Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 96 - Pulau Netra (Penjara Jiwa)


__ADS_3

Kedua kakeknya mau berdamai namun orang tua Deni sudah terlanjur mandiri, mereka selalu menolak pemberian dan bantuan dari orang tua atau keluarga masing - masing.


Tidak mudah bagi bapak dan ibu Deni berjuang untuk mendapat hidup yang baik, tukang las yang selalu di hina, hingga bisa memiliki perusahaan sendiri.


Ibu Deni tak jauh lebih baik, ia juga mendapatkan bulian di kampus, beberapa pria kaya bahkan terang - terangan merendahkan keluarganya.


"Sudahlah Tari (Tari adalah panggilan ibu Deni di Kampusnya), tinggalin aja cowok miskin itu, lo itu dokter, masa nikah sama cowok miskin."


Hinaan demi hinaan di telan oleh orang tua Deni, semua dijadikan semangat untuk agar anak - anaknya bisa hidup lebih baik.


Tak terasa Deni meneteskan air mata, ia tak menyangka Perjuangan orang tuanya untuk sampai di titik ini benar - benar sulit


*****


Didunia nyata.


Gayatri ibu Deni merasakan perasaan yang tidak enak, entah kenapa ia sangat ingin bertemu dengan Deni.


Begitu juga dengan June pemimpin bangsawan langit itu tiba - tiba saja uring - uringan.


"Kenapa kau bergitu gelisah June, tanya Giyana?"


Entahlah tiba - tiba aku memikirkan sibodoh itu.


'Aku juga tidak bisa menghubungi kanda, semoga mereka baik - baik saja tambah Mayang.'


*****


Orang - orang terdekat Deni dan Asep mulai merasakan efek latihan mereka di pulau netra.


(Catatan - latihan di pulau netra bukan hanya berdampak pada orang yang latihan di tempat itu, tapi juga orang - orang terdekatnya akan merasa ada sesuatu yang mengganggu)


Kembali ke sisi deni dan Asep


Tak jauh berbeda dengan Deni, Asep juga melihat pemandangan ketika ia lahir, saat ia lahir tepat saat gerhana bulan total, ia melihat sepasang suami istri yang berjuang untuk kelahiran bayinya.


Saat itu menjelang tengah malam, dimana desanya cukup jauh dari rumah sakit kota, ayahnya yang hanya buruh tani, membawa ibunya menggunakan sepada motor butut yang selalu setia menemani ayahnya.


Tiba dirumah sakit mereka langsung menuju Unit Gawat Darurat, dan langsung dibawa keruang persalinan, ayahnya menunggu dengan wajah cemas di koridor rumah sakit, tidak ada keluarga ataupun teman yang menguatkannya, sementara ibunya harus berjuang antara hidup dan mati.


Tepat pukul dua belas malam, terjadi gerhana bulan total, disaat yang sama lahirlah seorang bayi laki - laki yang menjadi harapan orang tuanya, ada tangis haru menetes dari wajah lelah ayahnya, namun lelah dan haru itu selalu di ganti senyum saat berhadapan dengan istri tercintanya.


Ya, sama seperti bapak Deni, ayah Asep juga selalu tersenyum didepan istri dan anak - anaknya sesulit apapun hal itu ia pasti berusaha untuk tersenyum.


Kehidupan Asep juga tidak mudah, orang tuanya juga mati - matian berjuang untuk hidup. Ia melihat bagaimana ayahnya tetap tersenyum meskipun hinaan tetangga selalu tertuju pada mereka, ia juaga harus tetap tenang mendengar keluhan dari istrinya.


Meskipun ia selalu tersenyum, tapi tak jarang saat suasana hening ayah Asep menangis sendiri, ia berharap Asep bisa mengubah nasip mereka.


Tak terasa air mata Asep juga menetes, ia benar - benar bertekat untuk membahahiakan orang tuanya setelah semuanya berakhir.


*****


Saat itu emosi mereka benar - benar dikuras, semua kenangan baik atau buruk tidak ada yang terlewat, mereka seperti ada di pengadilan akhirat, mereka terus dikuras emosinya hingga titik terendah.


Saat mereka sudah benar - benar ada di titik terendah, munculah sosok yang selama ini menjadi bayang - bayang mereka.

__ADS_1


(Disisi kanan)


"Ngapain lo manusia laknat, pake nangis - nangis lo, manusia lemah, sekarang baeknya lo diem - diem aja, biar gua gantiin lo."


Deni bingung, ia seolah melihat saudara kembarnya, ia bingung siapa sosok dihadapannya.


Sosok itu mulai menyerang Deni, merasa tidak siap ia hanya bisa menghindar.


"Kaya gini ngaku kuat lo, manusia lemah, lo gak pantes ada disitu, jadi mending lo nurut aja."


Ia terus menyerang Deni, Deni sendiri masih mencerna apa yang sedang terjadi, ia masih terus menghindar sambil terus mempelajari situasinya.


*****


Disisi kiri


Tidak berbeda jauh dengan Deni, Asep juga mengalami nasip yang sama dengan Deni, ia seolah bertemu dengan kembarannya.


'Ngapain lo disitu, mahluk lemah kayak lo gak pantes ada disitu.


Ia mulai menyerang Asep, Asep sendiri masih berusaha mencerna apa yang terjadi, ia berusaja menepis semua serangan yang ditujukan padanya.


*****


Kembali kesisi Deni


Serangan yang dilakukan sisi buruk Deni semakin keras, saat ini ia bahkan menggunakan pedang yang mirip dengan pedang cahaya langit.


Deni yang merasa hal ini sudah tidak bisa diajak kompromi. Berusaha menarik Pedang Cahaya langit, tapi sekeras apa ia berusaha ia tidak pernah bisa menariknya.


Beberapa sabetan pedang telah menghiasi tubuhnya, ia mulai menghindari serangan dari sisi buruknya ketika keadaan mulai memburuk sebuah pedang berbentuk tanduk berputar diatas kepala Deni, dan langsung berubah menjadi sosok wanita Cantik.


"Lo pikir lo siapa sembarangan ngomong, kata sisi buruknya."


'Lah inikan bangsawan dari masa lalu yang sudah dapet gelar bangsawan modern, lo yang gak tau apa - apa?'


"Bangsawan? Nenek peot pusaka karatan lo bilang bangsawan, mata lo soak."


Sontak kata - kata dari sisi buruk Deni membuat Ni Sumbaga naik pitam, ia segera melesat dan menyerang sisi buruk Deni.


Cah bagus sebaiknya pikirkan cara untuk menjauh, aku tau kau adalah cah bagusku.


Deni yang mulai mengerti situasinya mencari cara untuk mengatur kembali tenaganya.


Berada diposisi yang menguntungkan membuat Deni mulai membuat rencana untuk menyerang balik.


*****


Disisi kiri


Sama seperti Deni, sisi buruk Asep juga mulai menyerangnya, Asep juga masih mencoba mencerna situasinya, ia berusaha menghindar dan menahan serangan yang dilakukan sisi buruknya.


"Sudah gua bilang, lo sekarang waktunya pensiun, jangan banyak ngelawan ya mending lo nurut."


Asep tidak mengindahkan perkataan sisi buruknya, ia masih terus mempelajari situasinya.

__ADS_1


'Gua gak bisa terus kayak gini, bisa - bisa gua mati konyol katanya dalam hati.'


Serangan demi serangan terus dilakukan, ia mencoba melihat selah untuk memberikan serangan balik, namun ia melihat sisi buruknya mencabut Golok Dewa.


'Sial ini gak baek, andai saja dinda ada disini, situasinya pasti akan berbeda.'


"Sudah gua bilang lo sudah waktunya pensiun, karena lo gak bisa di minta baek - baek ya sudah gua segel aja lo disini."


Saat situasinya semakin terpojok, munculah seberkas sinar biru yang menyerang sisi buruknya.


^Apa kanda merindukan dinda?^


'Banget sayang, dari mana aja sih?'


^Seharusnya dinda yang bertanya kanda, tapi baiknya kita bahas itu nanti ya kanda?^


'Ok sayang, kita beresin dia dulu, tapi jangan dibunuh ya, kalo dia dibunuh kanda ikutan pindah alam sayang?'


^Pantas saja kanda sulit dihubungi, ternyata kanda ada di pulau netra, entah bagaimana cara kanda sampai ketempat ini, dinda harap kanda akan menjelaskan semuanya padaku nanti.^


'Siap sayang, kanda janji.'


"Cih kanda, dinda sudah kaya zaman prasejarah aja lo, naif tinggalah kalian berdua ditempat ini."


Mendengar kata - kata itu, Mayang naik pitam, ia berubah menjadi pedang dan langsung menyatu dengan Asep.


Pertarungan mereka semakin sengit, sesekali Mayang kembali menjadi manusia dan mengacaukan serangan sisi buruk Asep.


"Sial pedang itu cukup merepotkan."


Asep yang telah memiliki rencana memberi tau Mayang apa yang telah didapatnya dari Buto Rondo dan juga Putonia.


Asep sengaja menjadi umpan dan memancing sisi buruknya untuk masuk kedalam perangkap mereka.


Merasa di atas angin sisi buruk Asep terus memberikan tekanan, semua serangan mematikan terus ia lakukan.


Namun ketika ia mersa berhasil melumpuhkan Asep sebuah keanehan terjadi.


Tubuh yang dilumpuhkan berubah menjadi sebongkah batu yang mengunci semua gerakannya, dan dari kedua sisinya munculah Asep dan Mayang yang membuat segel tangan.


(Lima elemen pengunci - penjara jiwa)


Seketika dari lima penjuru muncul sinar sesuai warna lima elemen, mulai dari Air, Tanah, Api, Udara dan Cahaya menghantam tubuhnya dan membuat penjara jiwa.


Akhirnya selesai juga, baek - baek ya lo disini, jangan bikin ulah.


"Bangsat sejak kapan?"


^Jangan pernah meremehkan sepasang kekasih yang saling melindungi, satu yang tidak kau miliki adalah jekuatan cinta.^


Segel cahaya menjadi penutup serangan mereka, Asep dapat mengendalikan sisi buruknya berkat kekuatan cinta.


Bersambung....


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan

__ADS_1


Vote, Like, Komen dan


Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2