Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 2


__ADS_3

“Mau kemana, Agatha? Di luar sudah gelap?” Pertanyaan itu membuat aku menghentikan langkah kakiku ketika hendak ke luar rumah.


Ku lihat di arah ruang televisi Gara duduk menonton sambil memegang ponselnya.


“Mau ke rumah Sela, mau ikut?” ajakku karena Gara memang kenal dengan para teman-teman wanita ku.


Sebab tak ada satu pun dari mereka yang tidak mengejar adik tampanku ini. Setiap mereka mendengar Gara pulang ke Indonesia pasti mereka semua dengan semangat akan beralasan mengajakku kerja kelompok atau bahkan hanya acara makan-makan biasa di rumah sambil menonton.


“Nggak, ayo.” Tanganku tiba-tiba saja di tarik olehnya keluar dari rumah.


“Loh Gar, katanya nggak. Kenapa narik tanganku?” tanyaku heran.


“Sudah, masuk sana.” Tubuhku di dorong ke dalam mobil yang ia buka sembari ku dengar adikku berteriak pada Mami yang keluar dari rumah melihat kami.


“Agatha? Gara? Mau kemana?” Mami Tasha berteriak bertanya pada kami.


“Ngantar Agatha ke rumah temannya, Mi.” jawab Gara yang juga ikut berteriak.


Oh jadi aku akan di antar ke rumah Sela. Akhirnya aku hanya menurunkan kaca jendela mobil dan melambaikan tangan pada Mami.


Mami Tasha yang menggeleng melihat tingka dua anaknya pun kembali masuk ke dalam rumah. Hari memang sudah gelap ketika waktu sudah menunjuk pukul tujuh malam.


Ini adalah malam minggu. Dimana aku berjanjian dengan para temanku untuk berkumpul bareng di rumah Sela.


“Masih belum kapok soal kejadian kemarin?” tanya Gara. Kepalaku segera menoleh cepat pada Gara yang fokus menyetir.


Kesal tentu saja ku rasakan. Bagaimana bisa ia bertanya demikian sedangkan aku sangat trauma bahkan ponselku saja tak lagi berani ku buka karena pria itu masih beberapa kali mengirim pesan padaku untuk meminta maaf.


Aku sengaja memilih diam tanpa mengatakan apa pun pada Gara. Sebab aku tidak ingin jika adikku ini akan menimbulkan masalah dari amarahnya.


“Kok nanya begitu sih? Yah jelas kapok, Gar. Jahat banget.” Aku menekuk kesal wajahku. Dimana hal itu justru membuat Gara mengusap kasar wajahku.


Singkat cerita, kami pun sudah tiba di depan rumah Sela. Rumah yang megah namun lebih megah rumah Papi dan Mami yang kami tinggali.


Aku bersyukur selain memiliki keluarga yang begitu baik dan sayang padaku kehidupanku juga begitu tercukupi. Mami Tasha bahkan tak berpikir dua kali untuk membelikan mobil baru untukku saat aku baru kuliah. Di masa SMA dulu aku selalu di antar jemput supir sebab Mami Tasha khawatir dengan masa pergaulanku yang bisa menyebabkan berkendara ugal-ugalan.


Papi Raga memang tidak salah memilih istri seperti Mami Tasha. Bahkan aku sendiri sering kali merutuki perlakuan Mamah kandungku yang bisa menaruh aku di tengah kehangatan keluarga Mami dan Papi.


Aku memang tidak tahu apa-apa. Aku hanya tahu mamah meninggal ketika menderita sakit kanker.


“Yasudah masuklah.” Lamunanku buyar ketika Gara berucap.

__ADS_1


Aku langsung melambaikan tangan usai mengatakan terimakasih.


“Makasih yah,” Ku lihat Gara tersenyum padaku. Aku bertemu dengan para teman-temanku malam minggu ini untuk janjian nonton bareng sambil barbeque di rumah Sela.


“Hai semuanya…” sapaku dengan wajah ceria. Jika sudah bertemu mereka rasanya aku benar-benar sangat happy. Setidaknya malam minggu ini Mami dan Papi di rumah juga tengah happy karena rumah sepi.


“Wah cepet amat datangnya? Nggak di awasin Mami kamu, Agatha? Agatha sudah dimana? Ingat jangan laju. Jangan melebihi 80 kecepatannya yah?” Dita menirukan gaya Mami Tasha berkata padaku.


Mereka semua tahu bagaimana Mami sangat sayang padaku. Tak bisa di uangkapkan dengan kata-kata. Aku benar-benar anak pelakor yang paling beruntung.


Di sana Veni, Sela, Dita, Endah, dan Sisil tertawa meledek aku. Biarlah mereka meledek bukan karena hal buruk. Tetapi karena kasih sayang Mami Tasha yang begitu besar padaku.


“Yah nggak lah. Tadi ada Gara yang ngantar aku.” jawabku santai namun segera mendapat respon dari mereka semua.


“Gara? Dimana dia?” Sudah ku duga jika mereka akan histeris bersama mendengar nama adik laki-laki ku itu. Mataku memutar malas mendengar pertanyaan mereka.


“Agatha, ayo coba panggil Gara kesini. Telpon deh, cepetan,”


“Eitz tunggu. Ini kok jadi ngebet panggil Gara sih? Ini malam minggu jadwal kita ngumpul yah?” ujarku tegas.


Aku menggeleng melihat wajah lesu mereka yang semula begitu semangat sekali.


“Udah deh, umur masih panjang kan? Tunggu adikku selesai kuliahnya. Masa mau kalian pepet terus? Nanti nggak kelar-kelar lagi kuliahnya.” ujarku beranjak ke arah tempat memanggang daging.


“Dasar kalian semua pada suka berondong yah?” sahutku tak habis pikir.


Memang aku akui adikku sangatlah tampan. Ia perpaduan sempurna antara Mami dan Papi yang sangat serasi. Bahkan laki-laki yang suka padaku tak luput dari bantuan wajah Papi Raga yang tampan. Sebab itu aku memiliki wajah cantik. Benar kata orang, jika kita lama berada dalam keluarga orang lain lambat laun akan ada kemiripan di wajah kita pada orang tersebut. Sering kali orang menyangka jika aku adalah anak kandung dari Papi Raga. Meski nyatanya bukanlah seperti itu. Hanya Mamahku saja yang pernah menjadi mantan Papi, tapi tidak dengan asal usulku yang ternyata adalah anak dari mamah dan pria lain.


Hingga tiba-tiba kegiatanku memanggang daging terhenti kala mendengar suara ponsel berbunyi.


“Tha, Gara bukan? Cepetan angkat.” tanya temanku.


Aku hanya menghela napas mendengar ucapan temanku Endah. Rasa penyesalan ketika aku harus menyebut nama Gara. Pasti urusan malam ini akan panjang sampai beberapa hari ke depan. Selama Gara belum pulang pasti mereka akan kembali bertindak gila.


Ternyata yang menelpon adalah Mami Tasha. Gara-gara adikku Gara aku sampai lupa mengabari Mami jika aku sudah sampai.


“Halo, iya Mami?” sapaku ketika panggilan tersambung.


“Tha…kamu sudah sampai belum? Kok belum ngabari Mami? Jadi kan ke rumah Sela?”


“Iya ini sudah sampai. Tadi Agatha lupa kabari Mami.” ujarku yang merasa bersalah pada Mami.

__ADS_1


Setelah berbicara dengan Mami Tasha yang memberikan banyak pesan saat aku di luar rumah, kini panggilan pun sudah terputus.


“Cieeeee anak Mami…” Itulah ledekan yang mereka semua lontarkan.


Aku hanya tersenyum sebab memang aku anak Mami.


Kami semua menikmati kumpulan malam itu dengan sebuah film romantis yang banyak adegan lucu. Rumah sela begitu ramai dengan kedatangan kami. Jangan di tanya kemana orangtuanya. Sela adalah anak tunggal dimana setiap malam minggu orangtuanya akan berkencan.


Jangan salah meski pun mereka sudah tua. Tapi merawat keharmonisan pernikahan itu sangatlah penting.


Hingga waktu berjalan tepat di jam sebelas malam.


“Yah sepi deh rumah?” Sela terlihat murung ketika kami semua akan kembali.


“Yaudah sih. Ini kan biasa terjadi, Sel. Lagian orangtua mu bentar lagi pasti balik. Kita juga bakal di cariin orangtua nanti kalo pulang kemalaman.” Dita berucap.


“Iya. Oh iya Sil aku nebeng pulang yah? Kamu kan di jemput supir yah?” Aku meminta tumpangan sebab tak tega jika Gara harus aku hubungi untuk menjemputku lagi.


“Beres deh, Ta.” Kami ramai-ramai keluar dari rumah Sela.


Dimana para mobil berjajar di halaman rumah Sela yang luas. Namun, suara Sisil membuatku juga sadar.


“Loh Agatha, itu bukannya mobil Gara yah?” Keningnya mengerut dalam. Mataku aku tajamkan untuk melihat jelas.


“Kayaknya sih.” jawabku


Kami semua melangkah hingga ku lihat mesin mobil yang masih menyala dan ku intip orang di dalam justru berbaring tengah tidur.


“Pak, mobil ini dari tadi di sini?” Aku bertanya pada security yang menjaga.


“Iya, Non. Tadi pas Non Agatha masuk saya tanya kok nggak ikut masuk? Katanya biar di sini nungguin aja.” jelas Pak security.


Aku seketika merasa bersalah. Gara bahkan memilih tidur di mobil demi menjaga kakaknya yang tidak tahu diri ini. Sementara di dalam sana aku begitu asik tanpa tahu dia di luar.


“Gais, please jangan ganggu adik ku kali ini aja. Dia pasti kelelahan dari tadi. Aku ngerasa bersalah.” Aku sampai menangkupkan tangan pada mereka semua.


“Oke deh, kita pulang yuk.” Untuk pertama kalinya mereka semua tidak rusuh melihat Gara. Aku langsung masuk ke mobil dan membangunkan Gara.


“Apaan?” tanyanya ketika membuka mata.


“Ayo turun, biar aku yang nyetir mobil.” pintahku namun segera di tolak.

__ADS_1


Gara kekeuh untuk membawa mobil kembali pulang ke rumah.


“Tuhan, mengapa kau begitu memberikan aku orang-orang yang sangat baik di tengah kehadiranku yang begitu menyakitkan mereka? Aku adalah anak dari wanita yang sempat menyakiti Mami Tasha meski pada akhirnya semua terbongkar kebenarannya. Jika aku bukanlah anak dari Papi,” gumamku merasa bersalah.


__ADS_2