
Pagi hari samar mataku terbuka kala mendengar suara ponsel berdering. Segera aku bangun dari tidurku berharap ada kabar tentang Gara. Bagaimana pun aku sangat mencemaskan adikku. Dan ternyata Papi yang menghubungi aku pagi itu. Segera ku tempelkan ponsel pada telingaku.
"Iya, Pi?" sahutku.
"Agatha, bagaimana keadaanmu? Apa kamu sudah membaik? Bagaimana Nenek merawatmu di sana?" Aku tersenyum. Ini adalah momen langka ketika Papi banyak mengeluarkan kata-kata padaku.
Pria yang hangat hanya dengan Mami saja kadang membuatku bertanya apakah Papi tidak begitu suka dengan kehadiranku? Dan kini seolah pertanyaan itu sirna semua dari kepalaku. Papi perhatian padaku, hanya saja ketika ada Mami, maka Papi akan menyerahkan semuanya pada Mami Tasha.
"Aku sudah sehat, Pi. Nenek merawatku dengan baik. Bahkan tubuhku terasa begitu segar saat bangun pagi ini."
"Baiklah, tetaplah tinggal di rumah Nenek sampai kami kembali." Aku mengangguk menurut pada perintah Papi.
__ADS_1
Kabar Gara yang ku nantikan tak kunjung ku dengar dari mulut Papi Raga. Itu sebabnya aku berinisiatif menanyakan sendiri.
"Em, Pi...Gara bagaimana? Apa sudah membaik?" tanyaku penasaran.
Lama di seberang telepon tak ada ku dengar suara Papi sampai akhirnya Papi menjawab, "Em adikmu masih sakit. Tapi, sudah sadar. Sejak sadar ia tak mau bicara apa pun. Apa kau mau ke mari menjenguknya? Mungkin dengan kedatangamu, adikmu akan membaik." ujar Papi yang seketika membuat aku terdiam tanpa kata.
"Agatha, apa kau masih di sana?" tanya Papi yang sontak membuat aku tersadar dari lamunan.
Sejak saat itu aku tak berani lagi memikirkan keadaan Gara meski sekedar mengirim pesan pada Mami. Aku tidak ingin karena hal ini justru memberikan waktu untuk aku dan Gara semakin dekat. Cukup sudah usaha yang kami bangun agar berjauhan dan tak saling sapa. Itu akan jauh lebih baik sepertinya.
Dua hari menginap di rumah Nenek Indri, tubuhku sudah terasa sangat membaik. Dan pagi ini aku memutuskan segera ke kantor untuk kerja. Di luar dugaan, justru kelima temanku datang di loby kantor ketika aku baru saja hendak masuk.
__ADS_1
"Tha, akhirnya datang juga."
"Iya Agatha. Kita dengar Gara sakit yah?" tanya Sela yang membuat keningku mengerut dalam.
Dari mana mereka tahu? Pikirku. Namun, aku hanya diam menunggu kelima temanku mengatakan semuanya. Padahal waktu kerjaku sudah sangat mepet saat ini. Tapi, jika aku tidak meladeni mereka yang ada kantor tentu akan rusuh saat ini.
"Guys, ayo ikut ke ruanganku saja. Tapi, tolong kalian jangan buat kacau kantor Papi yah?" Mereka semua mengangguk patuh.
Segera aku melangkah dan di belakangku kelima temanku mengikuti aku. Sebenarnya aku tak nyaman mereka ke kantor di pagi seperti ini. Tapi, tak apalah. Nanti aku akan beri penjelasan pada Papi jika mereka datang bukan untukku. Tapi, untuk Gara.
"Guys, kalian kenapa sih ke kantor segala? Aku lagi kerja." tanyaku tak habis pikir. Senekat ini mereka sampai datang ke kantor hanya untuk informasi adikku yang bahkan sama sekali tak mengingat mereka.
__ADS_1
"Habis rumah mu kosong, Agatha. Itu sebabnya kita ke sini semua. Kamu sengaja menghindar dari kita yah? Bukannya kamu sudah maafin kita semua?"