Sembilan Pusaka Nusantara

Sembilan Pusaka Nusantara
Bab 23 - Dua Dewi Batu Bungur


__ADS_3

Dewi Bintang dan Dewi Tanjung merbubah diri menjadi dua sosok wanita cantik mereka memperkenalkan diri kepada semuanya.


"Aku adalah Dewi Tanjung, dan ini adalah adikku Dewi Bintang, kami akan membantu tuan sesuai perintah kyai Hasan, kata Dewi Tanjung."


'Tenang saja tuan, kami bisa membaur dengan manusia, jadi tuan tidak perlu takut kepada kami, kata Dewi Bintang menambahkan.'


Dewi Tanjung dan Dewi Bintang adalah dua senjata milik kyai Hasan, dimananya didapat karena kedekatannya dengan Allah, dimana ini berhubungangan dengan sejarah kelam desa Tanjung Bintang yang membuat pembagian wilayah antara desa bintang dan kelompok panah tengkorak yang masih bersiteru sampai saat ini.


Sementara kelompok Panah Tengkorak adalah kelompok begal tersadis diwilayah Lampung Timur, mereka tidak segan - segan membunuh korbannya, pemerintah sendiri terus mencari cara menangani kelompol panah tengkorak, pemimpin mereka dilindungi penguasa Gunung Tanggamus yang ada ditingkat Dewa Iblis, sehingga kekuatannya diluar akal dan nalar manusia, kyai Hasan bukan tidak berusaha tapi sementara langkah terbaik adalah pembagian wilayah, kelompok Panah Tengkorak tidak akan mengusik orang - orang desa Tanjung Bintang kecuali berada diwilayah mereka


****


Kembali kesisi Deni


Ada baeknya gitu, alhamdulillah dapat tambahan tenaga kita bro, kata Asep santai. dengan begitu semoga misi kita menjadi lebih mudah, sehingga kita bisa cepat mengumpulkan pusaka - pusaka terkuat, sebelum keluarga Narapati.


****


Kecanggungan kini dirasakan pak Sandi, Dika, ustad Amir dan pak Taufik, mereka mematap Deni dan Asep dengan tatapan yang hormat dan juga canggung, mereka masih tidak percaya bahwa Deni dan Asep adalah salah satu dari para bangsawan langit.


Haduh kenapa jadi gini ya, memang setinggi itu apa posisi kita bos, kata Asep mulai memecah suasana, oh iya jangan panggil tuan, panggil Asep aja karena bosnya orang ini kata Asep kepada dua Dewi Bungur menunjuk Deni.


"Lah kenapa gua bosnya, sue lo sep, gua tiup jadi lumpur lho, kata Deni sambil terkekeh."


Ya kan lo bos gua bro.


"Serah lo dah, asal Aa Asep senang, Deni mulai berbicara, maaf jika kami berdua menutup identitas kami, kami hanya tidak ingin ada kesenjangan seperti ini, karena jujur aku tidak biasa dengan perlakuan seperti ini, kata Deni menambahkan."

__ADS_1


'Harusnya kami yang menghormati kalian kata Asep menambahkan, karena usia kami jauh lebih muda kata Asep, tolong tegur kami jika kami salah jalan kata Asep lagi.'


****


Setelah tau identitas Deni dan Asep suasana yang sempat tegang akhirnya mencair, Dua Dewi Batu Bungur menjadi batu cicin yang langsung terpasang di jari Deni dan Asep.


Pak taufik dan Ustad Amir semakin kagum dengan dua pemuda tersebut, selain taat beribadah mereka juga sangat rendah hati, dua bangsawan langit sampai jauh - jauh berkunjung ini adalah suatu kehormatan besar kata keduanya.


***


Pak Sandi yang dari tadu diam ternyata merekam semua pembicaraan tersebut dan mengirimkannya kepada pak Jaya. Pak Jaya yang telaj mendengar pembicaraan tersebut sangat terkejut, ia tidak menyangka Deni dan Asep ada diposisi yang tinggi.


"Pak Sandi yang dari tadi diam mulai berbicara, jadi setelah semua terbuka semoga pekerjaan kita bisa lebih mudah, nak Deni, nak Asep jika boleh setelah ini jangan menyembunyikan apapun lagi, jujur saja saya sangat terkejut, pantas saja kalian bisa menghancurkan kelompok tapak sakti dengan sangat mudah kata pak Sandi sambil menggeleng."


Apa menghancurkan kelompok tapak sakti, jadi kalian yang telah membunuh ki Prana, ia ada diposisi bangsawan iblis tingkat 1, aku pernah diminta pemerintah untuk menumpas mereka dan berakhir dengan kegagalan, aku coba meminta bantuan dari guruku namun ia berkata kelompok itu akan hancur dengan caranya sendiri, kita tidak boleh melawan takdir Allah, ternyata kalianlah yang telah mengatasi kelompok tersebut kata ustad Amir semakin kagum pada keduanya.


"Kami hanya mencoba melakukan hal yang menurut kami benar, lagi pula kelompok itu sudah cukup berbuat dzolim jadi kami harus bertindak kata Deni santai."


****


"Sudah dong formal - formalnya kami hanya pemuda biasa pak, yang kebetulan mendapat anugrah, semua adalah anugrah dari Allah, jika tanpa kehemdak Allah kami bukanlah apa - apa kata Deni menambahkan."


****


Sepertinya besok kita belum akan bergerak, saya perlu mengatur ulang rencana kita dan menyesuaikan dengan kamampuan nak Deni dan Asep, kami tidak ingin menjadi beban bagi kalian berdua, baiklah karena malam sudah larut saya undur diri lalu berjalan meninggalkan semuanya


Tak lama Dika juga menyusul untuk pamit, tinggal lah mereka berempat yang masih b.erdiskusi.

__ADS_1


****


Pak Sandi langsung menghubungi pak Jaya, ia mengatakan semuanya pada pak Jaya, pak Jaya akhirnya membuat perubahan rencana, dan menjelaskan detailnya kepada Sandi setelah mengetahui kekuatan Deni dan Asep, ia merasa bukanlah hal sulit untuk tingkat bangsawan langit memuka segel yang terpasang, ia hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya, jika bukan karena kyai Hasan yang telah sampai pada tahap karomah mungkin Deni dan Asep akan terus menutup diri.


"Setelah mendapat instruksi pak Jaya Sandi menutup telpon, ia langsung mengatakan semua rencana pak Jaya pada Dika setelah mengerti mereka langsung beristirahat."


****


Setelah kemampuan Deni dan Asep diketahui oleh semua orang, mereka mulai menjaga sikap pada Deni, ditambah lagi dua Dewi Bungur yang terkenal sebagai senjata suci milik kyai Hasan ada bersama Deni dan Asep, mereka semua tidak berani bertindak gegabah.


"Asep dan Deni yang melihat kecanggungan itu, paham dengan situasinya."


Tidak perlu terlalu sungkan bapak - bapak dan Ustad Amir, kami tetaplah pemuda biasa, jika kalian terus bersikap seprti ini sebaiknya kita hentikan saja, kami tidak mau meneruskan misi ini, kata Deni sedikit mengancam, maklum Deni dan Asep jadi canggung dengan perlakuan semuanya.


"Mendengar perkataan Asep sontak membuat semuanya terdiam, mereka akhirnya mau bersikap wajar dan suasana kembali seperti sedia kala, Deni dan Asep kembali menjadi sepasang pemuda yang kocak dan juga bersahabat."


****


Sesuai petunjuk Asep mereka bergerak menuju kearah Timur, Asep mengemudikan mobilnya dengan santai, suasana Minggu pagi terlihat begitu ramai, aktivitas warga tetap berjalan dan semakin ramai, suasana desa yang asri menambah suasana pagi menjadi sangat nyaman


Suasana pasar yang riuh menjadikan suasana desa Tanjung Bintang menjadi sangat terasa. mobil mereka berjalan santai terus berjalan melintasi area perkebunan karet, area Tanjung Bintanh memang terkenal dengan perkebunan karetnya, disisi kanan dan kiri


Mohon dukungannya pada para pembaca dengan memberikan


Like


Komen,

__ADS_1


Vote dan


Tambahkan ke favorite dan bagikan cerita ini keteman - teman agar Author lebih semangat lagi, terima kasih...


__ADS_2