Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 16


__ADS_3

Sejak pulang kuliah aku di kamar memikirkan setiap kata demi kata yang Morgan ucapkan tanpa melewatkan satu kata pun. Berusaha mencerna yang terjadi, meski rasanya sulit meyakinkan diriku jika Rifana adalah dalang di balik ini semua. Sebab sejak awal hubungan kami semua baik-baik saja. Tak pernah sekali pun aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Mungkin satu-satunya cara aku harus mengetahui dulu apa yang terjadi pada sahabatku yang lain. Yah, mereka mungkin bisa memberikan aku jalan. Meski aku mengingat ucapan Gara jika aku harus bisa hidup tanpa mereka. Tapi tetap saja aku harus tahu ada apa sebenarnya dengan Rifana.


Sore itu ku putuskan untuk ke rumah Sela lebih dulu. Teman yang menurutku paling dekat denganku. Yah aku harap Sela bisa memberikan aku jalan meski tak sebaik biasanya lagi. Mungkin ada kesalah pahaman di antara aku dan teman-temanku yang lain.


Setibanya di depan rumah Sela, aku melihat mobilnya terparkir di halaman rumah. Segera aku permisi dengan bibi di rumah itu dan aku pun di antar menuju kamar Sela.


"Sel, aku mau bicara sebentar boleh?" Langkahku terhenti ketika tiba di ambang pintu kamar yang terbuka.


Tatapan tak suka dari Sela jelas aku lihat. Rasanya sangat aneh, mengapa sikap teman-temanku jadi seperti anak kecil seperti ini? Tidak bisakah menyelesaikan masalah dengan bertemu dan berbicara dulu?


Kini bibi yang mengantarku sudah berlalu pergi dan tinggallah aku dan Sela yang saling berhadapan tanpa di persilahkannya aku masuk ke kamar seperti biasa. Dan aku pun cukup tahu diri bagaimana sang tuan rumah keberatan untuk aku tidak lancang masuk.


"Apa yang Rifana katakan pada kalian? Aku ingin tahu kebenarannya saja. Kalau kau mau membenciku silahkan dengan yang lainnya pun. Tapi, aku ingin tahu apa yang Rifana katakan pada kalian." Ucapanku justru mendapat tawa sinis dari Sela.


Sepertinya benar dengan apa yang ku duga, Rifana telah menjadi duri antara persahabatan kami.


"Mengapa kau begitu yakin jika Rifana mengatakan sesuatu? Bukankah kau yang justru harusnya sadar diri dengan apa yang kau lakukan? Atau kau justru tahu jika Rifana mengetahui sesuatu?" tanya Sela terdengar seolah menghakimi aku.


Aku menghela napas kasar mendengar ucapan Sela. Tak mudah memang mencari tahu semuanya sebab mereka sudah lebih memilih dekat dengan Rifana di bandingkan denganku.


"Baiklah kalau memang kau tidak ingin menjelaskan padaku. Aku paham. Yang terpenting satu pesanku, persahabatan kita jauh lebih dulu terbentuk sebelum adanya Rifana. Sangat sayang jika hancur begitu saja hanya karena orang baru sepertinya yang kalian sendiri tidak tahu kebenarannya." Aku pun berniat memutar tubuhku untuk meninggalkan rumah mantan sahabatku.

__ADS_1


Ku rasa Sela dan yang lainnya bukan lagi sahabat yang bisa ku harapkan bersamaku. Mungkin dengan sendiri justru aku bisa lebih mandiri dan dewasa.


"Bukankah kau yang menghancurkan kepercayaan kami, Agatha? Mengapa kata-katamu justru mengarah jika kami lah yang menghancurkan semuanya dengan Rifana. Kami semua benar-benar kecewa denganmu yang bahkan memfitnah Morgan kekasihmu sendiri dan juga Rifana. Bagaimana mungkin kau mengatakan jika dia ingin memperk*samu dan Rifana yang mengatur ini semua? Sedangkan kau justru sudah sering melakukannya bersama Morgan bahkan dengan pria yang berstatus adikmu sendiri. Kami benar-benar kecewa denganmu, Agatha..."


Begitu terkejutnya aku mendengar penuturan Sela kali ini. Sekali pun mereka memang tahu jika aku hanya anak angkat di keluarga Papi dan Mami. Mengapa justru masalahku jadi membawa nama adikku Gara? Aku menoleh dan kembali melangkah ke depan pintu kamarnya. Tubuhku terasa panas sekali menahan amarah mendengar kekejaman fitnah yang Rifana sebarkan tentangku.


"Aku benar-benar tidak menyangka dengan berita yang mengejamkan itu untukku. Dan sekarang aku sudah tahu seberapa jahatnya orang yang ingin menjatuhkan aku saat ini. Yang terpenting satu, kamu dan lainnya yang jauh lebih mengenal aku dari pada wanita itu. Cukup kalian nilai sendiri semua ucapannya." tandasku.


Aku melangkah pergi meninggalkan rumah Sela. Rasanya tak ada gunanya juga mempertahankan persahabatan yang bahkan mudah goyah seperti mereka. Mulai hari ini aku akan berusaha dengan sendiri. Tanpa mereka aku pasti bisa. Dan sudah cukup aku tahu jika Rifana memang sangat ingin menjatuhkan aku saat ini.


Mengunjungi rumah gadis itu saat ini rasanya tidak mungkin. Aku tidak ingin sama sekali bertemu dengan Morgan kembali. Sudah cukup semuanya dan aku lebih memilih pulang ke rumah. Setidaknya aku tahu permasalahan yang menjadi kerenggangan persahabatanku.


"Hei kenapa mukanya murung?" Di seberang sana Gara tampak memperhatikan aku yang melakukan video call dari laptop.


"Maaf," ucapku dengan lesu. Ku lihat Gara justru mengerutkan keningnya mendengar ucapan maafku.


"Wanita itu ternyata yang jadi dalangnya. Aku benar-benar kesal sama dia bisa-bisanya bawa nama kamu di masalah aku sama Morgan. Parahnya lagi semua sahabat aku justru percaya kalau aku itu perempuan nggak benar. Berarti secara nggak langsung mereka ngomongin aku di belakang selama ini? Morgan yang jelas-jelas baru mau perk*sa aku malam itu sudah di bilang sering berhubungan badan sama aku. Gila nggak sih tuh orang? Tambah lagi aku yang katanya sudah sering melakukan itu setiap pacaran sama orang termasuk adikku sendiri." Luapan emosi akhirnya tak bisa ku tahan lagi. Panjang lebar aku menjelaskan pada Gara.


"Memangnya siapa adikmu?" Pertanyaan Gara sontak membuat mataku membulat sempurna.


"Gara! Yah kamu lah. Aku di gosipin pernah berhubungan sama kamu. Kalau hal ini sampai ke telinga Mami dan Papi bisa habis kita di marahin. Mereka kalau ngomong suka nggak mikir yah?" ujarku dengan suara berapi-api

__ADS_1


Jika bayanganku Gara akan marah, justru ia di sana terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Tha, mau sampai kapan sih perdulikan ucapan mereka? Nggak capek?" sahut Gara


Mataku memutar malas. Berharap mendapat pembelaan nyatanya Gara justru meminta aku lagi-lagi berhenti berpikir. Namun, di sini aku yang mendapat omongan orang di luar sana jika tidak aku luruskan.


"Urusan orang di luar sana kita tidak mungkin bisa membungkam mulut mereka satu-persatu. Ingat usia mu sekarang sudah mulai bertambah. Ini adalah ujian pendewasaan dimana kamu kuat atau tidak menghadapi lingkungan yang semakin kejam. Ada Mami dan Papi yang siap pasang badan untuk kamu. Oke? Jangan cemas lagi." Begitu santainya Gara mengatakan semuanya.


"Sekarang yang utama adalah belajar. Buktikan ke mereka kamu bisa tanpa mereka. Kalau ada yang sulit tanyakan padaku. Sekarang aku harus kerja dulu..." aku pun kembali di buat kaget mendengar Gara yang mengatakan ingin kerja.


"Kerja? Kerja di mana?" tanyaku penasaran.


"Di toko sepatu. Aku cuman cari kesibukan sedikit saja. Yah setidaknya punya pengalaman kerja di luar negeri lah." Ucapan yang santai bagi Gara nyatanya membuat aku syok.


Gara, anak dari Raga Mahendra bekerja di toko sepatu? Aku merasa benar-benar tertampar oleh semua kelakuan adikku. Aku yang nyatanya sebagai anak dari orang lain bahkan begitu manja dan tidak bisa melakukan apa pun. Sedang anak kandung Mami Tasha justru bisa melakukan hal yang tidak perlu di lakukan olehnya.


Perusahaan Papi sudah begitu besar dan tak akan bangkrut jika untuk memberikan gaji Gara berjuta-juta perhari tanpa kerja. Namun, di luar negeri sana Gara justru memilih kerja dengan gaji yang mungkin untuk bayar pelayan satu bulan saja tak akan cukup.


Sejenak aku melamun, sedih tentu saja aku sedih memikirkan nasibku yang begitu menjadi anak tak berguna. Mungkin Mami Tasha sangat sayang padaku. Tapi, jika Gara yang menjadi posisiku dan Mami Tasha adalah Mamah kandungku yang telah pergi, aku bisa yakin tak akan mau Mamah menerima Gara sebaik Mami Tasha menerima dan menyayangi aku.


"Hey kok melamun lagi? Sudah yah aku matikan ponselku?" Aku hanya mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Panggilan video pun terputus. Di sini aku memikirkan apakah bisa aku melakukan sesuatu yang berguna tanpa harus membuang waktu untuk memikirkan pertemananku yang sangat tidak bermanfaat?


__ADS_2