
'Masalah ini harus segera dibicarakan dengan Presiden, bagaimana kapan bapak presiden bisa bertemu, kata ustad Hadi'.
Sore itu mereka semua meminta bertemu dengan presiden Republik Indonesia untuk membahas masalah ini, tapi tidak semua mereka ikut kesana, hanya Deni, Asep, Giyana, June, Mayang, Jasmine dan Para ustad.
Pemimpin lima matra mengatur waktu agar bisa bertemu segera dengan presiden, mereka tak mau ambil resiko dslam menghadapi situasi ini mereka terikat aturan, semua harus berdasarkan nalar dan logika, sementara yang mereka hadapi semua diluar nalar manusia.
Setelah negosiasi dilakukan Presiden Republik Indonesia bersedia ditemui, mereka semua bergegas menuju Istana Bogor, mereka berangkat menggunakan mobil TNI Lima mobil Jeep berangkat menuju Istana Bogor.
Mereka sengaja tidak menggunakan pengawalan yang mencolok, beberapa pengawal para jendral mengikuti menggunakan mobil biasa untuk menghindari kecurigaan Narapati, karena pasti akan menjadi sorotan jika mereka berbondong - bondong masuk ke Istana Bogor.
Perjalanan menuju Bogor cukup lancar, setelah satu jam lebih mereka tiba didekat Istana Bogor, namun mereka memutuskan untuk berpencar, Deni, Asep, dan petinggi lima matra turun di kebun Raya Bogor, layaknya pelancong mereka berkeliling lalu menuju Istana Bogor.
Sedangkan para Ustad dan para gadis langsung menuju Istana Bogor, setelah semua berkumpul bapak presiden meminta penjelasan kepada pemimpin lima matra terlebih dahulu.
Penjelasan singkat diberikan lalu penjelassn rinci disampaikan oleh Giyana dan June, mereka juga membuktikan baha mereka bukan berasal dari dunia manusia hampir dua jam mereka berdua silih berganti memberikan penjelasannya. Bapak presiden membutuhkan waktu berpikir untuk bisa mencerna semuanya, lalu memindahkan warga di tiga tempat bukanlah perkara mudah.
Ia membutuhkan waktu berpikir jernih, karena permintaan mereka adalah permintaan yang tidak biasa, beliau juga meminta staf kepresidenan untuk segera menghubungi penasehat spiritual kepresidenan, dan beberapa penasehat negara juga dikumpulkan.
Sementara itu, Deni dan kelompoknya diberikan waktu beristirahat sambil menunggu keputusan presiden.
Bapak presiden segera membentuk rapat darurat, ia juga meminta para DENHARIN untuk segera merapat ke Istana Bogor, kyai Idris yang merupakan penasehat spiritual presiden telah tiba, ia merasakan aura berbeda di Istana Bogor.
Setelah semua berkumpul bapak presiden segera meminta para petinggi lima matra untuk memberi penjelasan, lalu para DENHARIN juga diminta untuk memberikan pengalaman mereka selama berada di Alas Ketonggo.
Semua yang ada disana saling memandang, beberapa akademisi menganggap ini hanyalah lelucon belaka, tapi tidak dengan kyai Idris, pak Jupri penggiat budaya dan ki Jaka Baya yang merupakan ahli santet dan teluh, semua dikumpulkam untuk diminta pendapatnya.
Pak mohon dipertimbangkan, mereka itu hanyalah pemain sulap yang sedang mencari panggung, jika memang mereka berasal dari dunia lain apa buktinya, Kata menteri kependudukan, ni hanyalah ketakutan anak - anak penggemar sulap, hal tersebut dijawab anggukan oleh beberapa mentri.
__ADS_1
"Mohon dipertimbangkan pak, memindahkan warga ibu kota haruslah dengan alasan jelas", tambah mentri dalam negeri.
'Tapi bisakah kita meminta mereka membuktikan kata - katanya?' tanya Ki Jaka.
Semua ini tertulis dalam Serat Pararaton, Serat Pepadun, dan Serat Way Kanan, tambah Kyai Idris, jika benar yang mereka katakan, Bulan Purnama Emas akan terjadi lebih kurang dua bulan lagi, dan hal ini sangat ditunggu oleh orang - orang seperti ki Jaka, tambahnya.
Karena perdebatan panjang terus terjadi, maka bapak presiden meminta mereka semua berkumpul.
"Panggil mereka semua, aku ingin menguji mereka, kata penasehat negara".
*****
Deni dan kelompoknya dimjnta menghadap presiden, setelah mendapatkan beberapa tulisan dari penasehat negara, juru bicara presiden bertanya pada mereka.
Perkenalkan saya Lukman, juru bicara staf kepresidenan, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan pada saudara semua.
Mereka semua hanya mengangguk.
Mereka semua mengangguk dan sangat yakin, mereka saling berpandangan dan meminta Deni sebagai juru bicaranya.
"Selamat sore bapak - bapak terhormat, saya Deni Mahesa Wijaya, saya disini mewakili teman - teman disini sebagai penyambung lidah, kami semua tau sulit memang bagi bapak - bapak terhormat, terlebih bagi bapak presiden untuk percaya begitu saja, tapi apa yang kami lakukan adalah langkah antisipasi menghadapi kemungkinan terburuk dan kami semua siap menanggungg hukuman jika pernyataan kami adalah berita bohong atau hoax".
Baik kedua atas dasar apa saudara - saudara disini mengambil langkah antisipasi kika ternyata kekuatan kalian bisa setara dengan mereka, apakah tidak lebih baik dicegah dulu lakukan upaya negosiasi pada keluarga Narapati, dari pada harus berperang, tambahnya.
"Negosiasi tetap akan kami lakukan pak, perang adalah upaya terakhir, namun jika upaya negosiasi gagal setidaknya kita bisa mengamankan warga yang berada didekat lokasi peperangan".
Mengapa saudara sangat yakin jika lokasi peperangan ada di tiga titik yang saudara sebutkan, pertama ibu kota, lalu Trowulan - Mojokerto, dan Puncak Gunung Tidar - Magelang, kenapa tidak di lokasi lain, Balimantan, Bali, Papua, atau Ujung Sumatra tempat itu lebih memungkinkan karena disana masih banyak hutan dan lebih mungkin melakukan ritual gaib karena jauh dari hingar bingar kota?
__ADS_1
"Karena yang kita lawan adalah orang dengan kecerdasan yang juga di luar nalar pak, tempat - tempat tadi memang memungkinkan tapi tempat tersebut sangat mencolok pak".
Baik jika memang begitu, di Indonesia masih banyak kota - kota besar yang lain, ada Surabaya, Palembang, Medan, Makasar dan Bandung? Bisa saudara jelaskan !
"Benar pak tapi tempat itu bukanlah tujuan mereka, tujuan mereka adalah membangkitkan kembali Kerajaan Majapahit, saat ini ahli siasat Majapahit sudah bersama mereka, mereka menunggu purnama emas untuk membangkitkan raja - raja Majapahit.
Lalu kenapa Puncak Gunung Tidar, gunung tersebut merupakan pakunya Pulau Jawa, dimana jika paku tersebut sampai di cabut ribuan atau mungkin jutaan lelembut yang pernah di segel seorang ulama dari Arab akan bebas, lalu kenapa Jakarta, Jakarta adalah ibu kota negara, tempat ini sudah pasti menjadi incaran mereka selanjutnya, karena jika keadaan ibu kota sampai kacau maka bisa dipastikan kekacaaun ditempat lain tidak bisa dihindari."
Mereka semua sempat terdiam, semua yang di katakan Deni benar adanya namun semua juga masih di luar nalar manusia.
Baik hal masuk akal apa yang bisa kalian berikan untuk membuktikan kepada masyarakat, karena jika kalian katakan kalian adalah golongan jin atau sejenisnya kalian hanya akan dibilang orang - orang yang akan mencari panggung tau bisa jadi kalian di bisa dikatakan terkena penyakit jiwa, tambah mentri dalam negeri.
"Dengan terpaksa kami akan mengatakan itu, meskipun masyarakat akan memiliki tanggapan berbeda, namun apapun itu kami harus menerimanya".
Apapun itu sekalipun hal tersebut kalian harus berhadapan dengan hukum dan dihukum berat akan hal ini.
"Kami datang kesini untuk memberikan informasi, dengan ataupun tanpa izin pemerintah kami akan tetap memerangi Keluarga Narapati, kami berharap negosiasi kami berhasil, namun jika memang gagal saya harap bapak - bapak sekalian tidak akan menyesali keputusan kalian".
Seketika Asep mengangkat tangan dan membuat segel tangan, lalu ia menghentakkan kakinya ketanah seketika tanah disekitarnya bergetar, getaran besar itu merambat hingga ke ibu kota, bahkan BMKG mencatat pusat gempa sekitar dua koma lima sekala richter terjadi dibawah Istana Bogor.
Semua yang ada ditempat itu sampai terkejut mereka merasakan gempa, bahkan gempa dirasakan sampai ke ibu kota Jakarta.
Karena pembicaraan tidak ada titik temu dengan pemerintah, mereka meninggalkan tempat itu. Sementara pemerintah masih memikirkan semua kata - kata Deni dan kelompoknya, semua larut dalam pikirannya masing - masing.
Bersambung
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
__ADS_1
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...