalkan saya Barra bu teman bos Deni, kata Barra sambil sungkem mencuim punggung tangan ibu Deni, di ikuti oleh yang lainnya."
Kalian anak - anak yang sopan dan baik, cantik - cantik lagi ceweknya, Den yang mana cewek kamu, kata ibu?
"Asep dan Barra bersamaan langsung menunjuk June, itu bu yang pakai baju merah.
June jadi salah tingkah hingga wajahnya merah."
Wah cantik bener, ibu Deni langsung menggandeng June, ia terpaksa mengikuti ibu Deni.
"Wah langsung Acc nih kata Barra dan Asep, aseeek makan - makan..."
(Kalian semua dengarkan aku, selama didunia manusia jangan pernah gunakan kekuatan gaib kalian, jangan sampai misi kita gagal, kalian adalah wanita - wanita hebat, kata Barra didalam pikiran mereka, hal tersebut juga berlaku buat lo sama bos Deden Ki ok, inget kita harus kompak.)
****
Sesampainya didalam rumah
"Ratna kemari nduk, beri salam sama kakak iparmu dan juga teman - temannya."
'Sue ni bocah, kata Deni sedikit kesal, lo lihat deh cantikan lo apa cewek gua.'
Wuiih mbak saat ini sadarkan, bertanya pada June, gak terbentur kepalanya.
"Memang kenapa ya, apa ada yang salah.?"
Wah bener nih, dukunnya aa Asep manjur yang di sambut tawa oleh Barra dan Asep"
^Siapa dulu donh Asep Tea kata Barra yang kembali memecah suasana ditempat itu.
****
Setelah berbasa - basi mereka menempati kamar yang telah disediakan, mereka juga menikmati Soto Betawi buatan ibu Deni.
Wah ibu pinter masak ya, kata June memuji ibu Deni, makanan ini enak sekali, aku belum pernah makan - makanan seenak ini tambahnya.
Jika ibu senggang boleh dong ajari June masak makanan ini.
"Bener itu nduk, makanan ini favorite bojomu, harus bisa tuh June masak makanan ini, ini sih resep ibu jaga rumah tangga kata ibu Deni yanv asik bercengkrama dengan June."
__ADS_1
^Akur tu demit sama nyokap lo Den, kata Barra yang melihat keakraban June dan ibu Deni, baguslah gua jadi penasaran kako bangsawan langit dan manusia sampe kawin anaknya bagaimana ya?^
Oh iya kamu gak punya baju lain apa June, dari tadi cuma ada kaos dan celana Jeans doang?
"Rencananya nanti mau cari bu, bareng sama teman - teman maklum dikampung ndak ada mall bu kata June dengan lembut."
Den kamu ajak June ke mall ya belanjain dia, habis makan pergi sono ke mall, biar mantu ibu ada baju ganti, kata ibu Deni dengan tersenyum.
Pinter kamu den cari mantu, orangnya cantik, lemah lembut, mau belajar, pinter lagi, wes ibu wes cocok, tinggal bapakmu yo le.
(Kata - kata barusan sontak membuat Deni hampir kena serangan Jantung, lemag lembut dari mana, lah tiap kali gua di tampol, duh terjebak gua nih, babang Barbar bantuin napa bang)
^Ud Den terima aja, setidaknya June baek kalo ada nyokap lo, kalo gak ada ya habis lo dibuatnya hahaha^
"Sudah selsai nih membuliku, kata June didalam pikiran semuanya."
^Waduh ampun dah gua gak ikut - ikutan, tu si Deden no gak percaya kalo lo lemag lembut.^
Tiba - tiba June menatap tajam pada Deni, hal itu juga disadari oleh ibu Deni.
Kenapa nduk, ada yang salahkah dari Deni?
"Gak sih bu, cuma sedikit kesel, ibu baik banget tapi Deni nyebelin, tadi dibandara sempat main mata dengan cewek lain bu, didepan aku lagi bu kata June agak memelas."
Terus June diem aja gitu?
"Ya aku tampar sih bu, tapi apalah saya June hanya wanita lemah bu, kata June sambil menjulurkan lidahnya."
(Lah sue ni Demit, gak bener nih kata Deni sambil membela diri)
Bukannya mendapat pembelaan, sontak membuat sendok yang dipegang oleh ibu Deni melayang tepat ke Jidatnya.
Ngger ojok koyo embah kung mu lho yo, wes enek seng ayu, arep golek goro, sak iki tak sawat sendok, mene - mene dibaleni tak sawat lading mari awakmu (Nak kamu jangan seperti kakekmu ya, sudah ada yanv cantik mau macam - macan, sekarang ibu lempar sendok, besok - besok pisau yang melayang jika masih diulang) kata ibu Deni dengan nada Ancaman.
Sontak hal itu membuat senua terkejut, tak terkecuali Batara Kala
(Ye bu jangan dengerin ini cewek bu, ini cewek bahaya)
Wes nduk besok - besok kalo si Deni berulah lapor sama ibu.
^Ud Den iyain aja biar cepet, janga dibantah, emak - emak dimana - mana sama Den, repot lawan emak - emak mah kata Barra didalam pikiran Deni.^
(Heeen nasib - nasib, kata Deni sambil menggeleng)
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
__ADS_1
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibu dab Author lebih semangat lagi, terima kasih...