
Satu tamparan, dua tamparan, pukulan tinju melayang pada perut hingga sebuah injakan tepat pada perut dengan tubuh yang terlentang di lantai marmer mewah membuat seorang wanita berteriak histeris. Air matanya jatuh begitu derasnya. Wajahnya bahkan pucat dengan kedua tangan yang gemetar ketakutan sekali.
“Ayah, cukup! Apa yang ayah lakukan?” Rima berlari mendaratkan tubuhnya duduk memeluk wajah sang anak yang babak belur akibat serangan dari sang ayah.
Ia mengusap setiap tetesan darah yang keluar dari wajah Raga saat itu. Sama sekali Raga tak ada melindungi diri dari pukulan sang ayah. Hingga akhirnya teriakan dari Dahlan pun terdengar.
“Urus sendiri pernikahanmu, dan urus semua benihmu yang mungkin masih banyak di luar sana, Raga. Saya tidak akan pernah mau mendengar hal itu lagi. Memalukan!” Dengan wajah yang penuh amarahnya Dahlan sudah berjalan menuju kamar meninggalkan sang anak yang terkapar di lantai.
Ia tak pernah semarah ini sebelumnya. Sementara Rima yang mendengar ucapan sang suami hanya menangis menggelengkan kepala. Tak yakin jika Raga membuat ulah kembali sebab ia tahu bagaiman perjuangan Raga selama ini untuk mendapatkan maaf dari Tasha.
“Raga, apa yang terjadi? Katakan pada Bunda?” Ia memeluk erat usai menyeka air mata di ujung mata elang itu.
__ADS_1
Raga benar-benar di ambang rapuh saat ini. Hingga tangisan Rima terhenti kala mendengar suara lembut menyapanya.
“Ayah, Renata takut.” Suara yang begitu dekat dan membuat Rima menatap ke depannya. Sosok anak perempuan kecil yang cantik. Bibir dan hidung sama seperti Raga.
“Ayah?” Bibir Rima terasa begitu berat saat mengatakannya. Ia menatap Raga yang menatapnya begitu dalam.
Raga bangkit sekuat mungkin meski harus di bantu bunda dan bibi. Ia di dudukkan di sofa dengan Rima yang mengobati lukanya. Jelas Raga tahu dengan tatapan penuh tanya sang bunda.
Terlihat jelas Rima yang susah payah menelan salivahnya mendengar pengakuan sang anak.
“Apa ada Tasha kedua, Raga?” Tanya wanita paruh baya itu dengan nada yang lemas sekali. Bahkan tangannya pun sudah jatuh ke bawah tanpa bisa mengobati sang anak lagi.
__ADS_1
Raga diam pertanda ia namun tak sanggup menjawabnya. Saat itu pula Rima menggeleng dengan air mata yang jatuh. Ia melangkah pergi menuju kamar memilih untuk menenangkan sang suami. Kali ini ada yang harus mereka perjuangkan yang tentu lebih penting dari pada mengurusi masalah Raga.
“Ayah tidak punya muka, Bunda untuk meminta maaf dari mereka. Biarkan saja kalau mereka mau Raga dan Tasha cerai. Sudah cukup semua yang Tasha alami selama ini. Dan keluarganya juga. Mereka berhak bahagia tanpa ada ikatan dengan pria seperti si Raga itu. Mengakui anak saja ayah sangat malu.”
Rima mendekati sang suami. Mengusap lembut punggungnya dan berkata, “Ayah…hilangkan rasa malu demi hubungan baik kita dengan mereka. Kita harus datang bagaimana pun juga untuk meminta maaf. Kita sudah memiliki besan dan berhak untuk saling berbicara empat mata. Ayo kita siap-siap ke rumah Tasha.”
Segera keduanya bersiap meski terlihat jelas Dahlan yang enggan untuk bergegas keluar kamar.
Mereka berjalan melewati meja makan di mana Raga justru menemani anak kecil itu untuk makan dengan bibi yang melayani.
Rima dan Dahlan kompak menatap lalu menghela napas di susul dengan gelengan kepala. Mereka benar-benar syok mendapati Raga justru datang berkunjung ke rumah dengan membawa anak hasil dari hubungan gilanya di masa lalu.
__ADS_1