Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Keyakinan Seorang Ibu


__ADS_3

"Ayo ke mobil." Suara bariton milik pemuda di hadapannya tentu saja membuat Tasha buyar dari rasa kagetnya. Ia segera mengikuti langkah kaki pria yang sudah membawakan koper miliknya.


Tiba di mobil, Tasha ingin membuka pintu di belakang. Namun, gerakannya terhenti saat itu.


"Aku bukan supir. Duduklah di depan bersamaku." tuturnya mengejutkan Tasha.


Sedikit Tasha mengernyitkan kening mendengar hal itu. Sebab setahunya Bu Dewi mengatakan jika yang menjemputnya adalah orang suruhan Bu Dewi.


"Hah biasalah pria zaman sekarang pasti malu mengakui dirinya supir. Memang tampan makannya gengsinya tinggi." gumam Tasha dalam hati.


Keduanya pun duduk bersebelahan. Tasha yang merasa harus segera menghubungi kedua orangtuanya pun meraih ponsel miliknya. Ia menelepon sang mamah kemudian sang papah. Semua lega mendengar Tasha sudah tiba di Singapura.


Tentu saja tidak dengan Tasha, perasaannya begitu tak nyaman sebab bocah yang selalu menggandeng tangannya kini tidak ada bersamanya. Ada rasa yang tak biasa ia rasakan saat ini. Bayangan Gara yang akan meminta berhenti di berbagai spot foto menarik dan juga menginap di hotel tentu saja membuat Tasha begitu kehilangan.


"Sudah jangan memikirkan Gara dulu. Bekerjalah dengan baik agar semua cepat selesai. Tasha, Gara baik-baik saja di sini. Dia masih tidur sejak pulang sekolah tadi. Sepertinya kelelahan sekali anakmu itu." ujar Indri menghibur sang anak yang terdengar hanya diam.


Jelas ia tahu Tasha sedang melamun memikirkan sang anak yang begitu ia rindukan. Padahal awalnya Tasha berniat ingin kuliah melanjutkan gelarnya. Sayang kali ini harapan itu rasanya sulit untuk Tasha jalankan. Baru beberapa jam saja ia berpisah dengan Gara, rasanya semangat hidupnya sudah hilang. Apalagi jika harus berpisah setiap hari. Tidak, Tasha tidak akan sanggup.


Usai panggilan berakhir Tasha pun memejamkan mata sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi mobil.

__ADS_1


"Apa Gara itu anak kecil yang ibuku katakan?" tanya pria itu tiba-tiba mengejutkan Tasha.


"Iya." jawab Tasha singkat.


Keheningan beberapa menit di perjalanan membuat mobil segera tiba di kediaman Bu Dewi. Kedatangan Tasha sudah di sambut hangat oleh wanita paruh baya itu. Ia berjalan mendekati Tasha yang juga berjalan ke arahnya.


"Are you okey, Sha?" tanya Bu Dewi seolah mereka begitu sudah sangat dekat.


"Yah, saya baik-baik saja, Bu Dewi." jawab Tasha tersenyum lemas.


Bukannya fokus pada Tasha, justru wanita paruh baya itu menoleh ke sekeliling seolah mencari sesuatu yang tidak ia temukan. Tak lama kemudian ia mendapat jawaban dari pria yang di belakang Tasha.


"Bocah itu tidak ikut, Bu." jawabnya.


Mendengar hal itu Bu Dewi pun menghela napasnya kasar. Lemas rasanya sebab ia sudah membayangkan jika Tasha tinggal di rumahnya, rumah megah ini akan terasa sangat ramai dengan hadirnya sosok Gara kecil.


***


Sedangkan di rumah sore harinya setelah Gara tertidur pulas, ia menangis saat bangun. Beberapa kali memanggil kakaknya untuk ia peluk. Indri tetap berusaha mengatasi sang cucu. Inilah yang ia takutkan jika Gara menangis.

__ADS_1


"Anaknya mamah, jangan menangis sayang. Bangun yuk. Sudah sore. Gara harus mandi." ajaknya mengusap-usap lengan mungil sang cucu.


Air mata yang Gara keluarkan dari matanya pun Indri usap pelan. Melihat hanya ada sang nenek di hadapannya Gara ingat jika hari ini Tasha sedang bekerja.


"Mamah, Kakak masih lama?" tanyanya berharap Tasha akan segera datang.


Ragu Indri pun mengangguk. "Masih beberapa kali Gara tidur malam baru Kakak pulang. Tidak apa-apa yah? Kan ada mamah dan papah." bujuk Indri kembali.


Menghitung-hitung malam dimana ia akan tidur beberapa kali, Gara mengerti jika Tasha pulang bukan dalam waktu hitungan jam seperti biasanya. Kini bocah itu pun tampak sedih saat bangun tidur. Indri membujuknya untuk segera mandi.


"Mamah janji, setelah mandi kita akan vc kakak. Okey?" barulah setelah itu Gara bersemangat.


Hingga Firman yang pulang dalam keadaan cemas tentu saja membuat Indri juga jelas khawatir.


"Papah?" sapanya melihat suaminya pulang bukannya menuju kamar justru duduk di ruang tv.


Firman menatap sang istri, entah apa yang ia pikirkan saat ini. Indri pun mendekati sang suami bersama dengan Gara yang sudah wangi.


"Apa Tasha akan aman di sana, Mah?" tanyanya dengan cemas. Untuk pertama kali sang anak pergi tanpa membawa anaknya.

__ADS_1


Mendengar ucapan sang suami Indri tampak menghela napasnya kasar. "Tasha nggak di hotel kok Pah. Dia tinggal di rumah Bu Dewi  itu. Papah tenang, Tasha sudah bisa kita lepas saat ini."


Ketika mendengar dimana sang anak tinggal, Firman pun akhirnya lega. Ia baru bisa tersenyum menyapa sang cucu yang sedari tadi duduk menatapnya. Di ciumnya wajah Gara beberapa kali dan ia tarik ke dalam pangkuannya.


__ADS_2