Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 123 - Persiapan Menuju Purnama Emas 2


__ADS_3

Saya berharap perang ini tidak pernah terjadi, inilah yang sangat di takutkan oleh presiden pertama Indonesia, bahwa perang yang paling sulit adalah memerangi bangsa sendiri, rapat saya tutup, saya akan segera kembali ke ibu kota.


*****


Ditanah Dayak


Pagi itu Dehen sudah bersiap bersama pasukannya, berdasarkan pesan tetua adat Purnama Emas yang di tunggu - tunggu akan segera terjadi, dan sesuai amanah para tetua adat bahwa Suku Dayak adalah kunci dan penjaga Tanah Nusantara.


Damang Ekot menemui Dehen, sebagai tetua baru ia sebenarnya tidak ingin perang besar tiga dunia sampai terjadi, bahkan ia meminta Dehen selalu Pangkalima Baru untuk selalu berkordinasi dengan pemerintah pusat.


"Dehen kemarilah masuklah kebilikku ada hal penting yang harus aku sampaikan padamu selaku pangkalima yang baru", kata Damang Ekot.


Dehen yang sedang memeriksa kelengkapan pasukannya, langsung menemui Tetua Damang.


"Duduklah Dehen, ada yang ingin aku berkan kepadamu", katanya lembut.


Damang Ekot membuka kotak pusakanya, diambilah Mandau Damang A Ghu. Ia meletakannya di atas meja.


"Dehen kita orang Dayak tidak pernah mencari masalah, tidak pernah mau mengusik siapapun, itulah sebabnya para tetua terdahulu memilih hutan sebagai tempat tinggal, selain ada banyak filosopi hidup, hutan adalah tempat terbaik bagi kita untuk melakukan perenungan, tapi sebagai suku tertua di Tanah Nusantara, kita punya kewajiban menjaga tanah ini, menjaga keseimbangan alam, dan menjaga keseimbangan tiga dunia, apa kau paham Dehen?", tanya Damang Ekot.


"Paham tetua, aku akan memegang teguh amanat dari para Pangkalima terdahulu untuk selalu menjaga Tanah Dayak dan juga Tanah Nusantara", katanya dengan penuh keyakinan.


"Kau adalah Pangkalima tertinggi, Empat Pangkalima yang lain ada dibahwah kuasamu, jadi selepas kalian turun gunung maka perkataanmu akan menjadi perkataan para tetua, jadi hati - hatilah dalam bertindak, hati - hatilah dalam mengambil keputusan, karena baik - buruknya seluruh tetua adat sekarang tergantung bagaimana kau bersikap.


Dehen hanya mengangguk, tanpa berani menatap Damang Ekot.


"Kini sebagai pelengkap kami para tetua telah bersepakat untuk menitipkan Mandau A Ghu kepadamu, ingat hati - hatilah dalam menggunakannya, pusaka ini hanya boleh kau gunakan hanya dalan keadaan terpaksa dan untuk membela diri, apa kau paham", kata Damang Ekot.


"Paham tetua, tapi apakah aku pantas memegang amanat ini?", kata Dehen.


"Semua sudah menjadi takdirmu Dehen, terimalah dan pergunakan dengan bijak, kami para tetua tidak mungkin tinggal diam, kami akan membantu kalian dari Tanah Dayak", tambahnya


Dehen menerima pusaka itu dengan tangan bergetar, ia sadar bahwa apa yang dihadapi tidak sesederhana yang dibayangkan.


"Pergilah Dehen, para leluhur akan selalu bersama kalian, temuilah pemimpin negeri ini, persiapkan diri kalian dengan baik, jujur aku tidak ingin perang besar sampai terjadi, cari tau juga tentang pemuda dalam ramalan, selain kita mereka juga adalah kunci dari semuanya", kata Damang Ekot sambil berjalan keluar bilik di ikuti oleh Dehen.


*****


Pesawat yang menjemput Pasukan Dari Tanah Hanjung Tuah, telah siap, komandan angkatan darat langsung menjemput mereka di hutan tempat tinggal mereka.

__ADS_1


Setelah berpamitan dengan para kerabat enam puluh orang pasukan pilih tanding Tanah Dayak berangkat, sebagian sisanya menjaga perbatasan dan bersiaga dengan semua kemungkinan yang ada.


*****


Disisi lain di Tanah Jawa


Sultan dari keraton Jogja, dan Sultan dari keraton Solo baru saja mengadakan pertemuan tertutup, mereka membagi pasukan yang selama ini dibuat, Maung Lodya dan Maung Jala, mereka memecah pasukan Maung Lodya menjadi dua, sebagian pergi ke puncak gunung tidar, sebagian menjaga keraton, sementara pasukan Maung Jala Menuju Trowulan dan sebagian menjaga Keraton.


"Bagaimana dengan tanah pasundan kakang, apa sudah bisa di hubungi? Tanya sultan Solo.


"Sudah adik, mereka juga memecah pasukan Maung Pariyangan menjadi dua, sama seperti kita sebagian telah bergerak senyap menuju ibu kota, sementara sisanya menjaga keraton pasundan", kata sultan Jogja.


"Lalu kapan kita akan bertemu dengan bapak presiden?", tambahnya.


"Sore ini, kabar yang aku dengan pasukan Hanjung Tuah juga sudah bergerak, mereka langsung di pimpin oleh Dehen sang pangkalima tertinggi.


"Jadi begitu ya, aku sangat berharap para ulama itu bisa bernegosiasi dengan Keluarga Narapati, karena jika sampai gagal, maka perang besar tiga dunia tidak bisa di hindari, mengingat Purnama Emas semakin dekat, bahkan beberapa teliksandiku mengatakan Dewasrani telah turun kedunia, kata Sultan Solo sambil menggeleng.


"Ditemukannya pusat keraton Majapahit memang suatu prestasi, tapi jika boleh memilih lebih baik tempat itu tidak pernah ditemukan, ditambah lagi menurut kabar angin yang beredar, ahli siasat Majapahit telah di bangkitkan, jika kau bilanh Dewasrani sudah turun kedunia, aku tidak akan kaget siapa yang mengajarkan ilmu terlarang itu", kata Sultan Jogja.


"Lalu bagaimana denga Ratu Kidul, apa sudah bisa dihubungi kakang?, katanya lagi.


Setelah pertemuan di Keraton Jogja, sultan Solo menuju ruang rahasia di aula pertemuan, disana telah disiagakan kereta bawah tanah yang akan mengantarkannya kembali ke keraton Solo.


*****


Setelah sultan Solo meninggalkan Keraton Jogja, sultan Jogja bersiap untuk Menghadap Presiden.


Setelah memberi wejangan dengan istri dan anaknya, ia bersiap menuju bandara, ia juga berpesan pada istri dan anaknya untuk segera berkemas dan meninggalkan keraton.


Kita harus siap dengan segala kemungkinan terburuk, jika sampai aku menakan sinyal darurat kalian tau harus pergi kemana.


Istri dan putrinya hanya mengaangguk, mereka tidak menyangka bahwa ramalan dalam Kitab Pararaton akan jadi kenyataan.


*****


Di Jakarta.


Sesuai instruksi dari panglima AD, para Pasukan dan Pangkalima Dayak mengenakan seragam tempur KOPASUS dan juga KOPASKA mereka tiba di Jakarta tepat pukul empat sore, tak lama berselang sultan Jogja dan Sultan Solo, juga tiba di Halim Perdana Kusuma dan langsung menuju istana negara.

__ADS_1


Tidak ada pengawalan iring - iringan Pasukan Patwal, hanya pasukan terpilih dan juga orang kepercayaan mereka yang ada di dalam mobil, sementara para Pangkalima Dayak terpisah dari pasukannya, mereka juga langsung menuju Istana Negara. Setelah semua hadir tepat pukul enam sore, Presiden Republik Indonesia dan beberapa staf khusus kepresidenan dan beberapa menteri memasuki ruangan.


"Apa Semua sudah berkumpul?", tanya Bapak Presiden.


"Tinggal menunggu Kyai Abdul Rahman, kata salah satu peserta rapat.


"Baiklah kita tunggu sebentar lagi", tambahnya.


Tak lama yang ditunggu tiba, dia hadir bersama ustad Hadi, Lee, dan Faiq, mereka langsung menghadap presiden.


"Apa semua sudah berkumpul", kata Presiden Republik Indonesia?


"Sudah pak, semua sudah berkumpul, kata Pimpimdan Angkatan Darat.


Deni dan Asep sempat bingung, karena banyak orang berkumpul, bahkan suku dayak, kyai Abdul Rahman dan juga suku - suku lain di seluruh Nusantara berkumpul disini.


*****


"Saudara - saudara terima kasih atas kehadirannya disini, terima kasih karena kalian semua sudi meluangkan waktu untuk datang ketempat ini", kata bapak presiden


Ketahuilah ada hal penting yang harus kita bahas, menurut beberapa sumber bahwa akan terjadi perang besar, perang ini bukan terjadi antar negara namun antar dunia, hal tersebut untuk sebagian orang ada di luar nalar, namun karena beberapa orang sampai bersumpah akan adanya perang tiga dunia, maka kami berusaha untuk mencoba menerima dan mengambil langkah antisipasi.


Dimulai dari saudara Deni, Asep dan para Ulama yang datang menemui saya, awalnya saya pikir hal ini hanyalah lelucon, karena jujur saja saat ini negara kita semakin meningkatkan kerja sama antar negara, jadi kecil kemungkinan akan terjadinya perang.


Namun beberapa tetua adat dari berbagai suku di Tanah Nusantara juga memberi peringatan yang sama, termasuk para Sultan dari Keraton Jogja dan Keraton Solo juga memberi peringatan yang sama, hal yanv awalnya saya kira sebuah lelucon membuat saya jadi berpikir keras.


Bahkan para Sultan di dua daerah di Indonesia sampai memberi peringatan yang sama tentang adanya Purnama Emas. Mohon untuk semua yang hadir disini, tolong kelaskan apa itu Purnama Emas, dan dampak buruk apa yang akan terjadi pada kelangsungan negara kita, sebab saya tidak akan mentolelir segala bentuk ancaman yang terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia", tambahnya lagi.


Semua yang ada di tempat itu terdiam, mereka semua saling pandang, hingga akhirnya mereka semua bersepakat meminta Ustad Faiq untuk menjelaskan apa itu Purnama Emas.


Bersambung...


mohon maaf updatenya agak terlambat, author lagi pulang ke desa, disini agak susah signalnya, nanti akan author update dua bab sekaligus, terima kasih buat para pembaca, sehat selalu ya...


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibru dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2