Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Kedatangan Mikael


__ADS_3

"Aku ingin hubungan kita bisa lebih serius lagi. Aku tidak perduli bagaimana asal usulmu, Tha. Kamu temani aku setelah kuliah kedua ini menemui Papi kamu yah?" Aku terdiam mematung di kelas.


Kini jam kuliah pertama baru saja usai. Dan Mikael mendekati aku duduk di samping. Ia bahkan meminta para sahabatku untuk meninggalkan kami di kelas. Tubuhku benar-benar panas dingin mendengar ucapan Mikael.


"Mik, kita dekat baru-baru saja. Kenapa harus secepat itu? Aku masih kuliah." jawabku yang merasa sangat tidak siap. Tidap siap jika aku memegang status tunangan Mikael. Bayangan bagaimana keluarga Mikael akan mengetahui siapa diriku sebenarnya. Rasanya sangat membuat aku gugup.


"Pulang kuliah aku akan tetap menghadap Papi kamu. Dengan atau tanpa kamu sekali pun." Mikael pergi meninggalkan aku di kelas.


Aku hanya terduduk lemas di kursi belajarku saat ini. Bagaimana dengan perasaanku pada Gara jika sampai kami bersama? Tuhan...mengapa harus seperti ini perasaanku? Mengapa sulit sekali untuk berpaling darinya?"


Perutku yang lapar bahkan tak ku pikirkan lagi. Sampai waktu istirahat usai aku beralih ke kelas berikutnya. Di sana aku melihat Mikael berkumpul dengan teman pria. Sementara aku masuk di kursi dimana para sahabatku berkumpul juga. Meski semua tampak ramai berbicara, aku sama sekali tidak berniat ikut bersuara. Pikiranku benar-benar kacau saat ini.

__ADS_1


Singkat cerita kini Mikael berjalan dengan aku yang mengejarnya ke arah mobil. Tidak mungkin jika aku membiarkan dia sendiri bertemu Papi.


"Mik, aku ikut." ujarku menarik tangannya.


"Baguslah."


Di mobil bahkan aku hanya diam begitu pun dengan Mikael. Tanpa aku tahu ketika kami tiba di perusahaan, justru Papi dan Mami sudah menyambut kedatangan kami. Aku terpelongo melihat sambutan Papi dan Mami. Ah aku lupa ini adalah jam makan siang dimana mereka pasti baru saja menghabiskan waktu bersama.


"Kok mengganggu? Tentu saja tidak. Mami bahkan mengosongkan waktu siang ini atas kedatangan Mikael." Semakin kaget aku mendengar ucapan Mami.


Aku menoleh menatap Mikael yang tersenyum pada kedua orangtuaku. Ucapan Mami barusan pertanda jika Mikael sudah menghubungi Mami dan Papi untuk datang ke sini.

__ADS_1


"Ayo langsung duduk saja. Ada apa, Mikael? Apa sepertinya kedatangan kamu sangat penting sekali." Aku pun ikut duduk mendengar Papi yang bertanya pada Mikael.


Sangat tenang dan santai itu yang aku lihat dari ekpresi Mikael saat ini. Jujur jika menilai dia sangat gentle sebagai lelaki. Apa yang Mikael lakukan sangat membuat aku kagum. Sayang perasaan itu hanya sebatas kagum saja.


"Saya kemari berniat ingin meminta ijin menjalin hubungan lebih serius dengan Agatha, Om dan Tante. Maaf jika kedatangan saya justru terkesan sangat tidak sopan karena begitu cepat dan di tempat kerja. Saya tidak tenang jika tidak membicarakan ini secepatnya." Papi yang aku lihat menganggukkan kepala pelan.


Mami dan aku hanya duduk diam menunggu jawaban apa yang Papi putuskan saat ini.


"Bagus. Bagus sekali kamu, Mikael. Om sangat suka dengan sikap berani kamu. Tapi, ada satu hal yang tidak kamu tahu dan saat ini wajib kamu tahu sebelum semuanya terjadi begitu jauh." Aku menunduk yakin dengan apa yang Papi pikirkan saat ini.


Mikael sudah tahu semuanya dan aku tidak takut sama sekali. Tapi, bayangan Papi berbicara demikian pada kedua orangtua Mikael sungguh membuat aku sangat cemas. Yang paling aku takutkan adalah Mami dan Papi menjadi bahan hinaan mereka. Sebab selama ini Papi dan Mami tidak pernah ternilai buruk satu kali pun di depan banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2