
Semua wajah para temanku tampak sedih mendengar aku menceritakan jika Gara sempat tidak sadarkan diri karena sakit tifus yang ia derita. Namun, saat ini ia sudah sadar meski belum sepenuhnya membaik. Seolah ketika aku menceritakan adikku, hatiku tampak baik-baik saja. Nyatanya tidak. Aku pun gelisah menahan diri untuk tidak pergi ke Jerman.
"Trus kamu di sini tenang-tenang aja mau kerja gitu, Tha? Kamu nggak simpati sama sekali sama bebeb kita yah?" Endah bersuara dengan nada centilnya. Lantas kedua mataku memutar malas mendengar ucapannya.
"Please yah kalian yang jangan mendramatisir keadaan. Aku di sini juga bantuin Papi. Mending sekarang kalian pergi nongkrong sana. Aku harus kerja. Papi sedang mengurus Gara di sana aku harus mengurangi beban Papi Raga." ujarku mengusir mereka. Tak tenang jika melihat kelima temanku harus di ruangan kerja ini lebih lama.
"Ayolah guys, kalian pregi duluan. Ajakin tuh sih Rifana sekalian," sindirku pada mereka berlima. Sontak semuanya tersenyum kikuk.
"Sudah dong, Agatha. Kita kan sudah jauhi Rifana. Kok masih di sindir-sindir sih. Kita udah minta maaf juga." Sela bersuara lengkap dengan wajah sedihnya.
Aku hanya mendengus jengkel mengingat kelima temanku yang sempat memusuhi aku. "Yasudah sekarang kalian pergi dan nanti aku segera menyusul selesai kerjaan di sini. Jangan buat kerjaanku tertunda makin lama." Meski ucapan ku terdengar ketus tetap saja kelima temanku menunjukkan senyum lebar.
Mereka pergi dengan mengatakan tempat tujuan mereka saat ini agar aku segera menyusul. Tak ada penolakan aku hanya mengangguk yang terpenting mereka pergi dulu dari kantor.
__ADS_1
Hari ini aku begitu fokus bekerja hingga lupa dengan janjiku. Sore harinya aku kembali pulang ke rumah Nenek indri. Kakek dan Nenek tampak duduk berdua di depan televisi. Aku menyapa mereka dengan mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Agatha, kamu yakin nggak ke Jerman nyusul Mami dan Papi kamu?" tanya Nenek yang ketika aku sudah duduk usai berganti pakaian.
Mulanya aku diam hingga aku menjawab, "Kata Papi Gara sudah mulai membaik, Nek. Mungkin beberapa hari lagi mereka akan kembali. Jadi lebih baik aku membantu pekerjaan asisten Papi saja di kantor." Nenek tak lagi berkomentar ketika aku menjelaskan.
Namun, hal di luar dugaan justru terjadi ketika aku sudah berjalan hampir dua minggu tinggal di rumah Nenek. Kedatangan tanpa ku duga Mami dan Papi bersama seorang pria yang sangat ingin aku hindari.
Bola mata yang penuh kehangatan itu berpaling saat sejenak pandangan kami bertemu. Aku tidak sadar jika kami berdua kini justru menjadi pusat perhatian keluarga.
"Hei Gara, kamu tidak lupa ingatan dengan kakak mu kan?" Itu adalah suara dari Kakek Dahlan yang bertanya pada Gara.
Aku pun turut mengalihkan pandangan ke arah lain. Sikap kami berdua kali ini memang tak seperti biasanya yang selalu hangat dan akrab.
__ADS_1
"Agatha, Gara, ada apa dengan kalian? Kalian kenapa seperti sedang bermusuhan seperti itu?" Kini berganti Mami Tasha yang bertanya pada kami.
Aku bingung tak tahu harus menjawab apa, aku hanya diam sedangkan Gara justru berdehem mencairkan suasana.
"Ehm apa kita akan di sini dulu atau pulang, Mi, Pi?" tanya Gara.
Lagi semua orang justru menatap kami dengan heran.
"Kenapa? Kamu sudah nggak ingat yah dulu ini rumah tempat kamu di besarkan? Kenapa kok nggak mau lama-lama di rumah Mamah?" Nenek Indri bertanya pada Gara.
"Bukan begitu, Mah. Aku hanya tidak begitu kuat berdiri lama." jawab Gara yang justru di sahutin Papi lebih dulu.
"Bukannya kamu bilang sudah sangat sehat, Gara? Jangan bercanda kamu. Papi turuti kamu keluar dari rumah sakit karena kamu bilang sudah sangat sehat." Aku menunduk diam mendengar nada bicara Papi Raga yang dingin.
__ADS_1