
Di luar langit terlihat sudah nampak gelap pertanda malam kini kembali datang. Mataku yang sejak sore tertutup kini ku paksa terbuka saat aku mendengar suara dering pesan di ponselku.
"Jangan lupa malam ini kita akan makan malam." Itu pesan yang ku baca dari Mikael. Rasanya sangat malas untuk aku keluar dari rumah setelah seharian aku menghabiskan tenaga di kampus dan juga di kantor.
Kini aku sadar bagaimana menjadi sosok Papi Raga yang bekerja tanpa lelah sepanjang waktu sampai aku dan Gara bisa tumbuh dewasa seperti saat ini. Setiap suap nasi yang ku makan tentu semua dari keringat kerja keras Papi Raga dan Mami Tasha. Aku bangga memiliki mereka berdua sebagai pengganti orang tuaku.
"Agatha!" Lamunanku seketika buyar ketika aku mendengar suara Mami.
"Iya, Mi?" sahutku ketika memuka pintu kamar.
Aku terkejut melihat pakaian Mami saat ini yang terlihat rapi dan cantik serta wajah Mami yang masih sangat cantik kini tampak di poles make up tipis.
"Waw...Mami cantik banget." ujarku terpukau sebagai wanita. Jujur wajah Mami memang tak pernah luntur kecantikannya dan aura lembutnya yang selalu membuat ku iri sebagai wanita terlebih sebagai anak perempuan.
__ADS_1
Di depanku Mami Tasha hanya tersenyum mendengar pujianku yang sering kali ia dengar memang.
"Kamu makan malam sendiri nggak apa-apa yah? Papi kamu mau ngajak Mami dinner berdua katanya." Mulutku semakin tercengang mendengar ucapan Mami. Lagi-lagi aku kalah start dari kedua pasangan yang tidak muda ini.
Aku hanya bisa mengangguk. "Iya, Mi. Lagi pula Agatha juga ada janji makan malam sama teman kampus sebentar lagi." jawabku jujur.
Mami memelukku erat sebelum ia benar-benar pergi bersama Papi. Setelah keduanya pergi aku pun segera bersiap. Tidak seperti Mami yang tampil dengan kecantikan sempurnanya. Aku hanya berpakaian santai dengan dress simpel tanpa make up di wajahku. Lagi pula usiaku masih terlalu muda rasanya untuk selalu tampil dengan make up. Cukup penampilanku di kantor saja yang harus rapi dan cantik.
"Eh mau ngapain?" tanyaku ketika Mikael tiba di halaman rumah dan hendak melangkah menuju rumah. Bahkan aku sudah berdiri di samping mobilnya saat ini.
Aku terdiam, ini kesan pertama yang baik Mikael tunjukkan padaku. Semoga saja kedepannya tidak ada kesalahan yang ia berikan padaku. Setidaknya Mikael satu-satunya pria yang aku harapkan bisa membantuku lepas dari permasalahan hati dengan Gara saat ini.
"Mereka lagi dinner juga. Sudah ayo berangkat." ajakku menarik tangan Mikael.
__ADS_1
Kami pun hanya diam selama perjalanan menuju restauran. Malam ini adalah malam pertama untukku kembali dekat dengan pria sejak insiden dengan mantanku waktu itu. Bahkan aku tak pernah mau melihat wajah adiknya lagi yang sudah berniat jahat padaku.
"Ayo, kita sudah sampai." ajak Mikael membuka pintu mobil untukku. Ia terlihat tampan memang tubuhnya begitu tinggi menampilkan aura kelakiannya lebih menawan. Aku menggandeng tangannya masuk ke dalam restaurant.
Sepanjang jalan aku terus berusaha menghilangkan bayangan wajah tampan adikku. Pikiranku saat ini merasa penasaran dengan apa yang Gara lakukan di sana. Takut jika sampai di sana ia kembali jatuh sakit dan tidak ada yang tahu.
"Loh Agatha? Kalian dinner di sini juga?" Aku terhenti dari lamunanku.
Wajahku menoleh melihat dua orang yang tampak seperti orang sedang berkencan romantis. Berbeda jauh dengan kami yang berpakaian santai malam ini.
"Astaga sebenarnya di sini siapa yang tua dan siapa yang muda sih?" gumamku heran melihat di meja itu bahkan ada bunga dan juga lilin yang menyala.
"Tha, mereka teman kamu?" Tambah Mikael justru bertanya seperti itu padaku. Rasanya aku hilang rasa percaya diri saat ini.
__ADS_1
Aku menjawab hanya dengan gelengan kepala. Di depan sana ku lihat Mami dan Papi saling berpegangan tangan di atas meja.
"Mereka Mami dan Papi aku, Mikael." jawabku pelan.