
Pagi sekali bahkan embun pun masih nampak menyelimuti bumi kala itu. Pandangan security yang bekerja di kediaman Firman tampak menggelengkan kepala melihat betapa keras kepalanya orang yang tidur di dalam mobil saat ini. Yah, Raga semalaman tak juga pulang dan memilih tidur di depan gerbang rumah milik sang mantan. Ia tak mau merasakan penyesalan kembali.
"Astaga siapa itu, Pak?" Firman yang kala itu tengah ingin berjoging pun bertanya pada security. Pagar yang bergeser otomatis membuatnya bisa melihat dengan jelas mobil yang sudah beberapa kali datang ke rumahnya.
Takut rasanya menjawab namun security itu tetap mengatakan. "Itu, Tuan. Pria yang kemarin-kemarin datang menemui Nona Tasha." mendengar itu sontak Firman semakin meradang.
"Biarkan saja dia." ujarnya pada akhirnya.
Niat untuk olahraga pagi itu terpaksa ia urungkan. Firman kembali masuk ke dalam rumah usai pagar kembali di tutup. Berjalan cepat menuju kamar sang anak. Tampak wajah pria itu jauh lebih tenang saat ini. Ia pun mengetuk kamar Tasha beberapa kali. Tak lama kemudian Tasha membuka pintu dengan mata yang masih sembab.
"Papah?" tanyanya kaget.
Tasha menoleh melihat jam kamar masih terlalu pagi. Ia pikir ia yang bangun kesiangan sebab Gara pagi ini harus sekolah.
__ADS_1
"Dia ada di depan rumah. Selesaikan masalah kalian secepatnya. Papah tidak ingin semua berlarut-larut." pintah Firman yang membuat Tasha mengernyitkan kening.
Siapa yang di maksud sang papah di depan rumah? Tidak mungkin jika itu Raga, pikir Tasha. Bertanya pada sang papah pun rasanya Tasha tidak memiliki keberanian. Ia pun akhirnya hanya patuh dan berjalan mencuci wajah lalu bergegas keluar. Entah mengapa dadanya tiba-tiba saja berdegup sangat kencang.
Tasha berjalan setengah berlari kecil. Penasaran jauh lebih mendominasi dari pada rasa debaran jantung yang sangat cepat. Meski begitu, ia tetap berusaha tenang hingga akhirnya security pun memberi sapaan hormat pagi itu sebelum membuka gerbang.
"Raga?" gumam Tasha diam membeku melihat mobil yang terparkir di depannya.
"Dia sudah ada sejak tadi malam, Non." jawab security tanpa di tanya.
Tanpa sadar ia tengah tersenyum kecil dan Tasha segera menggelengkan kepala demi membuyarkan lamunan itu. Ia mengetuk pintu kaca mobil itu beberapa kali. Hingga ketukan yang ke sekian kalinya, Raga akhirnya terbangun juga.
"Buka pintunya!" teriak Tasha dari luar.
__ADS_1
Segera Raga membuka pintu dengan mata yang masih merah.
Keduanya kini sudah saling berhadapan. Tak ada yang sadar jika dari rumah lantai atas dua pasang mata tengah memperhatikan mereka.
"Tasha..."
"Raga, tolong hentikan tindakan mu ini!" Tasha bicara dengan tegas memotong ucapan Raga yang baru saja menyebut namanya.
"Hentikan? Apa yang di hentikan? Aku harus tahu semua dari kamu. Tolong, Tasha. Aku benar-benar mengakui kesalahanku di masa lalu. Tapi semua tidak pernah aku lakukan lagi sejak kita terakhir bersama. Aku sudah tidak seperti dulu lagi. Biarkan aku bisa bertemu dengan Gara, Sha..." Raga terlihat begitu menyedihkan. Tasha bisa melihat bagaimana Raga berbeda sekali dari biasanya.
Di sini Raga tampak menunjukkan penyesalan yang mendalam. "Kamu tidak tahu bagaimana malunya aku? Kamu tidak tahu bagaimana aku sekian tahu menderita menghindari semua tatapan miring orang-orang padaku?" Tasha pun menjatuhkan air matanya saat itu.
Ia benar-benar sedih sekali mengingat semua yang terjadi selama ini. Menampar, memukul Raga semua tak sebanding dengan ia rasakan berjuang bersama papah dan mamahnya untuk Gara.
__ADS_1
"Tidak ada kata yang bisa mewakili sakit yang ku rasakan selama ini, Raga." Tasha berdiri tanpa berniat menggerakkan tubuh untuk mengekspresikan kesedihannya. Tubuhnya terasa begitu lemas rasanya tiap kali mengingat kejadian demi kejadian dimana Raga pergi meninggalkan masalah yang besar untuk Tasha. Bahkan pria itu dengan tenangnya menghabiskan masa muda dengan pendidikan yang bagus dan pikiran yang tenang.
"Apa kamu tahu bagaimana rasa malu yang aku rasakan di sini sementara kamu begitu tenang dengan semuanya?" Tasha berteriak tanpa sadar. Bahkan security yang mendengar sampai terjingkat kaget saat itu.