
Lagi-lagi aku harus menjadi korban kebucinan Papi di pesawat. Dimana aku harus duduk sendiri sementara kedua orangtuaku duduk bersampingan. Meski pesawat tetap memberi jarak untuk mereka. Tapi, aku bisa melihat bagaimana Papi yang sesekali menengok memperhatikan Mami yang tidur di kursinya. Perlakuan Papi sama persis dengan yang Gara sering lakukan pada ku meski perhatian itu jelas ia tunjukkan sebagai adik untuk kakakknya.
Melewati berapa kali transit kini akhirnya kami sampai bandara dengan Gara yang sudah menjemput di pintu kedatangan. Ia tersenyum menatap kami semua. Aku tidak sabar untuk bisa menikmati liburan kali ini. Pertama kalinya aku membuka ponsel untuk update status. Dimana aku menunjukkan wajahku dengan latar belakang bandara.
"Dita buat story apa ini?" tanyaku penasaran saat melihat di akun instagram ada story baru yang ia buat. Segera tanganku membuka dengan penasaran. Sampai akhirnya aku melihat di mana para sahabatku termasuk Rifana nampak berkumpul berfoto dengan pemandangan tenda di pantai. Mereka baru saja melakukan camping tanpa aku. Pikiranku kembali kacau lagi dimana rencana liburan camping adalah usulan dariku yang tak kunjung terjadi.
Kini mereka justru melakukan hal itu tanpa mengajak aku. Segera ku buka kembali story temanku yang lain namun suara Gara sudah lebih dulu membuat aku terhenti dari kegiatan kepo itu.
__ADS_1
"Mau jaga bandara di sini?" tanyanya yang membuat aku sadar jika Mami dan Papi sudah melangkah menuju mobil lebih dulu.
Aku membantu Gara untuk membawa tas kecil dan tempat make up Mami Tasha. Kami berjalan berdua menuju mobil dan langsung masuk. Sepanjang jalan mereka terus bercerita sedangkan aku hanya diam. Tak sengaja mataku bergerak ke arah spion tengah dimana mata Gara juga ternyata melihat ke arahku. Segera aku mengalihkan pandanganku ke sisi jendela mobil.
Pikiranku benar-benar kacau setelah melihat ponsel. Tak menyangka jika para sahabatku yang benar-benar tulus bisa berubah seperti ini. Aku merasa sangat tidak mengenali mereka lagi saat ini.
"Enak yah, Agatha? Kalau kamu mau nanti bisa kok S2 di sini sama Gara. Mami akan dukung." Mami Tasha yang berdiri di belakang tubuhku membuat aku segera menggeleng. Mata kami sama-sama memandang ke arah bawah sana. Dimana kota yang menjadi tempat Gara tinggal begitu bersih dan rapi. Sangat memanjakan mata tentunya.
__ADS_1
"Tidak, Mi. Kalau saja kepintaran Agatha ikut Mami Tasha baru deh Agatha mau kuliah di luar negeri." ujarku.
Mendengar penuturanku Mami hanya tersenyum mengusap kepalaku. Ia tak lagi berkata apa pun setelah kembali mendengar aku berkata tentang kecerdasan yang tidak ku miliki. Sebab sering kali Mami mengatakan jika bukan karena kecerdasan yang menjadi titik utama. Melainkan kepercayaan diri lah yang membuat orang berani keluar negeri. Dan aku tidak memiliki satu hal itu.
Saat tiba Mami pun segera ke dapur mengemasi beberapa barang yang ia bawa ke dalam kulkas dan sebagian lagi di masak. Aku turut membantunya. Gara yang duduk memperhatikan kami berdua nampak tersenyum-senyum. Seperti biasa adikku akan menarik kursi mendekati dapur untuk memperhatikan setiap apa yang kami lakukan.
"Pacaran terus bilang mau nikah, potong bawang aja belum bisa tipis kayak Mami." Mataku mendelik mendengar ejekan adikku.
__ADS_1
Selalu saja Gara menemukan ide untuk mengatakan jika aku belum pantas menikah. Dan harus fokus dengan pendidikanku dulu.