Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 126 - Negosiasi 2


__ADS_3

Dua orang ahli siasat kini berada di satu meja, apakah Negosiasi ini akan berhasil atau malah gagal hingga akhirnya malah memicu perang?


"Silahkan dinikmati jamuannya, maaf jika kurang berkenan", kata Terawan sambil tersenyum.


Perkenalkan mereka berdua adalah istri - istriku, Tari dan Mini, sedang yang di sebelahnya adalah orang kepercayaanku, Fatih", tambahnya


Perkenalkan saya Hadi tuan, disisi saya ada Lee, Deni, Asep dan Tyo", kata ustad Hadi.


Kami kemari ingin berbicara masalah bisnis.


"Bisnis, wah sepertinya menarik aku sangat suka, lanjutkan tuan, kata Terawan bersemangat


Kami ingin menawarkan negosiasi pengembangan bisnis pengobatan tradisional yanh diramu dengan cara modern, disisi tuan Lee adalah nak Deni, ia adalah pewaris dari rumah sakit Permata Hijau yang saat ini telah berkembang cukup pesat.


"Wah - wah bisa berada dengan tuan muda keluarga Wijaya merupakan suatu kehormatan bagi kami keluarga Narapati, lalu apa yang bisa aku bantu tuan?"


"Kami dengar tuan mengasai teknik pengobatan tradisional, siapa tau tuan berminat mengikat kerja sama dengan kami, karena kebetulan keluarga Wijaya telah mengikat kerja sama dengan pemerintah", tambahnya.


"Tuan terlalu memuji, keluarga kami haya menguasai pengobatan seadanya, kemampuan itu adalah tradisi keluarga saja tuan, bukanlah hal yang istimewa", tambahnya.


"Kami sedang berusaha mengembangkan proses untuk menunda kematian, mungkin ini terdengar tidak masuk akal tapi saya pernah membaca beberapa literasi hhal tersebut pernah di lakukan".


Ustad Hadi mulai menggiring pembicaraan untuk melihat sikap Terawan.


"Menunda kematian? Sepertinya khayalan tuan terlalu tinggi, bukankah kematian tidak bisa ditunda, apa lagi orang yang sudah mati, tidak mungkin bisa di hidupkan, semua itu hanya ada dalam film tuan", kata Terawan sambil terkekeh.


"Apa tuan bisa menghidupkan orang mati?"


"Kapan aku mengatakannya tuan, aku bilang kematian tidak bisa ditunda, apa lagi orang yang sudah mati?", tambahnya


"Sepertinya menarik tuan, jika kita bisa membangkitkan orang yang sudah mati, kenapq hal ini tidak terpikir olehku, bagaimana menurutmu nak Deni, pak Tyo?


Mereka semua hanya mengangguk.


"Kabarnya ada satu siklus bulan yang bisa digunakan untuk membangkitkan orang mati, dan membuatnya hidup abadi", kata Ustad Hadi dengan penuh selidik.


"Wah - wah siklus bulan? Aku belum pernah mendengarnya tuan, mungkin karena terbatasnya pengetahuanku, namun jika bisa apa itu tidak menakutkan tuan?", kata Terawan.


"Menurut yang aku pernah baca di sebuah kitab kuno, ada sebuah minuman bernama Aritma - Soma yang bisa membuat hidup abadi, tapi itukan hanya sebuah dongeng tuan?


"Aritma - Soma? Aku juga pernah membacanya, nah itu dia tuan, siapa tau kita bisa membuatnya dan pasti banyaj orang yang akan membelinya dan ini bisa menjadi bisnis yang menyenangkan tuan.

__ADS_1


"Maaf tuan sepertinya keluarga kami masih belum bisa berkerja sama, kami ini hanya keluarga kecil tuan, jadi kami pasti memiliki keterbatasan dana, jika dibandingkan dengan keluarga Wijaya kami masih belum apa - apa", kata Terawan sambil menunduk hormat.


"Tapi hasilnya akan sebanding tuan, aoa lagi kami mendapat support dari pemerintah untuk melakukan penelitian", tambahnya.


"Penelitian macam apa tuan, menggunakan cairan merkuri, hal itu sangat beresiko tuan, apa lagi banyak kitab - kitab kuno yang tidak memberikan penjelasan secara langsung", kata Terawan.


"Jadi cairan yang dimaksud kitab - kitab itu cairan merkuri? Wah sepertinya kita bisa mengikat kerja sama dengan baik tuan Narapati, nanti akan aku sampaikan pada tim keluarga Wijaya untuk meneliti cairan merkuri, terima kasih bayak atas informasinya", kata ustad Hadi dengan senyum penuh arti.


"Omong - omong apa tuan Narapati pernah mendengar tentang suku iblis terkuat?", tambahnya


"Suku iblis terkuat? Aku belum pernah mendengarnya tuan, apakah ada hal yang menarik perhatian tuan Hadi?, katanya singkat.


"Aku pernah membaca beberapa literasi (Babat Tanah Jawa) dimana disana ada kisah tentang suku iblis terkuat, kita bisa memanfaatkannya untuk senjata militer tuan, saya yakin pemerintah pasti akan mendukung, bukan begitu Bapak Tyo?


Yang dijawab anggukan oleh Jendral Tyo.


"Menggunakan mereka sebagai pasukan militer? Apakah itu tidak berbahaya tuan?", kata Terawan dengan serius.


"Pasukan iblis tidak membutuhkan makan tuan, hanya perlu perawatan saja, dan mereka tidak bisa mati, itu juga tertulis di serat Pararaton", kata ustad Hadi dengan semangat.


"Nah siklus bulan itu akan terjadi beberapa hari lagi, siapa tau tuan tau tentang siklus bulan ajaib itu", tambahnya, dengan penuh selidik.


"Tapi jika dengan cairan merkuri kita bisa mengawetkan jasad, artinya mungkin dengan metode tertentu kita bisa membangkitkannya lagi kan, seperti cerita barat yang menghidupkan jasad dengan bantuan listrik bertegangan tinggi", kata ustad Hadi dengan penuh selidik.


"Listrik? Itu hampir tidak mungik tuan, besi saja bisa hancur apa lagi tubuh manusia, kata Terawan.


Sadar pembicaraan mengarah pada Purnama Emas membuat Terawan agak menjaga pembicaraan, ia berusaha menutup diri tentang Purnama Emas.


"Sial ia terus berusaha menggiring pembicaraan kepada pembangkitan kembali, aku harus berhati - hati dengan orang ini", kata Terawan dalam hati.


Tapi ustad Hadi tidak kehabisan akal, ia terus berusaha mengarahkan pembicaraan pada Purnama Emas.


"Kenapa anda terdiam tuan apakah anda mulai tertarik dengan penawaranku, bayangkan saja berapa banyak dana yang bisa di hemat jika kita bisa membangkitkan pasukan dari masa lalu, saya yakin Nusantara akan kembali berjaya, dengan pengetahuan yang kita punya, dan dukungan dari pemerintah, saya yakin negara ini akan berada di puncak kejayaan", katanya dengan sangat yakin.


"Bukan begitu tuan, saya masih belum berani mengambil resiko, seperti yang sayang sampaikan, keluarga Narapati tidaklah sebesar keluarga Wijaya, lagi pula sejak kematian kedua orang tua saya, saya harus lebih berhati - hati saat bersikap", katanya.


"Baiklah tuan nanti kami akan datang lagi, pikirkanlah tawaran kami tuan, kami membutuhkan support orang - orang jenius seperti tuan Terawan", kata ustad Hadi sambil mengakhiri pembicaraan.


Pembicaraan dengan keluarga Narapati berakhir, selebihnya mereka saling membicarakan hal - hal lain, seperti hobby dan kegemaran masing - masing. Hampir dua jam mereka berdiskusi hingga akhirnya ustad Hadi memohon izin untuk pamit.


"Baiklah tuan, kami mohon diri, semoga tuan bisa mempertimbangkan tawaran dari kami", kata ustad Hadi sambil berlalu meninggalkan diikuti rombongannya. Setelah berada di mobil, ustad Hadi langsung menelpon bapak presiden.

__ADS_1


"Selamat malam bapak, mohon izin berbicara", katanya dengan penuh hormat.


"Lanjutkan ustad".


"Nogosiasi gagal, mohon untuk semua pasukan dalam posisi siaga, karena ini bukan latihan dan mohon untuk terus mengawasi keluarga Narapati dua pulub empat jam penuh tanpa terputusz hingga batas waktu yang tidak ditentukan, dan berikan laporan secara berkala", katanya tegas.


Mendengar hal tersebut bapak presiden dengan berat hati mengeluarkan perintah siaga perang, negosiasi yang dilakukan ternyata tidak berhasil.


"Siagakan semua pasukan, negosiasi gagal, sebagian terus awa".


Para petinggi lima matra dengan berat hati menekan kode merah, mengingat perintah presiden sudah turun, semua pasukan sudah tidak bisa bersantai, semua dalam keadaan siaga penuh.


*****


Dikediaman Narapati.


"Sial negosiator itu terus memancingku, aku yakin dialah sainganmu dinda, sang ahli siasat yang telah membantu pemerintah", katanya dengan penuh amarah.


Apa pasukan kematian sudah siap?" Tambahnya.


"Saat ini telah mencapai sembilan puluh delapan hingga sembilan puluh sembilan persen yang mulia", kata Respati.


Siapkan seratus pasukan di ibu kota, Trowulan, dan Puncak Gunung Tidar, setelah mereka diposisi tunggu perintahku untuk melakukan penyerangan", katanya tegas.


"Tapi yang mulia, mereka masih belum sempurna, apa.... belum selesai Respati berbicara, Terawan telah membentaknya.


"Apa kau mau menentang titah raja mahapatih, apa kepalamu mau dipenggal?", katanya dengan tatapan tajam kepada Respati.


"Hamba tidak berani yang mulia, sesuai perintah yang mulia, tiga ratus pasukan akan segera disebar ketitik yang mulia pinta, sisanya akan menyusul setelah mereka benar - benar sempurna", katanya sambil berlalu meninggalkan tempat itu.


Dinda segera berkemas, kita segera berangkat ke Trowulan, perjalanan ke Trowulan kita lakukan malam ini, aku takut kita akan di awasi, sebaiknya kita lewat jalan rahasia karena aku yakin saat ini pemerintah akan segera mengawasi tempat ini, sisakam orang yang berperan sebagai kami disini, agar menutupi kecurigaan pemerintah, dan kau dinda segera atur strategi dadakan.


Aku akan segera menghubungi yang mulia Dewasrani.


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2