
Terlalu sibuk kerja dan kuliah nyatanya membuat aku sangat enjoy. Dimana pikiranku bahkan tak sempat memikirkan keadaan sekitar. Rumah yang selalu ku rasa sepi ketika tak ada Gara kini membuat aku tak lagi terpikirkan. Aku sangat senang dengan keputusanku saat ini yang membantu aku dalam menikmati setiap waktu. Mungkin ini juga yang Gara rasakan ketika jauh dari kami semua. Ia begitu menikmati hidupnya yang super padat di luar negeri.
Pagi ini aku akan kembali kuliah sebelum ke kantor membantu Papi. Di meja makan ku lihat Mami memberikan susu dan vitamin padaku. Lagi-lagi Mami Tasha menunjukkan betapa besarnya kasih sayang dan perhatiannya pada anak angkatnya ini. Aku tersenyum ketika Mami menyodorkan vitamin ke depanku. Dimana kami semua sudah selesai makan.
"Mami, thanks." ujarku memeluk Mami dari samping. Mami Tasha menunduk melihat wajahku yang menengadah menatapnya berdiri di sampingku.
"Untuk apa, Tha?" Aku mengeratkan pelukan di tubuh Mami.
"Thanks untuk semua cinta Mami padaku. Aku benar-benar sayang dengan Mami." Mami Tasha pun mengerakkan tangannya mengusap rambut panjangku.
__ADS_1
Setelah kami berpisah dengan Papi yang mengantar Mami ke butik dan aku pregi ke kampus. Di kelas pun aku duduk dengan tenang membuka buku yang sudah ku kerjakan tugas untuk hari ini, dan tentu saja berkat bantuan asisten Papi. Bukan Gara.
"Astaga, Gara apa kabar yah?" Tiba-tiba saja aku begitu syok mengingat sudah beberapa hari aku tak lagi berkomunikasi dengannya. Bahkan ponselku saja tak lagi sering ku mainkan. Rasanya waktuku terlalu sempit untuk sekedar bermain ponsel.
Perkuliahan berjalan lancar pagi ini, segera aku bergegas kemas barang ke dalam tas. Tak ku perdulikan bagaimana beberapa pasang mata menatapku. Penampilanku semakin hari memang semakin formal. Dan terlihat begitu berbeda dari sebelumnya.
"Agatha, kok udah kayak wanita karir aja sih? Beda dari biasanya yang suka pakai jeans." ujar salah satu teman di kelasku.
"Kacang lupa kulitnya kayaknya. Ninggalin sahabatnya sekarang mainnya sama yang kantoran kayaknya. Munafik banget sih, Agatha?" Suara yang terdengar begitu familiar membuat aku menoleh menatapnya. Aku sudah tak kaget lagi jika itu adalah suara Rifana.
__ADS_1
Sekarang aku semakin tahu apa tujuan wanita itu membuat aku berantakan dengan sahabatku. Dengan santai ku tarik tas ke pundakku, lalu berjalan mendekat ke arahnya. Mungkin ini waktu yang tepat untukku berbicara.
"Kacang lupa kulitnya? Rifana, kamu bertanya itu padaku? Itu bukan pertanyaan untuk kamu yah? kamu mau aku di benci dengan semua sahabatku bukan? Aku sudah menuruti semuanya loh. Lalu sekarang kamu bicara begitu untuk apa lagi? Kamu memfitnah aku dengan ucapan yang sama sekali tidak masuk akal buatku. Aku tahu itu semua kamu lakukan untuk mendapatkan posisi ku di antara sahabatku bukan? Kamu sudah mendapatkan posisi itu kan? Apa kamu lupa siapa kacang dan kulitnya di sini? Ayo aku ingatkan lagi..."
"Cukup, Agatha!" Teriakan memekakkan telinga dari Rifana tak ku hiraukan.
"Aku yang membawamu masuk ke dalam persahabatanku, Rifana. Lalu kamu mulai akrab denganku. Dan setelah kamu akrab dengan kami semua, kamu sengaja bukan mendekatkan aku dengan kakakmu. Apa kamu pikir aku diam, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya? Morgan, Kakakmu sendiri datang meminta maaf padaku untuk kejadian malam itu. Dan kamu tahu, kakakmu sendiri mengatakan jika ia berani hendak melecehkan aku karena ucapanmu yang menjelekkan aku dengan gaya pacaranku. Padahal teman di kelas ini semua tahu dengan siapa aku pernah berkencan. Yang jelas semua orang yang memiliki nama baik. Bahkan setiap berkencan aku selalu membawa teman-temanku salah satunya. Hanya malam itu aku sendiri itu pun karena kamu yang berjanji akan menemani ku bukan?"
Panjang lebar aku berkata hingga ku perhatikan masing-masing mantan sahabatku membungkam bibir mereka syok. Aku tahu mereka baru sadar dengan pikiran yang tertutup dengan hasutan dari Rifana selama ini. Ucapanku baru bisa mereka ingat satu persatu. Sayang itu semua tak lagi ada artinya untukku. Aku tidak akan butuh manusia yang hanya bisa membuat hidupku jadi kusut.
__ADS_1
"Tapi, apa buktinya? Bahkan sejak malam itu kamu tidak berani muncul di hadapanku. Dan ketika kamu hadir justru mengatakan yang bukan-bukan pada mereka semua. Aku seorang kakak yang tidak mungkin merusak harga diriku dengan adikku, Gara. Kami di besarkan dengan penuh kasih sayang yang tentunya tidak akan membuat moral kami rusak."
Setelah mengatakan itu semua barulah aku melangkah meninggalkan kelas. Aku tahu semua wajah mantan sahabatku terlihat menyesal setelah mendengar semua ucapanku barusan. Sayang, aku tak lagi perduli. Yang ku pikirkan saat ini adalah masa depanku dan calon jodohku kelak yang belum kelihatan hilalnya.