
Seusai instruksi Gayatri mereka segera membentuk tim untuk mencari tahu dimana letak markas utama mereka, serangan di Istana Negara gagal dilakukan karena setelah berhitung mereka kalah jumlah sehingga mereka menarik diri, namun hal ini belum mengendurkan penjagaan di Istana Negara.
Ustad Hadi dan Ustad Lee terus berkolaborasi memyumbangkan pemikirannya hal tersebut di syukuri oleh para pemimpin tertinggi lima matra, setidaknya mereka bisa mencari jalan lain untuk bisa bersainh dengan Gayatri dan Terawan.
*****
Kembali ke sisi Deni mereka semua telah mengumpulkan bukti - bukti dan bersiap memberikan laporannya ke Jakarta, mereka sedang menunggu tim yang akan menjemput mereka.
"Kita harus memberikan detail laporan ini segera, agar apa yang terjadi bisa segerat teratasi, kata Barra singkat."
Selama di Kota Pahlawan mereka menyamar sebagai orang yang akan melamar pekerjaan, sikap ramah mereka membuat mereka mudah diterima oleh masyarakat kendati Deni dan Asep kurang menguasai bahasa jawa.
Ketika agak senggang mereka menyempatkan diri berkunjung ke Monumen Kapal Selam, mereka berharap bisa menemukan petunjuk biarpun kecil, namun hal yang tidak terduga terjadi mereka bertemu kembali dengan Musa.
"Wah apa kabar nih, tumben para jutawan main - main ke hiburan rakyat, sudah pada kere atau gimana nih?"
Tapi perkataan Musa tidak ditanggapi oleh mereka, mereka seakan acuh dan segera meninggalkan Musa disana.
Melihat mereka ada di Surabaya,embuat Musa tidak menyia - nyiakan kesempatan untuk mendapat informasi.
"Oh iya kabarnya mall Kasablanca diserangnya, beritanya santer diberbagai media sosial, dari pada di bilang hoax mending gua tanya kepemiliknya aja nih siapa tau ada info valid."
Mereka tetap mengacuhkan Musa dan berusaha meninggalkan tempat itu, beruntung Barra sudah mengirim pesan pada pak Erwin untuk datang dengan mobil lain.
Bukan hal sulit bagi pak Erwin mendapatkan mobil pinjaman, sebuah mobil microlet berwarna coklat nerhenti didepan mereka dan ketika mereka telah naik mobil langsung tancap gas.
Merasa di acuhkan oleh Deni dan kelompoknya tidak membuat Musa marah ia mengirim beberapa orang untuk membuntuti angkot tersebut namun setelah masul kedalam terminal mereka hilang.
"Sue tu orang - orang, dicuekin gua bangsat."
Tapi melihat mereka menggunakan angkot membuat Musa tanda tanya, masa sih bos pemilik mall besar di tanah Jakarta mau - maunya naik angkot.
Ia melaporkan semua kepada Terawan dan mengatakan hilang kontak di terminal Joyoboyo.
"Apa kau tidak salah lihat?"
Tidak tuan, saya sangat yakin itu Deni dan kelompoknya tapi mereka hanya bertiga, mereka berkunjung ke Monumen kapal selam, ngapain coba mereka berkunjung ketempat itu, benar - benar mencurigakan, tambahnya.
"Apa ada yang mengawal mereka, aku sudah memberimu mata halimun apa kau melihat ada golongan Jin yang bersama mereka?"
Tidak ada tuan, saya sudah memastikannya sampai dua kali, tapi mereka sama sekali tidak menggubris saya, saya hina, saya ledek mereka seakan acuh katanya lagi.
__ADS_1
"Apa mereka benar - benar kere atau ada hal lain yang mereka cari disana?"
Sebaiknya kau periksa kembali monumen itu, kerahkan lebih banyak orang untuk membantumu, dan segera laporkan hasilnya.
"Baik tuan akan saya laksanakkan."
*****
Kini Terawan dan Gayatri yang dibuat pusing, apa yang dicari oleh orang - orang itu di bangkai kapal selam yang sekarang jadi musium?
Apa ini tidak aneh nek?
"Kau sudah meminta orang memeriksa tempat itu?"
Sudah nek yang aku takutkan mereka membangun markas rahasia di Surabaya dan jika itu terjadi hal tersebut malah akan menyulitkan penyelidikan kita di Mojokerto karena secara lokasi jarak Surabaya - Mojokerto tidak lebih dari dua jam.
"Bagus kita memang harus berpikir terbalik, apa lagi yang kita lawan adalah keturunan Sunan Muria, dan ia selalu membuat hal - hal yang tidak masuk akal menjadi mungkin."
*****
Kembali ke Jakarta.
Ustad Hadi dan kelompok diJakarta telah menerima laporan bahwa Musa ada di Surabaya, tim yang mengikuti Musa telah mengetahui dimana posisi Musa dan kelompoknya bersembunyi.
Setelah bertukar didunia Cermin Deni Palsu dan kelompoknya diminta untuk sengaja memancing Musa keluar.
Mereka sengaja datang dan memesan kopi ditempat Musa sedang asik menikmati kopinya.
Saat Musa mendekati mereka Deni palsu sengaja menyapanya.
"Lagi apa lo disini, kok sendiri?"
Lah mau ngomong lo sama gua?
"Di tegur baik - baik gak mau ya sudah."
Akhirnya Deni palsu dan kelompoknya menjauhi Musa, sontak ia mengejar Deni. Mereka memancing Musa menjauh dengan berkata telah menemukan tongkat Nur Alim.
Kita harus melaporkan temuan besr ini kepada pak Jaya, pasti kita bertiga akan diberi upah besar.
"Wah bener tu bos, kita pasti dapat bonus besar."
__ADS_1
Setelah dirasa aman, tim yang sejak tadi menunggu menembakkan peluru bius yang tepat mengenai paha Musa, perlahan tapi pasti kesadaran Musa menghilang.
Kini jalur akses Terawan dan Musa bisa terputus.
*****
Entah berapa lama Musa pingsan, ketika tersadar ia berada diruangan yang sangat dingin, beberapa penjaga terlihat aneh dimatanya.
Musa mencoba mencari ponselnya namun tidak ia tidak menemukannya, ia mencoba bangkit dan berjalan melihat ke jendela, betapa terkejutnya ia ketika ia melihat ada didalam tabung air, ia mencoba menghubungi Terawan melalui telepatinya namun sepertinya jalur Telepati itu terhalang sesuatu.
Tak lama munculah seorang wanita berpenampilan serba hijau, ia berjalan di iringi para dayang dan juga beberapa punggawanya.
"Percuma kau mencoba melakukan telepati kepada tuanmu, jalur telepati di penjara ini sudah diblokir, jadi tanpa izinku tidak akan ada informasi apapun yang bisa keluar."
Ratu Kidul?
"Ya ada apa ngger?
Kenapa Ratu Kidul menawanku, aku tidak pernah membuat perjanjian apapun dengan mu.
"Benar kau memang tidak pernah membuat perjanjian apapun, tapi ada baiknya jika kau diam disini dulu hingga situasinya tenang."
Tapi aku tidak bisa ada disini, cepat lepaskan aku atau kau akan menyesal.
"Berani sekali kau mengancamku, jika bukan karena mereka sudah kubunuh kau dari tadi."
Ooow tiga orang bodoh itu ya, ciihh panggil bangsat - bangsat itu kesini, suruh lawan gua, Musa, gak disangka ya mereka cuma berani berlindung di balik Nenek peot.
Sebuah pukulan keras menghantam perutnya
"Tajam sekali mulutmu anak muda, saat inu kau bukan sedang dalam posisi bernegosiasi, jadi jaga bicaramu."
Melihat situasinya Musa terdiam, ia kini berada dipenjara Istana Laut Selatan.
Sial gua harus cari cara untuk keluar dari tempat ini.
"Satu lagi aku masih punya perhitungan denganmu, kenapa kau menyerang keraton Jogja, kami tidak pernah mengusik siapapun, tapi berani sekali kalian mengusik ketenangan kami."
Musa makin terdiam, ia lupa jika keraton Jogja ada di dalam perlindungan pengasa laut selatan, kali ini ia benar - benar tidak bisa mengelak.
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
__ADS_1
Vote, Like, Komen dan
Tambahkan ke favorite, jika berkenan silakan bagikan juga cerita ini agar orang lain bisa ikut terhibur dan Author lebih semangat lagi, terima kasih...