Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 97 - Gerbang Jiwa 4 (Penjara Jiwa Selesai)


__ADS_3

Segel cahaya menjadi penutup serangan mereka, Asep dapat mengendalikan sisi buruknya berkat kekuatan cinta


****


Kembali ke sisi kanan, Deni yang mendapat bantuan dari Ni Sumbaga juga mulai bisa mengimbangi dan sedikit menekan sisi buruknya.


"Sial nenek tua itu benar - benar merepotkan."


Mendengar kata - kata itu, Ni Sumbaga semakin naik pitam, ia sangat benci di panggil nenek tua, ia mengeluarkan aura yang lebih kuat lagi, hingga sisi buruk Deni terpental dan muntah darah akibat pukulannya.


Melihat situasinya, Deni berusaha mencegah hal tersebut.


'Tante jangan di bunuh, kalo dia dibunuh aku juga ikutan mati tante.'


Mendengar hal itu Ni Sumbaga menarik auranya sementara sisi buruk Deni tersenyum penuh kemenangan.


Deni menyampaikan cara mengatasi sisi buruknya melalui telepati.


Sisi buruk Deni mulai mengatur kekuatannya namun belum sempat ia berdiri Ni Sumbaga telah memberi pukulan telak.


"Hei nenek tua, jika kau mau silahkan saja membunuhku, hahaha."


Sisi gelap Deni merasa Ni Sumbaga tidak akan mungkin berani membunuhnya.


Ni Sumbaga menekan sisi kanannya, sementara Deni menekan sisi kirinya, dan secara bersamaan Deni dan Ni Sumbaga membuat segel tangan.


(Lima elemen pengunci - penjara jiwa)


Sama seperti Asep seketika dari lima penjuru muncul sinar sesuai warna lima elemen, mulai dari Air, Tanah, Api, Udara dan Cahaya menghantam tubuh sisi buruk Deni dan membuat penjara jiwa.


"Siiaal sejak kapan, heeiii cepat bebaskan aku, sini kalo berani, sisi buruk Deni terus berontak ia merasa mereka berdua telah berbuat curang."


Setelah mengurung sisi buruknya pintu terbuka, ia dan Ni Sumbaga keluar dari dalam ruangan. Di luar ia telah di sambut oleh Dewi Ninda dan Ghovi.


"Ternyata temanmu lebih pintar ya, kau dua hari lebih lambat dari temanmu, kata Dewi Ninda, Dewi Ninda cukup terkejut melihat wanita disamping Deni."


'Apa? Dua hari lebih lambat? Memang berapa lama aku didalam sana, aku baru makan sebanyak delapan kali itu artinya aku baru empat hari didalam sanakan?'


"Makanan yang kalian makan itu bisa menunda lapar selama tiga hari, tambahnya sambil tersenyum."


Mendengar hal itu Deni cukup kaget, memang selama didalam ia tidak bisa memprediksi waktu, siang dan malampun entah kapan pergantiannya, yang ia tau saat makan adalah pergantian waktu.


'Lalu dimana Ki Encep.'

__ADS_1


"Dia sedang memadu kasih dengan Dewi Bulan, entah apa yang membuat mereka bisa bersama, sepertinya mereka cukup mesra."


'Whaaat didalem gua hampir mati, bisa - bisanya dia pacaran.'


Deni berjalan menuju tempat Asep, ia sedikit emosi melihat Asep dan dewi bulan makan bersama dalam satu piring.


'Eh Buset dukun cabul malah pacaran, gua didalem berjuang hampir mati ki, lo malah enak - enakan, bisa - bisa nya lo.'


Hei bodoh kenapa lambat sekali, apa wanita itu yang membuatmu jadi lambat aku pikir kau benar - benar mati.


Deni terdiam sesaat, ia sangat mengenal suara yang memanggilnya barusan, saat ia berbalik June langsung memeluknya


Deni hanya bisa mematung, ia tak tau harus berkata apa saat melihat air mata June keluar membasahi pipinya.


"Sudah keluar bos, bini lo dari kemarin galau itu, ya kan gua ceritaain yang gua alami disana, gua berjuang mati - matian untung aja ada dinda Mayang."


Seketika Mayang mencium pipi Asep dan bergelayut manja.


Maaf aku tidak bisa membantumu seperti Dewi Bulan Membantu dukun cabul itu, tapi syukurlah kau bisa keluar, lalu apa kau bisa menjelaskan siapa kenapa Ni Sumbaga bisa bersamamu?


"Nah lo bos, ditungguin dari kemarin eh keluar bareng cewek, kata Asep sambil menggeleng Makan dulu bos, ud ya gua mau pacaran dulu, gak mau ikutan ruamha tangga orang lain hahaha


oh iya gua dikasih waktu tiga hari untuk bersantai, gak tau kalo lo, nanti kita ketemu lagi bos."


Melihat yang terjadi pada mereka, Dewi Ninda, Ghovi, Buto Rondo dan Putonia saling pandang.


"Pemuda bernama Asep itu bisa menaklukan ruh pusaka sampai seperti itu seolah ruh pusaka sudah tidak memilkki harga diri lagi, lalu yang bersama Deni adalah Ni Sumbaga, bagaimana bisa."


Mereka menekati Deni, untuk memecah ketegangan Dewi Ninda mencoba berbicara. Mohon maaf jika boleh tau bagaimana Ni Subaga bisa ada didalam?


(Cah Bagus si Deni, apa kau belum memberi tau mereka jika kita sudah mengikat jiwa).


Semua yang ada di ruangan itu teekejut, begitu juga dengan June.


Lalu sejak kapan kalian memgikat jiwa?


Sejah Cah Bagus si Deni memberiku gelar bangsawan dizaman ini, sambil menggandeng lengan Deni.


Semua yang ada diruangan itu semakin dibuat bingung, Deni lalu berbicara pada ni Sumbaga melalui telepatinya.


"Tante maaf ni, kenapa gelar bangsawannya juga dibilangin? Nanti mereka semua bisa sirik karena cuma tante yang dapet gelar bangsawan, dan terutama June, dia pasti cemburu tante, bisa mati aku dibuatnya."


Oh jadi benar pemimpin bangsawan langit itu jatuh hati padamu, baiklah aku akan mengujinya.

__ADS_1


"Haduuh salah ngomong gua ni, kata Deni sambil menggeleng."


Cah bagus sebaiknya kau pulihkan dulu tenagamu, aku perlu ruangan khusus untuk menyalurkan energi murni, apa Dewi Ninda bisa memberikan tempatnya


Mendengar hal itu, June merasa terbakar hatinya.


'Maaf Ni, biarkan aku saja yang memberikan energi murni, lagi pula Ni Sumbaga sudah berjuang keras didalam sana, terima kasih telah melindungi Deni kata June sambil membungkuk hormat.'


Kau tidak perlu sungkan, sudah seharusnya ruh pusaka dan tuannya bersatu dan saling melengkapu, kau lihatkan Dewi bulan dan Pemuda dukun itu, mereka bisa kuat karena telah benar - benar menyatu.


Deni hanya perlu sedikit penyesuaian, tubuhnya masih belum mampu menampung semua energi murniku saat dipakai bertarung, makanya aku perlu membuat beberapa penyesuaian.


'Oh jadi begitu, apa aku boleh iku.'


Boleh saja selama kau tidak mengganggu prosesnya, jika sampai kau mengganggu maka Deni bisa terkurung dalam dimensiku selamanya.


Mendengar hal itu June sedikit ragu, mengganggu memang seperti apa penyaluran energi murni ruh pusaka itu?


'Apa ini hanya akal - akalan nenek tua ini, brengsek, berani - beraninya ia mempermainkan Deni, katanya dalam hati.'


*****


Dewi Ninda membawa mereka keruang khusus yang diminta oleh Ni Sumbaga.


"Tante kita mau ngapain, tanya Deni singkat."


Aku akan memberikan energi murniku, dan membuat penyesuaian dengan tubuhmu.


Ni Sumbaga langsung menggandeng tangan Deni, hal ini semakin membuat June semakin emosi.


'Ni apakah harus menggandengeng tangannya seperti itu?'


Apa kau punya masalah, tenang saja aku tidak akan kasar apa lagi memukulnya seperti yang selalu kau lakukan padanya, aku akan memperlakukannya dengan sangat lembut, kata Ni Sumbaga sambil mengedipkan matanya.


'Rubah tua ini benar - benar licik, tahan June, kau adalah pemimpin bangsawan langit, jaga sikapmu apa lagi disini ada Dewi Ninda sang penjaga elemen, katanya menenangkan diri.


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2