
Libur pun telah usai. Dimana aku saat ini sudah kembali tinggal di rumah yang melindungiku dari terik matahari dan derasnya hujan sejak kecil. Setiap hari dalam tumbuh kembangku aku selalu mendapatkan perlakuan hangat dan penuh kasih sayang dari kedua orangtuaku yang tak ku dapatkan dari mamah kandungku. Meski Mamah telah tiada, aku yakin saat ini ia tengah tersenyum melihatku yang tumbuh dengan baik di samping pria yang sempat ia cintai dulu. Kepergian mamah sudah ku ikhlaskan. Semua sudah takdir tak ada yang patut di salahkan di sini. Meski aku tidak tahu jalan hubungan Mamah bersama Mami dan Papi.
Aku hanya ingat bagaimana pesan mamah sebelum meninggal. Ingin aku menjadi anak yang patuh dengan siapa pun aku hidup nanti. Mengingat mamah air mataku tanpa sadar jatuh seketika. Sebaik apa pun Mami Tasha padaku, tetap saja rasa rindu pada mamah kandung akan selalu ada ku rasakan.
"Agatha...sudah siap sayang? Tuh di tunggu Papi di meja makan." Aku melamun di kamar hingga terkejut mendapati kedatangan Mami di kamarku.
"Kamu nangis? Ada apa?" Mami mendekati aku dan mengangkat wajahnya dengan kedua tangannya.
Aku memaksakan senyum meski mustahil rasanya jika Mami tidak akan tahu.
__ADS_1
"Katakan apa yang terjadi, Agatha? Ayo cerita sama Mami. Apa Mami ada buat kesalahan sama kamu?" Aku segera menggelengkan kepala mendengar ucapan Mami.
Bagaimana mungkin Mami ada salah padaku? Sementara akulah yang hidup penuh kesalahan muncul di tengah-tengah keluarga ini. Aku tidak tahu kesalahan apa yang membuat mamah kandungku sampai meletakkan aku pada keluarga baik ini.
"Aku hanya rindu sama almarhum Mamahku, Mi." ucapku takut dan menunduk. Ku pikir Mami akan marah setelah sekian lama aku baru berani berucap. Aku tahu jika ini ku dengarkan pada Papi Raga pasti Papi akan marah besar padaku. Aku sendiri tidak tahu. Yang jelas itu pernah terjadi ketika aku masa remaja.
"Sayang, sudah yah jangan menangis. Mamah kamu pasti sekarang sudah tenang. Jangan buat mamah sedih di sana yah? Melihat anaknya hidup bahagia pasti mamah juga bahagia. Kalau kamu menangis, justru Mamah menangis lebih sedih lagi.” Ku rasakan pelukan Mami Tasha di tubuhku pagi ini. Terasa begitu tulus.
Kami makan bersama, dimana aku sadar jika Papi tengah menatapku sangat dalam saat ini.
__ADS_1
"Mengapa dia menangis?" tanya Papi pada Mami.
"Agatha rindu Mamahnya, Pi." sahut Mami Tasha yang bisa ku lihat jika Papi menghela napas kasar saat mendengar ucapan Mami.
Setelah itu aku susah payah memaksakan makan sarapanku. Papi di depanku tampak menghentikan makannya. Mungkin Papi sangat kesal pagi-pagi sudah mendengar tentang mamah. Apa sefatal itu kah kehadiran mamah dahulu sampai membuat Papi marah seperti ini?
Di meja makan itu mataku bisa menangkap jika tangan Mami Tasha tengah mengusap punggung tangan Papi.
"Sayang, aku pergi kerja dulu. Agatha, ingat jangan laju-laju naik mobilnya." Ucapan Papi yang terdengar dingin saat hendak meninggalkan meja makan. Padahal seingatku tadi Papi sudah menunggu ku untuk sarapan bersama. Kini justru ia meninggalkan aku lebih dulu..
__ADS_1
"Iya Pi. Hati-hati." Ku cium punggung tangan Papi saat ku rasakan kepalaku mendapatkan usapan dari tangan Papi.