
Mobil pagi itu mulai berjalan meninggalkan pelataran rumah megah milik wanita single parent yang kaya raya. Dia adalah Bu Dewi, ibu dari dokter Rafa yang saat ini bekerja di salah satu rumah sakit Singapura. Dan mobil yang baru saja melaju tentu saja mobil yang mengantar Tasha menuju pabrik pembuatan baju hasil desain dari tangan Tasha sendiri.
"Aku tidak tahu mengapa ibu bisa memilih kerja sama denganmu? Padahal yang aku tahu desain buatanmu sangat biasa saja." tutur Rafa dengan wajah tenangnya menyetir mobil miliknya.
Mungkin menurut pria itu ucapannya sangat biasa, namun tidak bagi telinga Tasha. Merasa ada kalimat meremehkan di nada bicara pria di sampingnya saat ini. Sontak Tasha pun menoleh ke sebelah dengan kesal.
"Menurut anda biasa? Bukan berarti menurut orang lain juga biasa. Apa yang menjadi kepercayaan orang mungkin itu tidak begitu berarti untuk anda. Tapi bagi kami pengusaha baju itu sangat berarti. Bukan soal semata-mata keahlian yang terkenal seperti dokter. Tapi kenyamanan yang mereka dapatkan dari produk kami tentu akan sangat utama." Diam saja saat bertemu, kini akhirnya Rafa bisa mendengar jelas ucapan Tasha yang panjang itu.
Pria tampan itu pun akhirnya bungkam. Benar apa yang Tasha katakan menurutnya saat ini. Hingga selama perjalanan Rafa pun tak lagi mau bicara apa pun. Hingga keduanya tiba di pabrik saat itu. Tasha berjalan menelusuri bagian kain yang sudah di siapkan. Beberapa bagian terus ia cermati memastikan tidak ada yang berubah dari sarannya sebelumnya.
Di belakang Rafa juga terus mengikuti sesuai dengan permintaan sang ibu untuk memastikan Tasha baik-baik saja.
"Ibu tidak mungkin merubah kualitas kainnya. Pabrik ini sudah bekerja sangat lama dan semua karyawan adalah orang-orang yang bisa di percaya." sahut Rafa kembali.
Bukan tanpa sebab, kedatangan Tasha kembali ke Singapura adalah karena produksi baju yang di perjual belikan di pasar mendadak mendapatkan protes dari customer. Memproduksi barang original bukanlah tidak sulit untuk bersaing dengan penjual nakal di luaran sana.
__ADS_1
"Bahannya semua masih sama? Tapi mengapa di luar ada yang beda? Dan itu penjualan dari tempat kita? Ini pasti ada yang tidak benar?" ujar Tasha dalam hatinya.
Mereka terus saja menelusuri jalan di bagian produksi itu bahkan Tasha masuk ke bagian-bagian penjahit dan pengoreksian barang jadi.
"Sejak kapan pakaian mahal menggunakan barang seperti ini?" Semula Tasha begitu cuek hingga akhirnya ia menoleh saat mendengar ucapan dari Rafa barusan di belakangnya.
"Apa itu?" sahut Tasha penasaran.
Sebuah botol cairan yang Rafa sangat tahu isinya. Pria itu memegang botol yang ternyata jumlahnya tidak sedikit di dalam penyimpanan barang-barang. Tasha sangat tertarik seketika. Ia mendekati Rafa dan turut mengambilnya juga.
"Kau meminta ibu menggunakan bahan ini kan?" selidik Rafa menatap tajam Tasha.
Bukannya langsung menjawab, Rafa justru menarik cepat tangan Tasha keluar dari sana. Ia beralih menuju semua pekerja yang sedang fokus dengan mesin mereka masing-masing.
"Semuanya! Hentikan saat ini juga apa pun yang kalian kerjakan. Dan keluar dari ruangan ini!" Rafa berteriak.
__ADS_1
"Tidak. Produksi kita sedang mengejar target. Mengapa di hentikan? Bisa-bisa kita di demo." sahut Tasha menolak.
Bagaimana mungkin pekerjaan yang sedang di desak dari pasar di luar sana justru harus berhenti dengan perintah Rafa yang menurut Tasha tidak tahu apa-apa saat ini.
"Ayo ikut aku. Semua keluar dan tutup rapat ruangan ini. Jangan buka sampai saya kembali ke sini." Rafa menarik paksa tubuh Tasha. Susah payah Tasha menolak hingga memberontak cekalan tangan dari Rafa.
"Rafa, lepaskan tanganku!" pintah Tasha kembali.
Terbiasa hening, Rafa tak suka mendengar teriakan Tasha. Ia pun dengan cepat menghentikan langkah dan menggendong Tasha di bahunya. Di pikul tubuh langsing Tasha ke dalam mobil. Mereka pun meninggalkan pabrik dengan kecepatan mobil yang sangat laju.
"Sampai kau berbuat macam-macam dengan perusahaan ibuku, habis kau!" Tasha meneguk susah payah salivahnya saat mendengar ucapan pria di sebelahnya ini.
Apa yang di maksud Rafa sama sekali ia tidak paham. Namun, laju kendaraan roda empat itu membuat Tasha sama sekali tidak bisa berbicara apa pun. Ia begitu takut jika terjadi sesuatu pada mereka akibat laju mobil itu. Sekuat tenaga Tasha memegang hingga wajahnya pun sangat pucat.
"Tolong hentikan mobilnya!" pintah Tasha lirih di sela memejamkan mata ketakutan.
__ADS_1
Tak sadar jika moment itu membuat Rafa menoleh dan tersenyum lucu melihat wajah Tasha yang sangat lucu dan kasihan menurutnya.
"Dia sudah seperti memancarkan aura keibuan di usia yang seperti saat ini." gumam Rafa bisa jelas melihat raut wajah Tasha yang agak tirus. Bukan terkesan tua, cantik namun ada sisi wajah yang menurut Rafa tak seperti seorang gadis lagi.