
Lalu Yasa meminta beberapa pemuda mengantarkan mereka kekamarnya.
Mereka melewatkan malam dengan beristirahat, pagi itu setelah sarapan Yasa Membawa mereka berkeliling.
Ini adalah istana hati, setiap yang masuk kesini haruslah orang - orang yang berhati bersih, jika tidak maka aku akan membawanya ke telaga pemurnian untuk mensucikan hati mereka, karena sang pencipta sudah berpesan untuk membersihkan hati, pikiran dan jiwa - jiwa setiap mahluk yang akan masuk kedalam istana ini.
Tempat ini adalah gambaran surga, diman seluruh manusia yang baik dan taat kepada sang pencipta diberikan segalanya, namun keseimbangan dunia sedikit terganggu, mari mereka melanjutkan perjalanan berkeliling istana hati.
*****
Kembali kesisi Dewi Ninda
Tak terasa sudah lebih seharian mereka berada didalam gerbang keenam, Dewi Ninda masih melihat sekeliling, tidak ada yang berubah Mayang dan Ni Sumbaga masih berlatih mengendalikan senjata yang pernah mereka tempati di ruang jiwa.
Para pendekar lembah kematian bertekat membantu perjuangan Deni dan Asep sementara lembah kematian di jaga oleh para Goju dsn Gome.
Mereka melakukan pekerjaan sesuai dengan kapasitasnya, namun saat menatap June ia merasa ada yang aneh, tidak biasanya pemimpin bangsawan langit itu hanya bersantai, sesekali tatapannya kosong, entah apa yang oa pikirkan, maka ia memutuskan untuk mendekatinya.
"Apakah ada hal yang mengusik ketenagan pemimpin bangsawan langit, tanyanya kepada June".
'Tidak ada yang mulia, aku hanya sedang berpikir apa mereka bisa lulus'.
"Kau memang ahli bertarung nona, tapi kau tidak pandai berbohong, apa ini karena sikap pemuda itu yang berubah begitu cepat".
June hanya menggeleng.
"Kami para bangsawan langit tidak boleh menjalin cinta dengan siapapun, yang mulia sendiri tau akan hal itu bukan?"
'Tapi sebagai sesama wanita aku paham kau menyukai pemuda bernama Deni itu, ia sosok yang menarik dan cerdas, itu terbukti mereka yang bisa sampai ditahap ini'.
"Apakah yang mulia bisa membaca hati? Suaranya mulai bergetar, ia memang mulai menyukai Deni namun sikapnya membuat Deni menjaga jarak padanya".
'Terkadang kita harus merelakan apa yang kita sayangi June, namun sikapmu memang keterlaluan, lelaki dewasa itu bisa diibaratkan anak - anak saat ia bersama pasangannya, ia akan bersikap manja, dan kadang melakukan hal yang konyol.
Sebenarnya sebuah hubungan itu bisa langgeng jika kedua belah pihak bisa saling menghargai'.
"Jadi selama ini aku salah?"
'Bukan salah, namun kurang tepat'.
Mintalah maaf saat ia kembali, namun jangan berharap ia akan kembali padamu, sosok Ni Sumbaga benar - benar memperlakukan pemuda itu dengan sangat baik, ia juga selalu menerima pemberiannya biarpun itu hanyalah hal sepele.
Ia juga terus berdiskusi dengan Dewi Bulan yang telah lebih dulu ada didunia manusia dan mempelajari bagaimana caranya bersikap dan memperlakukan pasangannya'.
"Apakah aku tidak boleh merasakan Cinta?"
Bulir air mata mulai menetes dan mengalir dipipinya. Namun seperti yang Dikatakan Dewi Ninda, saat ini mungkin sudah terlambat namun tidak ada salahnya memperbaiki diri.
"Aku akan berlatih, semoga saja pemuda itu bisa berhasil, tambahnya".
June berlalu pergi meninggalkan Dewi Ninda, ia menuju ketempat latihan Putonia.
*****
__ADS_1
Kedunia Nyata
Disisi Terawan mereka terus berupaya mencari informasi tentang keberadaan Musa, mereka melakukan segala upaya namun semakin mereka berusaha orang - orang yang mencari keberadaan Musa juga ikut menghilang.
Pemerintah benar - benar menutup akses kepada siapapun kecuali memang orang - orang yang sudah dipilih langsung dengan proses ketat dan rahasia.
Mereka juga hanya sekali menjaga musa, para penjaga terus berganti tiap tiga jam sekali.
"Siapa yang telah mengatur rencana ini, ia bisa membaca semua gerakanku, sementara kita acuhkan dulu orangmu itu, sambil aku pikirkan caranya".
Tapi nek kita sudah kehilangan banyak sumber daya.
"Aku perlu tau siapa yang mengatur ini semua, segera buat janji dengan para bidadari itu, usahakan agar aku bisa bergabung dengan mereka".
Akan aku usahakan nek, baik aku akan segera membuat janji dengan para bidadari itu, lalu mengatur ulang strategi kita.
*****
Kembali kesisi Deni.
Yasa mengajarkan banyak hal pada mereka, terutama tentang kerendahan hati, dan kesabaran.
Mari kita berjalan kemasjid itu kita tunaikan sholat lalu aku akan membawa kalian pada tuan Amir, dia akan menguji seberapa besar kesabaran kalian.
Mereka hanya mengangguk, mereka lalu menuju masjid dan menunaikan sholat dzuhur, setelah menyelsaikan ibadah, Yasa membawanya mendekati imam masjid, dialah tuan Amir kata Yasa lembut.
"Maaf tapi kenapa wajahnya sangat mirip dengan tuan Yasa, apa dia kakak atau ayah dari tuan Yasa, tanya Deni".
Yasa berjalan meninggalkan mereka semua, tinggalah Mereka berdua bersama tuan Amir.
Saat bersama Amir, mereka hanya berdiskusi, tapi diskusi yang dilakukan benar - benar menguras emosi mereka.
"Jadi kau tidak tau jika nona yang kau sebut Demit langit itu menyukaimu?
Sungguh suatu ironi ya, penyelamat dunia yang tidak peka ya, tambahnya".
Seketika Deni merasa benar - benar marah, orang yang ada dihadapannya ini benar - benar membuatnya kesal, ketika emosinya benar - benar sudah tidak tekendali, Deni berdiri dan berusaha memukul Amir.
Namun keanehan terjadi, ketika melihat wajah Amir, seketika amarahnya menghilang.
"Apa yang akan kau lakukan anak bodoh, apa kau pikir kekerasan bisa menyelsaikan masalah, jika menurutmu bisa silahkan pukulah diriku sesuka hatimu".
Asep yang melihat hal tersebut terlhita kebingungan.
"Kini giliranmu, orang yang disebut sebagai dukun, apa kau bangga dengan gelar itu, tanya Amir penuh selidik".
'Eh emang ada yang salah, itukan panggilan akrab aja, tambahnya'.
"Setauku dukun itu adalah ahli tenun, yang baik itu dukun beranak karena ia membantu orang melahirkan, selebihnya ya begitulah, tambahnya sengaja memancing emosi Asep".
'Lah gitu ya, lagian kan aku bukan dukun tuan'.
"Jika bukan dukun kenapa mau diberi gelar dukun, dan mendapat panggilan Ki, apakah usiamu sudah sangat tua anak muda?"
__ADS_1
'Heem ini orang ngeselin ya, gua tampol pindah alam lo, kata Asep yang sudah terpancing emosinya'.
"Apa kau pikir kau mampu memukulku, lakukan jika kau mampu".
Asep langsung bangun dari duduknya, ia langsung berusaha menghantam Amir dengan tinjunya, namun keanehan kembali terjadi, ketika ia menatap Amir seluruh amarahnya seperti hilang, hatinya merasa sangat tenang.
"Katamu jika kau tampol, diriku bisa langsung pindah alam? Dasar bodoh memang kau pikir kita ada di alam manusia?"
Kejadian itu terus berlangsung, hingga menjelang waktu Dzuhur emosi mereka seperti dipermainkan.
"Sekarang minumlah air ini agar kalian lebih tenang, kata Amir lembut".
Entah dari mana datangnya dua cangkir berisi air yqng seperti susu, warnanya sangat putih bahkan lebih putih dari susu.
Mereka berdua saling berpandangan, dan saling mengangguk.
"Harus dihabiskan ya, karena kalian hanya ounya kesempatan satu kali saja."
Mereka berdua langsung mengambil gelas tersebut dan langung meminumnya, ternyata air tersebut sangat manis sekali bahkan lebih manis dari pada madu.
Namun baru separuh mereka meminumnya, tiba - tiba rasa panas menjalar keseluruh tubuh mereka, tubuh mereka seperti dibakar diatas bara api yang sangat panas.
(Paaanaaassss, mereka berdua berusaha untuk menghabiskan air tersebut namun rasa panasnya semakin menjadi hingga mereka hanya mampu menghabiskan setengah gelas saja).
Mereka berdua terduduk namun masih berusaha memegang gelas tersebut, namun karena tidak sanggup menahan panasnya, akhirnya gelas itu diletakkan oleh mereka.
Amir hanya menggeleng.
"Sisanya kalian bersihkan sendiri, tugasku sudah selesai".
Mereka berdua saling memandang, lalu Amir mengantar mereka ketempat Yasa. Sepanjang perjalanan mereka berdua masih belum paham dengan perkataan Amir, mereka masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah lama berjalan mereka tiba dikediaman Yasa, disana Yasa sudah menanti mereka untuk melaksanakan sholat Dzuhur.
^Kalian lama sekali, katanya singkat^.
Yasa hanya menggeleng melihat keduanya, lalu sebuah keanehan kembali terjadi, Amir yang ada dihadapan mereka masuk dan bersatu kedalam tubuh Yasa.
Mari kita sudah terlambat, setelah sholat akan aku jelaskan semuanya pada kalian.
Tak banyak kata dari mereka, mereka berdua langsung melaksanakan sholat, setelah selesai Yasa menyuguhkan banyak makanan pada mereka, namun selama ditempat itu mereka tidak merasa lapar, hanya keinginan untuk berdzikir dan mendekat pada sang pencipta yang ada dalam pikiran mereka.
Setelah makan siang, Yasa akhirnya menjelaskan semuanya pada mereka berdua, tentang siapa dirinya, dan mereka sangat terkejut. Apa lagi setelah tau bahwa air yang mereka minum tadi berasal dari tempat yang sangat mulia.
Dari sini mereka mulai mengerti dan memahami bahwa memandang segala masalah tidak bisa dari satu sisi saja, terkadang yang terlihat buruk adalah sesuatu yang baik, namun sesuatu yang baik bisa jadi sebuah keburukan.
"Tugasku sudah selesai, kini kembalilah ketempat kalian datang, dan lakukan apa yang harus kalian lakukan, ingat pilihlah dengan bijak, kata Yasa lembut".
Mereka bergegas berjalan menuju pintu gerbang kelima, dan ketika pintu terbuka disana mereka telah disambut oleh semuanya.
Bersambung....
Selamat malam para pembaca, Sembilan Pusaka Nusantara kembali Update nih, dukung terus ya ceritanya, dan ucapan terima kasih yang sangat besar Author sampaikan pada semuanya, terutama mas @slamet putra yang selalu menjadi pembaca setia dukung terus ceritanya ya mas, salam sehat selalu
__ADS_1