
cerita ini mengambil latar budaya Jawa, dan Lampung. cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi penulis saja (fiksi) jika ada kesamaan nama, tempat kejadian ini hanya sebuah kebetulan yang tidak ada unsur kesengajaan ππ»ππ»ππ»
Wanita itu mendekati mereka, tabik pun, apa kabarmu Amir, kata Sang Dewi berkata kepada ustad Amir.
Dewi Bulan, bukankah belum selesai Ustad Amir berkata, Dewi Bulan kembali bicara.
Kau tidak perlu takut Amir, merekalah orang yang aku tunggu, untuk membuka segel yang dibuat oleh Damangsyah Si Dewa Iblis, jika saja aku tidak ditipu olehnya, tempat ini pasti tetap aman, temukan serat way kanan, disitulah kunci membuka segelku kata Dewi bulan. Maaf energiku hampir habis, cepat temukan serat Way Kanan, perlahan sosok Dewi Bulan menghilang menjadi kepulan Asap.
****
Asep yang menguasai unsur tanah, segera menggunakan mata halimumnya untuk melihat pola segel yang ditanam pada Dewi Bulan, tangannya mulai bergerak tak tentu arah, hingga akhirnya segel rumit itu terbuka. Tampaklah gua bawah tanah yang terpampang dihadapan mereka, mereka turun dan mendapati ruangan kecil dimana ditengah ruangan tersebut tertancap Pedang Dewi Bulan
****
Aura putih terpancar menyelimuti pedang tersebut, Deni mengunakan mata halimunnya, dan seperti yang dilakukan Asep, ia membentuk pola aneh hingga pedang tersebut menjadi kepulan asap dan berubah menjadi sosok wanita cantik yang mereka temui diluar gua.
"Bagaimana bisa, hanya bangsawan langit yang mampu membuka segel ini kata Dewi Bulan memandang Denu dan Asep."
Sekarang Dewi sudah bebas, mari kita keluar kata Asep santai.
"Tapi masalahnya, seluruh kekuatanku tersegel, dan aku hanya wanita biasa kata Dewi Bulan singkat, aku bahkan tidak memiliki kemampuan apapun, hanya pengetahuan yang aku bisa, temukan Serat Way Kanan, disanalah tersembunyi lokasi kekuatanku."
Baiklah akan kami usahakan, kata Asep singkat.
"Karena wujud manusiaku ini membatasi gerakku, bisakah mulai sekarang aku mengikuti kalian kata Dewi Bulan."
Nah masalah itu, sebentar gua tanyain bos Deni dulu ya. Bos gimana si Dewi boleh ikut gak?
"Gua? Bos? Apa yang kau katakan anak muda, kata Dewi bulan sedikit kesal."
Waduh gua lupa ni cewek dari masa lalu, gua itu aku, bos itu rajanya kata Asep menatap Deni, nah dia bosnya, itu istilah yang dibuat dimasa ini.
"Dewi Bulan mendekati Deni, paduka Bos, bolehkah aku mengikuti paduka Bos?"
'Hadew Ki Encep, lo aneh - aneh aja, punya ajudan begini amat ya.'
__ADS_1
Lah gua harua bilang apa bos, kan emang lo bos gua.
Ajudan? Apa lagi itu?
Ajudan itu penasehat, kata Deni santai. Gua Deni, panggil Deni aja, jangan ada gelar yang lain, biar kita bisa berbaur dimasyarakat, bukan begitu Ki Encep. Kata Deni sambil terkekeh.
"Apakah Ki Encep setuju, jika gua ikut paduka bos, kata Dewi Bulan yang kini menatap Asep."
Wah parah lo bos, boleh tapi panggil gua Asep aja, jangan ki Encep ok Dewi, kata Asep.
Baiklah Ki Encep, maaf Asep, gua ikut kalian boleh?
Ok Dewi, boleh.
"Ok apa lagi itu?"
'Setuju Dewi, dan mulai sekarang Dewi harus belajar istilah - istilah dan panggilan tutur dizaman ini, dan ki Encep adalah orang yang tepat untuk kau belajar, karena dia sangat tau banyak hal dan sangat paham dengan zaman ini kata Deni, dan mulai sekarang gua tugasin lo ki Encep, untuk menjaga Dewi dan ajarin istilah zaman ini, siapa tau Dewi jodoh lo, kata Deni sambil terkekeh dan meninggalkan mereka.'
****
Ruh pusaka terkuat kenapa bisa jadi patuh pada mereka ya, kata pak Taufik.
"Zaman sudah berubah yai, lihat sendirikan kemampuan mereka jauh diatas kita."
Ditengah sifat konyol mereka tersimpan kekuatan mengerikan, mereka bisa sangat bersahabat, tapi bisa sangat kejam, kata pak Sandi menambahkan.
****
Dirumah pak Taufik.
Setelah tiba dirumah pak Taufik, mereka memutuskan untuk beristirahat, Asep menawarkan Dewi Bulan untuk beristirahat diruang dimensinya. Asep telah menyiapkan satu rumah untuk Dewi Bulan diruang dimensinya, disitu Dewi Bulan bisa bermeditasi untuk memulihkan kekuatannya sambil mencari cari membuka segel untuk mengembalikan kekuatannya.
****
Diruang dimensi Asep.
__ADS_1
"Dewi ini adalah pakaian dizaman sekarang, kebetulan Dewi Bintang juga akan membantumu, Dewi Bintang dan Dewi Bulan lalu mengenakan pakaian yang telah disiapkam Asep, lalu mereka belajar istilah - istilah manusia modern."
Ketika sedang asik belajar, Deni dan Dewi Tanjung tiba - tiba hadir ditengah - tengah mereka.
'Wuih ada Dewi Bintang juga disini, mana Dewi bulan, kita perlu bicara nih kata Deni yang menyapukan netranya mencari Dewi Bulan.'
****
Tak lama Dewi bulan keluar dengan kaos polo san celana jeans, Deni hampir tidak mengenali Dewu Bulan.
'Wuih cantik bener pacarnya Ki Encep hehehe'
Pacar itu apa?
'Pacar itu istrinya Asep, kata Deni sambil tersenyum.'
Wajah Dewi Bulan seketika memerah, begitu juga dengan Asep.
"Wah jangan asal ngaco bos, nanti Dewi Bulan marah bisa mati gua bos dibuatnya, kata Asep yang agak salah tingkah."
Sudah - sudah, gua kesini bawa kabar baek, kumpul semuanya.
Dewi bulan, ini adalah pil penguat jiwa tingkat kedelapan, pil penguat batin tingkat kedelapan, dan pil penguat fisik tingkat kedelapan, semuanya telah dimurnikan, jadi Dewi Bulan tinggal mengkonsumsinya saja, setidaknya itu bisa mengembalikan separuh kekuatan Dewi bulan kata Deni..
Apa separuh kekuatan??? Dewi bulan terdiam dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya...
Bersambung .....
Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan
Like
Komen,
Vote dan
__ADS_1
Tambahkan ke favorite dan bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...