Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Keteguhan Hati Tasha


__ADS_3

Air mata berjatuhan mengiringi setiap kata yang terucap di bibir pria tampan itu. Bukan dia yang menangis melainkan wanita cantik yang duduk di sebelahnya saat ini. Tepatnya mereka berdua sedang berada di dalam mobil milik Raga. Raga pun demikian, matannya sudah memerah menahan tangis saat menjelaskan semuanya. Yah, dengan susah payah Raga memohon pada Tasha untuk berbicara di mobil. Sekali lagi Tasha memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Meski rasanya begitu ingin marah melihat kenyataan yang ada. Berhari-hari ia merasa di abaikan begitu saja bahkan di hari mereka harusnya saling bermesraan menikmati momen pengantin baru.


"Aku benar-benar tidak sanggup mengatakan ini semua padamu, Sha. Ini bukan keinginanku. Aku sudah meninggalkan semua masa lalu burukku itu. Aku sungguh-sungguh ingin memulai semua yang baik dengan mu dan juga Gara. Sumpah aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun selain kamu. Sampai akhirnya aku mendapat kabar dari teman dekat Rizka jika ternyata ada benih yang tumbuh di masa lalu kami berdua. Aku sangat tak punya keberanian untuk meminta maaf padamu, Sha. Aku bersalah dalam hal ini. Tapi, izinkan aku merubah semuanya. Izinkan aku menebus sakitmu di masa lalu saat ini menjadi kebahagiaan. Aku ingin kita tetap bersama dengan Gara."


Belum sempat saja Raga menjelaskan semuanya Tasha sudah memotong ucapan sang suami.


"Berhenti bawa-bawa anakku, Raga! Berhenti membahas semuanya. Jika denganku kau akan menebus semuanya, apa dengan wanita itu kau juga akan menebus semuanya?" tatapan mata tajam penuh amarah Tasha layangkan pada pria di sampingnya.

__ADS_1


Mobil yang menyala sama sekali tak meninggalkan tempatnya sedari tadi. Raga hanya menyalakan mesin tanpa berniat meninggalkan parkiran rumah sakit itu.


Lantas Raga menggelengkan kepala cepat. "Tidak, Sha. Tidak ada pertanggung jawaban selain untuk Gara. Kamu satu-satunya wanita yang aku inginkan. Aku akan tetap menjadi suamimu. Aku tidak akan bertanggung jawab pada Rizka."


Tasha menunduk memejamkan mata. Dadanya terasa ngilu mendengar nama wanita lain keluar dari bibir sang suami. Inilah yang sangat Tasha hindari sejak awal berhubungan dengan Raga. Ia sangat takut akan menjadi sakit dengan wanita di luar sana. Raga tetaplah bintang yang bersinar di mata semua wanita dengan sejuta pesonanya.


Meski semua sudah menjadi masa lalu, tetap saja Tasha tak rela membayangkan ada anak lain yang tumbuh dari hasil benih suaminya. Bahkan anak itu lebih dulu lahir di bandingkan anaknya. Dimana artinya hubungan Rizka dan Raga jauh lebih dulu di bandingkan dengan Tasha.

__ADS_1


"Sha, aku salah. Hukum apa pun akan aku terima. Tapi, satu aku mohon jangan tinggalkan aku, Sha. Aku benar-benar tidak ingin semua itu terjadi. Aku menutupi ini semua bukan untuk mempermainkan mu. Aku tak punya keberanian membicarakan masa laluku yang datang saat pernikahan kita baru saja di lakukan."


"Jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada Gara. Kau sudah benar-benar mengabaikan anakmu yang kau katakan sangat berarti untukmu demi anak dar wanita lain." Saat itu juga Tasha menghentikan tangis dan duduk dengan tenang. Wajahnya lurus memandang ke depan.


Pikirannya masih sangat kacau. Tasha tak ingin gegabah memutuskan sesuatu. Ia harus tenang dan memikirkan semuanya, tentu dengan meminta pendapat kedua orangtua. Bagi Tasha kedua orangtuanya adalah orang yang paling bijak dalam hal ini. Semua perjalanan di masa lalu yang sulit bisa Tasha lewatkan dengan mereka. Bukan dengan Raga, maka kali ini ia akan melibatkan orangtuanya bukan Raga.


Bukan niat ingin mencampurkan adukkan masalah pernikahan dengan orangtuanya. Namun, Tasha merasa masih sangat butuh masukan dari mamah dan papah.

__ADS_1


Sedangkan Raga sudah melajukan mobil kembali ke rumah. Ia akan menemui sang anak untuk meminta maaf.


Meski beberapa hari ini tanpa Tasha ketahui jika Raga sangat tersiksa dengan keadaan ini. Ia begitu gelisah membayangkan kemarahan Tasha, kedua mertua dan orangtuanya. Raga benar-benar takut kehilangan semua yang sudah ia perjuangkan selama ini.


__ADS_2