
Keningku mengernyit melihat keadaan sekitar. Setelah tiga jam perjalanan mobil akhirnya kami sampai di sebuah rumah sederhana yang aku sendiri tidak tahu siapa yang kami kunjungi. Papi mengetuk pintu yang terbuka di depan sana.
Hingga akhirnya muncul seorang pria paruh baya dengan pakaian usang. Aku kasihan melihat keadaannya yang memprihatinkan.
“Pak Raga,” Kami semua mendengar pria itu menyebut nama Papi.
Mikael menatapku dalam diam. Sementara Mami maju mendekati Papi dan pria itu.
“Tasha?” Lalu pria itu menyebut nama Mami.
Dan detik berikutnya kami semua di suruh masuk ke dalam rumahnya. Aku merasa risih ketika pria itu terus menatapku.
Sampai pada akhirnya kata-kata Papi benar-benar membuat aku syok.
“Agatha, dialah papah kandungmu. Tegar, putrimu akan menikah.” Papi berkata padaku kemudian berbicara lagi pada pria itu.
Aku merasa kaget tak tahu harus berkata apa saat ini.
“Pi, Papi nggak bercanda? Papi tahu selama ini dimana Papah aku?” tanyaku.
Air mata yang entah apa artinya tiba-tiba menetes di kedua pipiku. Rasa sulit menerima kenyataan melihat pria asing di depanku saat ini. Selama aku tumbuh kembang yang aku tahu Mami dan Papi adalah orangtuaku.
“Maafkan Papah, Agatha. Papah yang meninta Pak Raga merasahasiakan ini semua. Papah malu,” Pria itu menunduk meminta maaf padaku.
Aku yang terlalu kesal sulit percaya dengan semua ini. “Selama ini Papah sudah tahu aku, tapi Papah selalu menghindar? Itu mau Papah kan? Kenapa? Apa karena aku anak dari Mamah?” Dadaku bergemuruh marah.
Posisiku yang semula duduk kini menjadi berdiri. Aku ingin menghakimi pria yang sama sekali tidak punya rasa tanggung jawab pada anaknya sendiri.
__ADS_1
“Agatha, semua ini karena keadaan. Jangan berbicara seperti itu pada Papahmu sendiri.” Mami Tasha yang selalu bertutur kata lembut lagi-lagi membuat aku luluh.
Mami menarik tanganku agar aku duduk di sampingnya. “Dia Papah kamu, selama ini Papah kamu sering mengirim uang untukmu juga. Papah kamu hanya belum siap menunjukkan diri pada kamu, Agatha. Selama ini Papah kamu selalu merasa bersalah setiap kali melihat kamu.” Ku tatap dalam pria di depanku.
Tampak matanya yang berkaca-kaca penuh sesal. Aku pun bisa merasakan bagaimana ia menatapku dengan penuh kasih.
“Papah…” Aku beralih pindah ke tempat Papah duduk. Ku peluk tubuhnya yang kurus dan tidak terurus. Sangat berbeda dari bayanganku selama ini.
Sejak kecil aku hanya melihat seorang ayah yang berpenampilan rapi dan mewah seperti Papi Raga. Ternyata Papahku sendiri hidupnya sangat menderita.
“Anakku…” Kami berpelukan cukup lama.
Meski marah dengan semua yang menutupi keberadaan Papah. Tapi, aku masih bersyukur Mami dan Papi mengantarku menemui Papah. Bahkan pertemuan kami di detik pernikahanku dengan Mikael.
“Jangan menjauh lagi dari Agatha, Pah. Sudah cukup Mamah yang pergi, jangan Papah juga.” Papah Tegar hanya mengangguk mendengar ucapanku.
“Mereka akan menikah sebentar lagi. Itu sebabnya kami kemari untuk menjemputmu ke Ibukota. Ikutlah dengan kami dan ikut mempersiapkan semua acara untuk Agatha.” Aku tersenyum mendengar Papi yang begitu menghargai Papah kandungku.
Mereka sangat tahu menempatkan posisi sebagai orangtua angkat.
“Pah, ikut yah? Jangan kecewain Agatha lagi.” Papah Tegar mengangguk.
Aku tersenyum senang. Papah yang menuju kamarnya aku bantu berkemas. Ku lihat rumah ini sangat bersih meski tak mewah.
“Pah,” panggilku dan Papah menoleh.
“Papah tinggal sendiri?” tanyaku dan Papah mengangguk.
__ADS_1
“Papah tidak menikah?” Papah menggeleng.
Banyak masih pertanyaan yang ingin aku tanyakan namun melihat ekspresi Papah yang sedih membuatku menahan semuanya. Masih banyak waktu yang bisa aku pakai nantinya.
“Kenapa dengan laki-laki itu, Agatha?” Kini justru berganti Papah yang bertanya padaku.
“Dia? Mikael, Pah?” tanyaku.
“Dia pria baik dan tidak pernah bermain-main dengan wanita. Posisinya pun juga sama denganku sebagai mahasiswa dan pekerja di perusahaan orangtua.” jawabku tepat.
“Tapi, posisi kalian tidak sama. Dia anak asli dan kamu anak Papah, Agatha.” Aku tersenyum mendengar ucapan Papah Tegar.
Kata-kata yang terasa asing bagiku ketika ada yang mengatakan aku adalah anak Papah.
“Dia pria baik dan keluarganya juga baik kok, Pah. Semua akan baik-baik saja. Status itu tidak penting.” ujarku meyakinkan Papah lagi.
Sampai tidak terasa waktu berkemas kami pun usai. Aku memanggil Mikael untuk membawakan barang Papah. Kami semua pergi kembali ke Ibukota. Aku pikir semua sudah selesai. Tapi ternyata aku salah besar.
Kini di depan kami aku tercengang melihat rumah mewah ukuran minimalis berdiri kokoh.
“Ini rumah untuk Papah kamu, Agatha. Rumah ini sangat dekat bukan dengan rumah Papi?” Papi Raga berkata seraya melingkarkan tangan di pinggang Mami.
“Pi, ini serius?” tanyaku.
“Pak Raga, jangan terlalu baik dengan saya.” Papah Tegar berkata demikian.
“Anggap saja ini balas budi kami sebab anda sudah memberi kami anak gadis yang sangat baik selama ini. Kami bisa merasakan memiliki anak lengkap selama ini.” Tak tahan aku meneteskan air mata.
__ADS_1
Papi dan Mami segera ku peluk begitu erat. Aku merasa pernikahanku dengan Mikael memang harus berlanjut. Kini keraguan yang ku rasakan hilang seketika. Aku sudah sangat bahagia memiliki Mami, Papi, Papah, dan juga Mikael. Berharap ke depannya Gara pun akan membaik kembali padaku.