
Sepanjang jalan dari menjemput ke mall hingga pulang ke rumah Tasha tak hentinya menceramahi sang anak. Bagaimana tak takut, jika Gara di usia yang kecil sudah begitu banyak di gilai para teman wanitanya. Ketakutan akan mengikuti jejak sang papah membuat Tasha benar-benar antisipasi. Gara harus di beri pengertian tentang batasan dalam bergaul. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada anaknya.
“Sentuhan tangan, No. Sentuhan badan lainnya juga, No. Gara kamu hanya boleh bicara dengan teman wanita dengan jarak sepuluh langkah. Dengar mami yah?” Tasha kini memberi arahan pada sang anak.
“Kan kalau sepuluh langkah jauh, Kak. Gara nanti pasti capek teriak-teriak. Itu bisa bikin Gara jadi tidak tampan lagi dong.” Keduanya terus saja berdebat hingga tiba di rumah.
Raga yang melihat keposesifan sang mantan hanya bisa menggelengkan kepala. Untuk saat ini ia tidak boleh adu argumen dengan Tasha. Bisa-bisa akses bertemu sang anak di pangkas habis.
“Ada apa cucu mamah ini?” Indri yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu tampak menghampiri Gara yang menunduk berjalan hendak masuk ke dalam rumah.
Ia tampak menekuk wajahnya tak mau melihat Indri. Tasha berjalan menyusul di belakang dengan wajah lelah.
“Sha, kenapa?” tanya Indri.
“Mah, Gara ini mulai ngikutin jejak Papinya. Kijil! Aku nggak mau ke depannya masa depan Gara rusak dan juga menyakiti hati wanita yang menyayanginya. Sana sini mau aja!” Usai menjawab ucapan sang mamah, Tasha pun berlalu pergi.
__ADS_1
Ia tak lagi mau berhadapan dengan Gara yang masih mempertahankan pendiriannya.
Indri pun menghela napasnya melihat Raga.
“Tante, saya pamit pulang dulu. Gara, jangan melawan ucapan mami yah? Gara harus patuh. Wanita memang seperti itu kalau sudah terlanjur sayang. Papi pulang dulu.” tutur Raga lagi.
Gara hanya diam. Kali ini pikirannya bukan terfokus pada masalahnya dengan Tasha. Melainkan pada panggilan papi dan mami, kakak dan uncle. Entah mengapa Gara bingung memikirkan hal itu.
“Gara, melamunin apa?” tanya Indri yang membuat sang cucu kaget.
“Mamah, Gara memanggil papi dan mami itu dosakah? Mereka kan uncle dan kakak? Gara cuman mau tunjukin ke teman-teman kalau mami papi gara masih muda semuanya.” Indri terkekeh mendengar curahan sang cucu.
Gara memang takut bertanya pada Tasha. Sebab sang mami akan terus mendesaknya memanggil tanpa bisa memberikan alasan yang tepat.
Pelan Indri mengusap lembut rambut Gara.
__ADS_1
“Memangnya Gara senang yah liat mami dan papi muda seperti itu?” Gara pun seketika menjawab dengan menganggukkan kepala mengiyakan.
“Mereka itu memang mami dan papinya Gara. Tapi karena mereka tidak berteman jadinya mereka tidak tinggal sama-sama. Dan…Gara jadi tinggalnya sama mami saja. Kan Gara sendiri yang ingin memanggil mami dengan sebutan kakak. Sedangkan mamah dan papah itu seharusnya Gara panggil oma dan opa.” jelas Indri yang begitu masih terasa ambigu bagi Gara.
“Oma dan opa? Kok Kakak tidak memanggil seperti itu juga?” tanyanya lagi.
“Oma dan opa itu khusus untuk Gara. Karena Gara itu anaknya mami Tasha. Sudah sekarang Gara masih bingung. Nanti pada waktunya, Gara akan tahu. Yang penting uncle dan kakak itu benar mami dan papi Gara. Jadi jangan sedih lagi yah?”
Keduanya pun tampak banyak bercerita sembari Indri membantu sang cucu berganti pakaian. Selepas bergandi pakaian Gara pun tidur siang.
Berbeda halnya dengan Raga yang tengah menyetir mobil menuju ke rumah. Tiba-tiba saja pikirannya pusing mengingat malam ini adalah malam dimana Tasha berjanji akan keluar dengan Rafa. Tidak. Raga tidak akan rela mereka jalan-jalan meski pun ada Gara.
Sepanjang jalan ia nampak gusar memikirkan langkah apa yang harus ia ambil. Hingga tiba di rumah pun Raga sama sekali tak keluar dari kamar. Ia terus mondar mandir mencari cara untuk bisa mencegah Tasha pergi.
Sayangnya wanita yang tengah ia pikirkan saat ini justru tengah memutuskan untuk pergi sendiri.
__ADS_1
“Sebaiknya aku pergi sendiri saja. Gara nanti pasti akan minta yang aneh-aneh pada Rafa. Sudahlah setidaknya malam ini selesai semua dan pria itu tidak lagi menggangguku.” tutur Tasha berpikir.