Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 26


__ADS_3

Samar aku mendengar suara ketika mataku masih sulit ku buka. Kepalaku terasa sangat berdenyut dan tubuhnya lemas sekali. Di punggung tangan ku rasakan ada benda yang menempel seperti menusuk.


“Agatha?” Suara yang ku dengar pertama kali ketika belum sempurna mataku melihat sekeliling.


Ada Mami Tasha dengan Nenek dan Kakek yang duduk di ruangan ini. Aku di rumah sakit ternyata.


“Syukurlah kamu sadar juga, Sayang. Mami sangat cemas.” Nenek Indri dan Kakek Firman pasti menemani Mami Tasha menjagaku. Sebab Papi sudah berangkat bersama Kakek Dahlan dan Nenek menjaga Gara.


Mengingat Gara sontak saja pikiranku langsung bertanya keadaan adikku di sana.


“Gara bagaimana, Mi? Apa ada kabar lagi tentangnya?” tanyaku yang membuat Mami Tasha mengangguk.


“Gara belum juga sadar. Papi kamu masih dalam perjalanan. Beruntung di sana ada teman-temannya yang membantu menjaga adikmu.”


“Sudah sekarang kamu jangan banyak pikiran. Kamu pasti kelelahan terlalu banyak bekerja. Lain kali harus perhatikan kesehatan juga. Kalau sakit begini kasihan kan Mami kamu?” Aku mengangguk mendengar nasihat Nenek Indri yang berkata lembut sembari memegang tanganku. Di periksanya keningku.


Tuhan, keberuntungan sebesar apa yang ku dapatkan saat ini? Semua keluarga yang bahkan tak memiliki ikatan darah denganku begitu baik memperlakukan aku.


“Mami, Nenek, Kakek, maafkan aku. Aku sudah merepotkan kalian. Aku janji tidak akan merepotkan kalian lagi.” ujarku dalam hati. Aku benar-benar merasa sangat bersalah.


Dimana seharusnya Mami dan Papi selalu bersama justru kini mereka berpisah karena kelalaianku.


“Kami tidak kerepotan, Agatha. Hanya kesehatanmu itu jauh lebih penting.”

__ADS_1


Tiga hari aku di rawat di rumah sakit akhirnya kini aku bisa kembali pulang ke rumah. Tubuhku jauh terasa sangat sehat dari sebelumnya. Dan selama itu pula Mami dan kedua orangtuanya tak pernah mau meninggalkan aku di rumah sakit sendirian.


“Belum turun juga yah? Di sini Agatha sudah pulang ke rumah. Apa aku kesana saja?” Ku dengar Mami sepertinya sedang berkomunikasi dengan Papi di telepon. Kepala Mami mengangguk mendengar ucapan Papi di seberang sana yang aku sendiri tidak bisa mendengarnya.


“Iya, baiklah. Hati-hati.”


“Ada apa, Mi?” tanyaku saat Mami Tasha mengakhiri panggilannya.


“Papimu meminta kita ke sana saja. Gara belum juga baikan. Bahkan sekarang malah di tambah muntah-muntah. Adikmu sepertinya lebih parah. Dan kita harus kesana.” Aku terdiam sesaat. Mendengar kata kita mendadak aku gelisah.


Tidak. Aku tidak boleh pergi ikut dengan Mami. Aku tidak boleh bertemu Gara lagi. Kami sudah memutuskan untuk berjauhan demi kebaikan hubungan keluarga.


Jika aku di sana pasti akan ada hal yang tidak ku inginkan terjadi. Keadaan Gara yang lemah pasti bisa membuat aku luluh entah dengan cara apa.


“Em, Mami aku di sini saja yah? Biar aku yang mengurus kerjaan Papi di sini. Sebaiknya Mami saja yang berangkat. Jika memang masih belum membaik beberapa hari ke depan aku akan menyusul.” ujarku.


“Yasudah. Tapi kamu tinggal di rumah Nenek Indri yah? Mami tidak akan tenang kalau kamu di rumah sama Bibi saja.” Aku pun patuh. Meski sebenarnya rasanya sangat tak nyaman jika harus tinggal di rumah Nenek yang tak ada ikatan darah apa pun denganku.


Biasa aku akan tinggal di rumah Nenek Rima. Tapi kali ini mereka sudah di Jerman bersama Papi.


Alhasil aku pun di antar Mami ke rumah nenek keesokan harinya. Keadaan tubuhku memang belum sepenuhnya pulih. Dan hari ini juga Mami langsung ke bandara.


Andai saja tubuhku tak lemah seperti ini ingin sekali rasanya aku bergegas kerja ke kantor. Tinggal di rumah orang tentu sangat tidak nyaman. Dan ini adalah kali pertama aku tinggal di rumah Mami dan Gara.

__ADS_1


“Wah kamar Mami sangat luas dan rapi.” pujiku ketika pertama kali memasuki kamar Mami yang katanya tempatnya sejak kecil.


Di sini aku sendirian mencermati setiap sudut kamar Mami. Dimana banyak foto Mami dan Gara sewaktu kecil. Wajah bocah tampan di depanku saat ini masih bisa ku ingat jelas.


“Dia memang benar-benar tampan.” pujiku tak sadar berucap.


Namun, satu hal yang mencuri perhatianku saat ini. Satu pun tidak ada wajah Papi di pajang di kamar ini.


“Ini Nenek bawakan makan siang untukmu, Agatha. Biar bisa minum obat tepat waktu.” Kedatangan Nenek Indri sontak membuat aku kaget.


“Nenek,”


“Kenapa? Kamu ingatkan adikmu saat kecil dulu? Seharusnya ingat kan usiamu tidak begitu kecil saat datang kemari dulu.” Aku mengangguk.


Rumah ini memang sebelumnya pernah aku datangi. Dimana Papi saat itu mendapatkan pukulan yang banyak dan keras dari Kakek. Sebelumnya aku sempat marah dan tidak suka dengan perlakuan Kakek Firman. Namun, kata Gara itu adalah hukuman jika seseorang berlaku tidak baik.


“Aku ingat, Nek. Hanya saja mengapa Papi tidak ada wajahnya di antara banyak foto ini? Sedangkan di rumah sana ada kok di pajang foto mereka bersama Papi.” Jiwa penasaranku membuat Nenek menghela napas dan meletakkan makanan yang ia bawa untukku di atas nakas.


“Papi kamu dulu memang tidak pernah ada selama masa pertumbuhan Gara sejak awal kehamilan Mami kamu. Itu sebabnya Papi kamu tidak memiliki foto dimasa Gara kecil. Sama sepertimu, Gara pun tak merasakan kasih sayang Papinya sejak kecil. Ketika sudah besar baru ia mengenal papinya.” Mataku membulat mendengar ucapan nenek.


“Kalian bernasib sama. Ibu kalian membesarkan kalian tanpa sosok ayah. Hamil dan melahirkan tanpa di ketahui oleh Papi kalian. Selama hamil dan melahirkan yang ada di samping Mami kamu hanya Nenek dan Kakek yang sampai sekarang Gara panggil Mamah dan Papah. Kalian anak yang sama-sama kasihan. Tapi, semua sudah terlewatkan. Tidak ada yang perlu di sesali. Yang penting kalian tumbuh dengan orangtua lengkap saat ini dan tidak kekurangan kasih sayang. Sekarang makanlah dan segera minum obat.” Aku masih merasa tak cukup dengan apa yang nenek ucapkan.


“Lalu, apa hubungannya Papi, Mami, dan Mamahku, Nek? Apa Mamahku datang sebagai wanita perebut suami orang?” Aku sangat penasaran. Selama ini aku tak berani bertanya pada Papi dan Mami. Sebab tidak ingin membuat mereka terluka.

__ADS_1


Ku lihat nenek justru menggeleng pelan. “Seperti yang nenek katakan sebelumnya. Mami dan Mamahmu sama-sama wanita yang hamil tanpa di dampingi Papimu. Hubungan yang mereka lakukan sejak awal sudah salah. Yaitu berhubungan layaknya suami istri meski ikatan mereka hanya status pacaran di masa SMA. Pergaulan bebas yang membuat hidup mereka hancur. Mami dan Mamah kamu hamil di luar nikah. Bahkan Papi kamu sendiri pun tidak tahu hal itu. Hingga akhirnya yang lebih dulu terungkap adalah Gara. Dimana Papi kamu berusaha keras menikahi Mami Tasha. Namun, kami semua tak menyangka jika di tengah kebahagiaan mereka justru kedatanganmu sebagai anak dari wanita lain membuat pernikahan seumur jagung itu terancam hancur. Papi kamu sempat ingin berpisah, sampai pada akhirnya Mami kamu mencoba menerima semua dengan termasuk merawat kamu sebagai anak dari masa lalu suaminya. Eh ternyata tes DNA waktu itu tertukar, dan kami semua di buat kaget ketika kamu ternyata bukanlah anak dari Papi Raga. Tapi, itu semua tidak masalah untuk kami, Agatha. Kami sudah menerima kamu seperti menerima Gara sebagai cucu kami.”


Panjang lebar nenek menceritakan hingga akhirnya aku benar-benar paham. Setidaknya ada perasaan lega yang ku rasakan ketika mamah kandungku bukanlah wanita yang merebut suami orang. Meski sebenarnya aku cukup malu ketika tahu aku bukanlah darah daging Papi, dimana artinya keberadaanku di tengah Mami dan Papi adalah kesalahan tes DNA yang mengatakan jika aku anak dari Papi dengan mamahku.


__ADS_2