Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kejujuran


__ADS_3

Tubuhku yang terasa masih lelah terpaksa harus menyudahi istirahat. Aku tidak ingin jika membuang waktu untuk bermalas-malasan. Kuliahku harus cepat selesai. Hal yang pertama kali aku lakukan adalah mengambil ponsel dan melihat notifikasi apa saja yang ada. Aku hanya menghela napas melihat grup sahabat yang tidak pernah sepi. Namun, aku sudah sangat jarang bergabung dengan mereka karena kesibukanku.


“Mikael,” gumamku ketika melihat pesan yang pria itu kirim. Pesan yang sama setiap pagi aku dapatkan.


“Selamat pagi, Agatha. Aku siap-siap jemput kamu yah!” Buru-buru aku bersiap ke kampus. Meski dengan rasa tak semangat.


Rasanya aku sangat benci dengan diriku sendiri. Mengapa begitu sulit memiliki perasaan dengan pria yang aku pilih.


Satu hal yang membuatku merasa antusias bertemu Mikael pagi ini. “Aku harap keputusanku benar kali ini. Mikael harus tahu siapa diriku dan dari mana asalku. Apa pun keputusannya aku harap ini adalah jalan takdir kami berdua.”


Sampai akhirnya kami pun masuk ke mobil dengan Mikael yang membuka pintu mobil untukku. Selama perjalanan tak ada pembicaraan yang menarik tentunya. Ini hal yang sudah sangat biasa untukku.

__ADS_1


“Mikael, aku mau jujur sama kamu.” ujarku membuka percakapan.


“Jujur apa, Agatha? Ngomong aja.” jawab Mikael.


Sejenak aku menoleh ke samping menatapnya. Wajah tampan tutur kata yang sopan dan perilaku yang begitu baik. Rasanya tak ada kekurangan di diri Mikael.


“Apa kamu akan tetap memilih aku meski aku dari keluarga tidak jelas?” tanyaku dengan menatapnya.


Ia terlihat berusaha fokus menyetir sembari tertawa. “Kamu itu bicara apa sih, Agatha? Keluarga nggak jelas bagaimana? Mami Papi kamu masih ada kan?”


Aku tak kaget sebab hal ini sudah aku duga sebelumnya. Aku yakin Mikael akan sulit menerima aku setelah ini.

__ADS_1


“Aku tidak perduli hal itu, Agatha. Aku mencintaimu bukan keluargamu. Tapi, kewajibanku adalah menganggap keluargamu seperti keluargaku. Kita akan tetap bersama, Agatha.” Kulihat tangan Mikael menggenggam tanganku saat ini.


Untuk pertama kalinya kami berbicara serius dan romantis. Aku tersentuh mendengar ucapan tulus Mikael yang jarang ia ucapkan.


“Tapi, bagaimana dengan orangtuamu? Apa kamu yakin kalian sanggup menerima asal usulku? Aku bukan wanita yang seperti kalian harapkan, Mik.” Mikael hanya menggeleng tersenyum.


Senyum hangat itu sangat langka aku lihat. Mikael benar-benar pria sempurna. Sayang, hatiku masih tertutup rapat untuknya.


“Percaya denganku. Aku akan mengurus semuanya dan siapa pun kamu itu bukan masalah, Agatha. Aku bisa menghidupi kamu tanpa kekayaan keluargamu.” Aku hanya diam mendengar ucapan Mikael.


Prestasinya di kampus mau pun di perusahaan tak perlu di ragukan. Mikael memang cerdas bahkan aku akui ia hampir sama sempurnanya dengan adikku Gara.

__ADS_1


Mobil yang semula berhenti pun kembali melaju di jalan raya. Sampai akhirnya kami tiba di kelas berjalan bersama. Banyak pasang mata yang melihat pergerakanku dan Mikael.


Sementara pikiranku terasa begitu kacau saat ini. Satu masalah telah aku buka pada Mikael. Kini tinggal memikirkan bagaimana aku berbicara dengan Mami dan Papi. Bagaimana pun aku tidak ingin membuat mereka kecewa padaku.


__ADS_2