
“Uncle,” lamunan Raga seketika buyar dari menatap dalam tubuh wanita cantik yang tengah berbaring di sana. Ia terkejut mendengar Gara memanggilnya. Buru-buru Raga pun mengalihkan pandangan menatap ke jendela kamar yang memang belum di tutup tirainya oleh Tasha.
“Gara, ayo segera bersiap kita akan pergi jalan-jalan.” ajaknya yang membuat Gara sontak sangat bahagia. Bocah itu penuh semangat bangkit dari tidurnya meski tubuhnya masih terasa sangat lemas ingin berbaring sejenak. Kini ia berloncat di atas tempat tidur dan turun. Hal itu memicu Tasha terbangun dari tidur lelapnya.
”Maafkan Gara, Kak. Tadi tidak sengaja.” ujarnya ketika sadar telah membuat Tasha terbangun dari tidurnya.
Namun, bukan hal itu yang membuat Tasha kaget saat ini, melainkan tubuh pria yang membelakanginya saat ini yang jauh membuat Tasha sangat kaget.
“Raga,” ujarnya sontak bangkit dari pembaringan meneliti tubuhnya memastikan tak ada yang di lihat oleh Raga sedari tadi.
Mendengar namanya di sebut Raga bukannya membalikkan tubuh menatap Tasha, ia justru tetap dengan posisinya sembari meminta mereka bersiap.
“Bersiaplah. Kita akan bawa Gara jalan-jalan.” tuturnya dengan angkuh.
Kemarahannya pada Tasha yang dekat dengan Rafa masih belum bisa ia hilangkan. Bagaimana pun Raga tak akan membiarkan Tasha menganggap itu adalah hal remeh. Ia harus bisa menegaskan jika dirinya adalah milik Raga. Bukan, lebih tepatnya baru mau menjadi milik Raga. Sebab sampai detik ini pun mereka tak memiliki hubungan apa pun. Dan itu pula yang membuat Raga tak bisa membatasi ruang Tasha pada pria mana pun. Beruntung ada sang anak yang menjadi alasannya selama ini.
Setelah bersiap dan pergi, kini ketiganya tampak berada di sebuah restauran yang memiliki pemandangan sangat indah. Restauran yang bergerak di atas air dan berkeliling di laut itu. Suasana yang sangat romantis dengan pencahayaan yang minim tentu saja membuat Tasha memutar matanya malas.
Sekali pun terdengar suara Gara yang begitu antusias melihat pemandangan malam itu.
“Apa kau yakin tidak salah tempat untuk membawa Gara yang usianya bahkan belum genap lima tahun?” ujar Tasha bertanya dengan tatapan penuh selidik.
“Memangnya ada apa dengan usia ku, Kak? Di depan tidak ada tulisannya bukan? Dilarang membawa anak di bawah usia lima tahun.” celetuk Gara yang membuat Raga hampir meledakkan tawanya.
Justru hal itu membuat Tasha semakin kesal pada Raga. “Berhenti mengatas namakan Gara, Ga. Ini bukan tempat yang pantas untuknya.” ujar Tasha acuh dari ucapan sang anak.
__ADS_1
Gara menunduk memajukan bibirnya tak suka jika keduanya berbicara dingin seperti itu. Ia sangat senang jika melihat Tasha dan Raga baik-baik saja dan fokus padanya.
“Memang ini bukan untuk Gara. Apa aku salah membawa kalian kesini? Iya ini memang untukmu, Sha. Apa aku salah melakukan ini semua demi meminta maaf padamu? Apa aku salah memperjuangkan wanita yang aku cintai dan berharap bisa bersama membahagiakan anak kita?” Tasha menatap dalam kedua mata Raga yang juga menatapnya intens.
Sebuah kapan yang hanya mereka isinya mulai berkeliling bahkan terdengar alunan biola yang menambah kesan romantis. Lilin yang ada di meja makan pun menyala dengan indahnya.
Gara hanya diam mendengarkan perdebatan mereka.
“Mulailah bersamaku dari awal, Tasha. Kita bisa melewati ini semuanya bersama dan maafkan semua yang terjadi. Meski terlalu kejam rasanya ketika aku meminta maaf dengan masalah yang tidak pantas di maafkan. Tapi, sumpah demi apa pun aku berjanji selama kita bersama aku akan mengusahakan segala kebahagiaan kau dapatkan. Jadilah ratu di hidupku dan anak kita…” Raga menggenggam tangan Tasha dengan sangat erat.
”Kali ini bukan demi Gara saja. Aku paham kalian akan baik-baik saja tanpa aku. Tapi, ini demi hatiku yang benar-benar menginginkanmu, Sha. I love you. Aku ingin kita segera menikah, hidup bersama dan membesarkan anak kita bersama sampai maut yang memisahkan.”
Tasha terdiam seribu bahasa. Jika biasanya ia akan berucap banyak kata menolak semua permohonan Raga, tidak malam ini. Cinta yang ia miliki ternyata terasa semakin jelas saat Raga memintanya dengan baik-baik. Ia pikir semua hanya perasaan kasihan selama ini. Kini Tasha tahu dimana hatinya berlabuh. Ingin menolak bersatu, namun cintanya begitu bermekaran kala mendengar kata-kata Raga dan segala hal yang sudah pria itu siapkan malam ini.
“Hoh?” Mata Gara membelalak saat melihat keduanya sangat dekat. Buru-buru bocah itu pun memutar tubuhnya membelakangi hal yang tak pantas ia lihat.
Yah, Raga tahu batas. Ia hanya mendekat dan menatap lekat kedua mata Tasha.
“Jawab aku, Tasha…mau kah untuk kita bersama selamanya? Jangan menjawab tidak. Kita harus bersama. Sebab semua sudah aku persiapkan dan kita akan menikah setelah pulang dari Singapura.”
“Ga, kau…” Tasha terkejut saat mendengar ucapan Raga yang terkesan tak terima penolakan.
Pria itu tersenyum. “Kita akan menikah dan mulai sekarang kau adalah milikku. Tidak ada kata dekat dengan pria mana pun.”
“Uncle, Kakak, apa masih lama?” tanya Gara memecah ketegangan dua orang dewasa tersebut.
__ADS_1
Hingga gerakan wajah Raga yang ingin meraup bibir Tasha pun urung ia lakukan. Helaan kasar terdengar dari sosok Raga yang kecewa. Padahal suasana seromantis ini sudah ia siapkan demi membuat Tasha terbuai dengan kata-katanya. Bahkan baru saja Tasha diam mematung seolah menunggu serangan bibir darinya, sang anak sudah mengacaukan semuanya.
“Jaga sikapmu. Ada Gara,” peringat Tasha yang baru sadar jika mereka tengah membawa ekor kecilnya.
Mereka bertiga pun akhirnya makan. Senyum bahagia di wajah Tasha begitu sempurna malam ini. Raga pun turut merasakan suasana yang menyenangkan saat ini. Ketiganya nampak seperti keluarga yang sangat harmonis dan serasi.
“Bagaimana kalau kita abadikan momen ini?” usul Raga yang langsung di setujui oleh Gara. Tasha hanya tersenyum saja tak menunjukkan sikap dinginnya seperti biasa. Rasanya malam ini Raga telah membawa hatinya yang dingin hanyut bersama air laut di bawah sana.
Jika di sini Raga begitu asik menikmati hasil usaha sang calon ibu mertua, berbeda dengan calon ibu mertua yang menyerah kesakitan.
Indir tampak mengeluhkan pinggangnya yang sudah ngilu di buat sang suami.
“Pah, pinggang mamah benar-benar nggak kuat.” ujarnya memegang pinggang yang tak bisa di gerakkan lagi.
Saat ini keduanya tengah berada di kamar. Firman yang mendekati sang istri sembari memeluknya erat.
“Mah, nanggung. Siapa suruh mamah minta papah minum obat itu? Ini nggak bisa kalau nggak di selesaikan sekarang. Papah pusing.” ujar pria paruh baya itu yang membawa sang istri berbaring lagi.
Padahal Indri sangat ingin duduk sekedar istirahat sembari meluruskan tubuhnya di sofa bed.
“Ampun, Pah. Pinggang mamah ngilu rasanya.” tutur wanita itu memohon. Ini adalah ronde ke empat yang mereka lewati saat bangun tidur sore tadi.
“Mamah baring saja pasrah. Biar papah yang selesaikan. Okey?” tutur Firman.
“Ini juga sakit, Pah. Sudah panas rasanya.” tunjuk wanita itu pada area sensitifnya.
__ADS_1