
Seperti yang terjadi sebelumnya, dimana hari kuliah masih sore nanti. Namun, rumahku mendadak ramai sekali. Siapa lagi pelakunya jika bukan para teman-temanku yang mengejar adikku. Ku lihat mereka semua bahkan membawa buah tangan untuk Mami. Sudah terbaca itu semua tentu hanya sekedar basa basi mereka.
“Udah nggak usah sok nanya-nanya Mami deh. Bentar aku panggilin Gara.” Aku berjalan cepat menuju kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.
Ku lihat di sana Gara justru tengah berkomunikasi dengan seseorang yang entah siapa.
“Tunggu sebentar.” Itu yang ku dengar dari adikku.
Ia menoleh padaku sembari menjauhkan ponsel dari telinganya.
“Ada apa?” tanyanya. Selalu seperti ini. Gara selalu berkata padaku dengan lembut. Aku tahu ini semua berkat didikan Mami dan Papi.
Terkadang aku suka lupa jika dia adalah adikku. Segera aku mengatakan niatku pada Gara untuk memintanya keluar dari kamar. Aku tahu Gara malas, tapi aku jauh lebih malas jika Mami Tasha harus membuang waktu meladeni mereka demi bertemu Gara.
“Heh…yasudah. Ayo keluar.” ajaknya menggandeng tanganku.
“Gar, kita cuman keluar dari kamar. Bukan mau nyebrang jalan kenapa harus gandengan begini?” tanyaku pada Gara.
“Ini akan lebih aman. Ayo.” Lagi ia mengeratkan genggaman tangannya.
__ADS_1
Kami berdua pun melangkah keluar kamar. Terdengarlah saat itu juga suara heboh para teman-temanku.
“Ah! Gara!”
“Gar, apa kabar?”
“Ya ampun adiknya Agatha makin mapan aja sih?”
Berbagai gombalan pun ku dengar menyapa adikku. Saat itu aku hendak menjauh dan melepaskan tanganku dari Gara. Ternyata gagal. Gara justru memintaku tetap bersamanya.
“Kakak di sini saja sama aku dan mereka.” Aku memutar malas kedua bola mataku mendengar permintaan yang lebih berarti ke perintah.
“Yasudah kalau begitu nikmati cemilannya yah? Mami mau ke kamar dulu siap-siap ke kantor Papi.” Aku tersenyum mengangguk mendengar ucapan Mami.
Sesekali aku sering berandai untuk bisa memiliki keluarga seperti Mami dan Papi kelak. Hidup damai, penuh cinta dan kasih sayang. Pasti sangat bahagia rasanya.
Aku hanya diam duduk di samping adikku yang terus mendapat pertanyaan dari para temanku.
“Gar, kapan-kapan boleh dong kita main ke tempatmu kuliah bareng Agatha? Yah kan, Ta?” tanya temanku padaku.
__ADS_1
“Hah? I-iya.” Aku menjawab asal tanpa perduli bagaimana Gara melotot padaku.
Dengan para temanku Gara tak bisa melakukan apa pun. Ia hanya menerima kedatangan mereka dengan baik. Waktu kuliah ku pun masih sekitar empat jam lagi. Dimana rasanya pasti sangat pusing menghadapi keriuhan mereka semuanya.
“Udah siang nih, bantuin bibi masak yok baru makan. Bntar lagi kita kuliah loh.” Suaraku membuyarkan fokus ke lima temanku yang asik menatap Gara sambil bertanya banyal hal yang menurutku sangat tidak penting.
“Kak, masakin aku menu biasa yah?” pintah Gara. Aku paham apa yang di minta adikku.
Mie goreng campur sayur sawi dan kacang panjang. Itu menu kesukaan Gara yang sering kali ia minta padaku.
Dengan semangat semua teman-temanku membantu di dapur. Saat itulah aku bisa melihat Gara bernapas lega. Kasihan sekali adikku yang tampan. Ternyata ketampanan yang kau punya justru membawa petaka.
“Ini sayurannya, Ta.”
“Ini di ginikan kan, Agatha?”
“Aduh yang ini gimana cara potongnya?” Kelima temanku yang aku tahu tak pandai memasak berusaha keras menunjukkan kelihaian mereka yang buta tuli tentang dapur demi mendapatkan perhatian Gara.
Sejenak aku tertawa dan menoleh pada pria yang kini menjadi rebutan teman-temanku.
__ADS_1
“Gara kok melamun sih?” Aku bergumam dalam hati lalu mengalihkan pandanganku ke arah masakan saat mendapati Gara justru melihat padaku.