
Satu persatu wajah di tatap penuh selidik oleh Bu Dewi. Ia mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan akhirnya satu orang menjadi target untuk ia bertanya.
"Ada apa sebenarnya? Apa kalian membuat ulah sampai membuat jam kerja ini berhenti?" tanyanya.
"Tidak, Bu Dewi. Kami semua tidak tahu apa yang terjadi. Tuan Rafa datang bersama wanita dan tiba-tiba meminta kami semua menghentikan kegiatan kami." ujarnya menunduk tanpa berani menatap sang bos sama sekali.
Bu Dewi akhirnya di buat pusing sendiri. Sungguh ia benar-benar bingung saat itu hingga akhirnya tiba lah sosok pria tampan yang tak lain adalah sang anak. Rafa datang tanpa melepas jas lab yang ia pakai, tentu dengan seorang diri ia datang. Sepasang mata Bu Dewi pun menoleh mencari keberadaan Tasha di balik tubuh anaknya.
"Bu, sudah. Jangan mencari wanita ular itu. Kita bisa memajukan ini semua tanpa wanita licik seperti dia." tutur Rafa kembali lagi.
Kening Bu Dewi pun mengernyit mendengarnya. "Wanita ular? wanita licik? Kamu apa-apaan Rafa? Siapa yang kamu maksud?" tanyanya lagi dengan wajah sangat bingung.
Tanpa berkata apa pun Rafa sudah memberikan beberapa hasil tes yang ia dapatkan dan beberapa sampel bahan yang ia baru saja uji. Bu Dewi membawa setiap kalimat dengan wajah begitu cermat tak ingin melewatkan satu huruf pun.
Rafa menghela napas saat melihat sang ibu sudah selesai membaca. "Semua sudah ketahuan hasilnya, Bu. Inilah faktor utama yang membuat semua orang mengeluhkan kualitas baju pabrik kita. Dan semua ini pasti dari wanita itu. Dengan semua yang ia lakukan tentu saja akan semakin cepat pergerakan penjualan di pasar luar."
__ADS_1
Bu Dewi menatap kaget mendengar sang anak justru menuduh Tasha yang melakukan ini semua. Sumpah demi apa pun tak ada sama sekali pikiran buruk yang ia layangkan pada Tasha.
"Rafa, kamu salah besar kalau mengira ini semua karena Tasha. Wanita itu sama sekali tidak tahu apa pun tentang masalah ini dan ibu yang memintanya kemari untuk memastikan jika semua bahan sudah sesuai dengan yang di berikan di awal." terang Bu Dewi kekeuh mempercayakan Tasha untuk semua masalah ini.
"Astaga Rafa...kamu salah besar. Sekarang ibu tidak mau tahu kamu selesaikan semua masalah ini sampai tuntas dan pastikan semua dari akar-akarnya. Kepala ibu pusing kamu buat seperti ini." Bu Dewi pun pergi tanpa mengatakan apa pun pada sang anak.
Meski seorang dokter, Rafa pun juga merupakan orang yang mampu untuk Bu Dewi percayakan semua masalah ini.
***
"Papah, Gara pulang tidak telat kan?" tanya bocah kecil itu melebarkan senyum pada sang kakek.
Raga yang merasa kikuk berusaha setenang mungkin melangkah mendekat. Meraih tangan Firman ingin mencium punggung tangan namun saat Raga menundukkan kepala justru pria paruh baya itu menarik tangan dari genggaman Raga.
"Tante," Raga pun beralih pada sosok Indri yang tersenyum kaku padany. Serba salah rasanya Indri di saat berdiri bersama sang suami.
__ADS_1
Semua kisah sudah ia tahu dan ingin menghakimi Raga rasanya tak adil. Meski ada rasanya sangat kecewa pada pria di depannya saat ini.
"Gara, masuk." titah Firman.
Gara pun patuh meninggalkan sang kakek tanpa berani bersuara lagi. Ia melambaikan tangan pada sang ayah yang belum ia ketahui sampai saat ini. Raga tersenyum dan berdiri hendak berpamitan.
"Pintu gerbang keluar di sana." Firman begitu dingin mempersilahkan Raga pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Ia membalikkan tubuh menggandeng sang istri pergi masuk ke dalam rumah.
Raga tak bisa berbuat apa pun lagi. Hatinya sudah seharusnya puas dengan tidak di larang bertemu sang anak, namun entah mengapa keberadaan Tasha yang tidak ia ketahui membuat hatinya begitu gelisah.
"Kemana kamu, Sha?" gumamnya lirih.
Lama berada di dalam mobil akhirnya pria itu melajukan kendaraan membelah jalanan dengan pikiran tak menentu. Tanpa ia tahu jika di sini orang yang tengah ia pikirkan tengah menikmati makanan di salah satu restaurant dengan pikiran yang terasa panas.
"Bisa-bisanya namaku yang di sebut. Aku bukan mengemis kerja dengan Bu Dewi, tapi kenapa justru aku yang di sudutkan seolah aku yang mengemis kerja sama ini. Sebaiknya aku pulang saja. Di sini mereka tidak membutuhkan aku." ujarnya mengumpat kesal terutama pada pria yang sudah menduhnya tanpa sebab itu.
__ADS_1