Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Berkumpulnya keluarga Besar


__ADS_3

“Kami sudah memikirkan semuanya, Pak Raga. Apa pun resikonya demi Mikael kami akan terus maju.” Itulah kata dari papahnya Mikael.


Aku tidak tahu bagaimana nasibku ke depannya. Menikah dengan pria yang nyaris sempurna namun sedikit pun rasa untuknya tidak ada. Aku merasa adalah wanita yang paling jahat. Hal ini sama saja seolah aku mempermainkan diri Mikael.


“Maafkan aku, Mik.” Ku tatap sendu pria yang juga menatapku saat ini dengan tersenyum.


Sampai akhirnya malam ini kedua orangtua kami sudah sepakat untuk melangsungkan acara tunangan. Dadaku terasa begitu sulit bernafas.


“Baiklah, tunangan akan kita laksanakan dua minggu lagi.” Aku dan Mami sama-sama syok mendengar ucapan Papi. Berbeda dengan Mikael dan keluarganya yang hanya tersenyum.


Tak ada yang bisa membantah ucapan Papi Raga. Hanya menuruti keinginannya saja yang bisa aku lakukan.


“Yasudah kalau begitu kami pamit pulang dulu. Semua persiapan akan di urus oleh orang saya.” ucap papahnya Mikael.


“Jangan, Pak. Biarkan untuk persiapan ini saya yang menyiapkan bersama istri saya. Kami ingin memberikan yang terbaik untuk Agatha.” Lagi-lagi aku tersenyum haru mendengar Papi mengatakan itu semua.


Ingin rasanya aku bisa kembali menjadi anak kecil yang bisa terus menghabiskan waktu bersama mereka dan juga Gara. Aku benci dengan usiaku yang dewasa ini. Aku benci dengan banyaknya masalah yang harus ku hadapi.

__ADS_1


“Kenapa harus dua minggu lagi? Itu terlalu cepat. Agatha pasti belum siap.” Mami Tasha akhirnya bertanya pada Papi setelah Mikael dan keluarganya pulang.


Di sini kami hanya bertiga. Aku menunduk tak berani berkata apa pun. Aku tahu Mami tak ingin membuat nama Papi buruk di depan rekan bisnisnya jika menentang ucapan Papi.


“Tasha, Agatha sudah setuju menjalin pernikahan. Itu artinya mau cepat atau lambat pertunangannya bukan masalah. Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak kita jika terlalu lama menunda.” Aku paham apa yang Papi cemaskan saat ini.


Papi sangat takut jika sampai aku membuat aib di dalam keluarga ini. Dan jalan satu-satunya memang hanya menikah cepat.


“Tapi, Ga…ini terlalu mendadak. Bahkan kita belum bicara dengan nenek dan kakeknya anak-anak. Aku juga belum siap berpisah dengan Agatha.” Barulah aku mengangkat wajah mendengar ucapan Mami.


Mami Tasha terlihat begitu sedih menatap Papi saat ini. Rasanya aku tak percaya bisa di sayangi begitu dalam oleh kedua orangtua angkatku.


“Setidaknya Gara tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi jika aku sudah menikah, Mi.” lanjutku dalam hati.


Mami Tasha yang menatapku hanya menghela napas. Kurasakan tangannya mengusap lembut kepalaku.


“Mami dan Papi terus mendoakan yang terbaik untuk kalian. Kamu harus benar-benar mempersiapkan diri, Agatha. Pernikahan itu hanya sekali jadi mantapkan pikiran kamu yah? Mami ke kamar dulu.” Aku mengangguk.

__ADS_1


Mami berjalan cepat menuju kamar di susul dengan Papi yang mengejar sambil memanggil Mami. Mungkin di dalam kamar mereka akan berdebat lagi tentangku.


***


“Apa? Tunangan? Seminggu lagi?” Raut wajah Nenek tampak syok. Mami Tasha dan Papi hanya mengangguk setelah mengatakan niat tujuan kami makan malam di rumah Nenek Indri dan Kakek Firman.


Meski aku bukan cucu kandung mereka, tapi menurut Papi dan Mami berita ini tetap wajib mereka tahu.


“Agatha, kamu siap? Usia kamu masih muda, Sayang. Lagi pula untuk apa buru-buru menikah? Kamu bisa berkarir dulu. Ini pasti ulah Papi kamu kan?” selidik Nenek menatap Papi.


Memang semua keputusan yang cepat ini ada di tangan Papi. Tapi, tentu atas kemauanku juga.


“Tidak, Nek. Ini semua sudah kesepakatan aku dan Mikael. Kami tetap berkarir meski sudah menikah. Dia juga paham kok kalau aku harus membantu Papi dan Mami.” Nenek Indri mengangguk.


“Tapi kenapa harus mendadak sampai seminggu lagi sih, Ga? Itu terlalu mepet.” Kini Oma Rima yang bersuara.


Kami semua malam ini memang berkumpul di rumah Mami Tasha waktu kecil. Rasanya sangat ramai jika sudah berkumpul seperti ini. Sayang, adikku Gara belum bisa turut hadir di sini. Lagi pula aku juga merasa tidak siap jika berhadapan dengannya di waktu seperti ini. Pikiranku benar-benar pusing saat ini mengingat pernikahan yang sudah semakin dekat.

__ADS_1


“Sebenarnya dua minggu lagi, Bu. Tapi, kami yang baru sempat mengumpulkan kalian di sini.” Wajah Nenek, Oma, dan Kakek sama-sama melongo mendengar ucapan Papi.


__ADS_2