
Disisi Dewi Durga.
Giyana dan komandan singa melaporkan semua perkembangannya kepada Dewi Durga.
"Giyana datang menghadap yang mulia, Hamba datang melapor pada yang mulia, Giyana bersujud dihadapan Dewi Durga."
Bangunlah maha patih, bagaimana keadaan mereka?
"Sesuai perintah yang mulia mereka sangat kesal, emosi mereka belum bisa dikontrol, bahkan penguasa air mengancam akan membuat perhitungan dengan hamba."
Baiklah buat semakin menarik, setelah tiga hari aku minta komandan Singa untuk berlatih tarung dengan mereka, buat mereka benar - benar merasa ini bukan latihan, aku perlu menguji seberapa kuat mereka berdua.
"Baik yang mulia, kami mohon diri kata maha patih Giyana dan komandan Singo Dipa."
Apakah ini tidak berlebihan yang mulia, kata Astagina dengan wajah khawatir, mereka tau sendiri aoa yang dilakukan terhadap Deni dan Asep, Mayang sampai menitikan air matanya melihat tuannya mendapat siksaan itu.
****
Kau tidak perlu khawatir Astagina, ini adalah ujian bagi mereka, apakah mereka benar - benar pantas menjadi pelengkap sebagai bangsawan langit utama.
"Apa bangsawan langit utama, kata Astagina yang masih bingung?"
Kau dan Mayang mungkin belum paham, jika ramalan prabu Jaya Baya benar adanya, maka merekalah yang akan menjadi pelengkap dua belas bangsawan langit yang akan menjadi tandingan dua belas panglima iblis.
"Aapa maaf yang mulia, yang mulia tidak sedang bercandakan tambah Astagina, ia tau betul bangsawan langit utama adalah panglima tertinggi milik kerajaan langit."
June adalah pemimpin tertinggi para bangsawan langit utama, dan menurut informasi June, penguasa tanah dan penguasa air terdahulu telahengorbankan diri mereka dalam perang sebelumnya, dan hingga saat ini hanya tuan mu dan tuan pedang bulan yang kekuatannya setara dengan bangsawan langit utama, namun semuanya harus diuji kata Dewi Durga, dan untuk itu kalian nerdua juga harus menempa diri, buatlah kalian pantas menjadi tuan bagi mereka kelak, tambah Dewi Durga.
'Seketika Mayang yang sebelumnya menangis menatap Dewi Durga dengan tatapan lembutnya, mohon maaf yang mulia, bagaimana cara kami memantaskan diri."
Bertapalah diruang dimensi tuan kalian, kalian hanya bisa bersatu setelah satu bulan.
'Baiklah yang mulia, aku akan berusaha melakukan yang terbaik, Mayanh telah membulatkan tekatnya untuk mengabdi pada Asep.'
Baiklah yang mulia, kami menerima perintah, kata Astagina aku juga akan melakukan yang terbaik.
Dewi Durga mengirim mereka kedalam ruang dimensi tuan mereka.
*****
Kembali kesisi Deni dan Asep
Pagi itu mereka berdua terbagun, hampir seminggu mereka menjalani penyiksaan didalam lava, mereka menandai tembok penjara dengan garis dari sendok makan.
Deni dan Asep tampak telah terbiasa dengan siksaan itu, mereka berjalan keluar namun kali ini kearah yang berbeda.
"Lho kok jalannya lain, kata Deni yang bertanya pada pengawal."
Ini perintah langsung maha patih Giyana.
Setelah berjalan cukup lama mereka tiba disebuah arena, ditengah arena telah berdiri komandan Singa lengkap dengan jubah perangnya, terlihat maha patih Giyana duduk santai di sebuah altar dengan menikmati secangkir teh.
Para prajuri yang mendapat isyarat dari maha patih Giyana langsung membawa mereka keruang pusaka istana dasar bumi.
__ADS_1
Tak lama maha patih Giyana datang menghampiri mereka, pilihlah senjata yang kalian suka, jika kalian bisa menang melawan komandan Singa, aku barulah aku akan melawan kalian.
Dalam ruangan tersebut banyak beraneka senjata, mulai dari pedang, keris, gada, pisau, panah dan lain - lain, disana juga terdapat baju perang dengan aneka ragam.
"Lo serius nih, tapi gimana tau senjata yang bagus lah segini banyak kata Deni dingin."
Jika lo semua bingung Pejemin aja mata lo, biarrin senjata - senjata itu memilih lo semua, kata Giyana juga dengan tatapan dingin.
****
Keduanya memejamkan mata, tak lama sebuah pedang hitam pekat dengan hiasan kepala kuda, dan jubah perang juga dengan hiasan kuda langsung terbang dan menyatu dengan Asep.
Sementara disisi lain, sebuah pedang kembar berwarna biru berkilauan dengan ornamen kepala burung phonix dan jubah perang juga berornamen burung phonik terbang dan menyatu dengan tubuh Deni.
Maha patih Giyana hampir tidak percaya keduanya adalah peninggalan bangsawan lamgit terdahulu.
****
Baiklah sekarang kalian bisa langsung pergi kearena pertarungan, jangan biarkan Komandan perang gua menunggu karena itu bisa membuatnya marah kata Giyana. Asal kalian tau komandan perang tertinggi itu sangat menyukai pertarungan.
Mereka berjalan menuju arena pertarungan dimana komandan Singa telah berdiri sambil memejamkan matanya.
****
Akhirnya kalian datang juga, sebaiknya kalian bisa membuatku senang, sudah lama aku tidak merenggangkan otot - ototku, peraturannya jika salah satu dari kita keluar arena maka dianggab kalah, bagaimana mudahkan.
Keduanya mengangguk tanda mengerti.
*Deni dan Asep saling berpandangan.*
"Sebaiknya kita jadi tim aja bos, biar lebih cepet kata Asep."
'Lo bener Cep, kita gak tau sekuat apa dia, gak mungkinkan dia dipilih karena kebetulan, apa lagi dia komandan tertinggi.
Baiklah kami akan menjadi tim untuk menyerangmu, kata Deni dengan tatapan Dingin.'
Suasana diarena pertempuran menjadi tegang, para prajurit dengan serius melihat kearah arena pertarungan, tak terkecuali maha patih Giyana, saat ini tatapan matanya tidak berkedip menatap area pertarungan.
****
Mereka masih mencoba mengukur kemampuan masing - masing, tiba - tiba aura didalam arena mendadak naik, komandan Singa memusatkan tenaganya aura merah menyala membentuk tubuh komandan singa.
"Tak mau kalah, Deni dan Asep juga meningkatkan Auranya, aura biru berkilau terbentuk dan melindungi tubuh Deni, sementara Aura coklat berkilauan melindungi tubuh Asep."
Komandan Singa maju lebih dulu, ia langsung menyeranh Asep dan Deni dengan kecepatan penuh. Deni mundur untuk menghindari serangan komandan Singa, sementara Asep membentuk prisai tenaga dalam.
Benturan tenaga dalam tercipta ditengah arena, menciptakan riak dan getaran tempat itu, suara ledakannya bahkan terdengar hingga diluar area pertarungan.
Sesosok suara berbicara didalam pikiran Deni dan Asep.
Perkenalkan aku adalah Shin ruh pedang Phonix, kata Shin didalam pikiran Deni.
"Aku adalah Rhin, ruh jubah perang Phonix.
__ADS_1
****
Disisi Asep pun tak jauh berbeda, aku adalah kunta ruh pedang Sembrani, dan aku adalah kinta ruh jubah perang Sembrani, semoga kita bisa bekerja sama.
'Baiklah kami akan menjelaskan sekuat apa komandan Singa, dan juga Selo dan Sehena ruh pusaka pedang neraka, dan jubah neraka itu kata keempat ruh pusaka tersebut didalam pikiran Deni dan Asep.'
Semoga saja kalian benar - benar kuat untuk menerima tenaga dalam kami, kata mereka menambahkkan.
^Asep dan komandan Singa telah bertukar jurus, sampai saat ini mereka sangat berimbang, karena terkadang Deni datang dengan serangan mendadak mengacaukan gerakan komandan Singa.^
Gerakan keduanya sangat berpadu, komandan Singa bahkan sedikit terpojok dengan serangan kombinasi keduanya bahkan maha patih Giayana cukup kagum pada keduanya, karena belum pernah ada orang yang bisa membuat komandan Singa sampai terpojok.
****
"Kalian kuat juga, jika begitu aku tidak akan segan - segan lagi, komandan Singa mundur beberapa langkah, ia merubah sedikit pegangan pedangnya, dan kembali menyerang keduanya, jurus pedang neraka tingkat dua, tarian badai neraka."
Seketika kobaran api membentuk dua pusaran angin berapi yang langsung menyerang Deni dan Asep.
"Sesuai petunjuk Rin Deni maju kedepan dan membentuk prisai tenaga dalam, pelindung Air tingkat Dua, Dinding Air Suci, seketika gelombang air besar terbentuk melindungi keduanya."
'Asep juga yang telah mendapat instruksi Kinta, juga membentuk prisai tenaga dalam, pelindunh tanah tingkat dua, Dinding Tanah Suci, seketika sebuah benteng tanah terbentuk melindungi keduanya.'
"Deni kembali mendapat petunjuk dari Shin, Jurus pedang phonix tingkat dua, serangan gelombang pasang, seketika gelombang besar tercipta langsung menyerang komandan Singa."
Komandan Singa langsung membentuk prisai tenaga, pelindung api tingkat Dua Dinding Api Neraka, seketika sebuah dinding dari Api menyelimuti tubuhnya.
'Jurus Pedang Sembrani tingkat tiga, hujan batu suci, secara tiba - tiba langit disekitar arena menjadi gelap tak lama berselang ratusan atau mungkin ribuan batu jatuh dari langit dan langsung menyerang komandan Singa.
****
Disisi maha patih Giyana
Aaapa jurus ini, sudah lama sekali aku tidak melihatnya sejak hilangnya Waru dan Sono, apakah mungkin para ruh pusaka itu telah memilih mereka.
Para perajurit kerajaan dasar bumi bahkan harus membuat prisai tenaga dalam untuk menahan efek serangan ketiganya.
****
Kembali kedalam pertarungan
Komandan Singa kembali menyerang keduanya dengan kekuatan penuh, kini ia berfokus pada Deni, mereka berdua kembali bertukar jurua diudara, Asep tidak mau tinggal diam, ia mengganggu komandan Singa dengan serangan dadakan.
Bersambung...
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Like
Komen,
Vote dan
Tambahkam ke favorite agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...
__ADS_1