Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 19


__ADS_3

Di perusahaan, Papi sudah menunggu kedatanganku untuk ikut dengannya meeting bersama klien. Tentu dengan aku yang masih harus di dampingi sang asisten Papi. Meski wajah Papi selalu datar padaku, tapi ia sangatlah penyayang dalam diamnya. Kami bergegas hari itu keluar kantor dan ke sebuat restauran. Selama perjalanan sang asisten Papi bernama Dava terus menjelaskan padaku tentang proposal yang sudah ku pelajari semalam. Aku tahu sedikit banyak tentang isi proposal yang di kirim dari perusahaan lain.


Hingga beberapa menit kami lalui akhirnya mobil pun tiba di sebuah restauran. Cukup terkejut ketika aku melihat di sana justru Mami Tasha sudah berdiri menyambut kedatangan kami. Lebih tepatnya tentu kedatangan Papi.


“Loh ada Mami, Pi?” tanyaku menatap Papi heran.


“Hem.” Jawaban singkat yang Papi berikan. Aku hanya diam saja. Dan kini tampaklah Papi yang langsung merangkul mesra Mami. Kami duduk di masing-masing kursi yang ada di satu meja bundar itu.


Sajian makanan sudah terhidang saat itu juga. Mami Tasha benar-benar memperhatikan apa pun yang akan di makan Papi. Tanpa perlu Papi memesan menu lagi.


“Loh Om Deo?” Aku menyapa kaget melihat pria yang menjadi calon rekan bisnis Papi. Dia adalah ayahnya Endah. Salah satu mantan sahabatku.


Kami sama-sama terkejut. “Agatha? Wah apa ini pertanda kamu mulai ikut terjun ke dunia bisnis?” Aku hanya mengangguk.


“Saya akan memberi pelajaran sebelum mereka saya lepas, Pak Deo.” Papi kini menyahut.


Kami semua makan dengan santai setelah itu Mami Tasha pamit untuk pulang dan meninggalkan kami mengurus pekerjaan. Aku salut dengan peran Mami sebagai istri yang begitu memperhatikan Papi tanpa perduli jika tubuhnya pun pasti lelah.


Dan kini malam telah menyambut ketika kami baru usai menyelesaikan rapat. Dimana Papi masih mempertimbangkan tawaran yang di ajukan kembali oleh ayahnya Endah. Meski proposal sudah kami pelajari dan ayah pun demikian. Nyatanya pertemuan hari ini bukanlah akhir sebagai tanda jadi. Papi sangat selektif mempertimbangkan semua bentuk kerja sama.


“Tha, mandi gih. Air hangatnya sudah Mami sediakan. Segera istirahat yah? Oh iya tadi Gara nanyain kamu loh.” Aku hanya mengangguk dengan lemas.


“Makasih yah, Mami.” Aku berlalu ke kamar usai mendapat usapan di puncak kepalaku oleh Mami.


Nyatanya setiba di kamar aku tak melakukan apa pun selain mandi dan langsung tidur. Tubuhku lelah sekali dan besok mungkin aku bisa melakukan hal lainnya sebelum berangkat ke kampus siang hari.


Singkat cerita pagi yang ingin ku lewatkan dengan istirahat harus terganggu dengan ketukan pintu di depan kamarku.

__ADS_1


“Agatha!”


“Tha, buka pintu dong.”


“Agatha, bukain kita pintu dong!” Teriakan riuh di depan kamar membuat aku mengerjapkan mata terasa seperti mimpi.


Mataku menyipit melihat silaunya mentari di jendela kamar.


“Siapa sih ganggu aja?” gerutuku kembali baring. Namun, tak lama kemudian ketukan kembali terdengar.


“Tha, buka pintunya. Please…” Tak bisa lagi tidur. Dengan ku paksa tubuhku bangun membuka pintu yang memang aku kunci dari dalam.


Rasanya seperti mimpi melihat kelima mantan sahabatku berlari masuk ke dalam kamar.


“Kalian apaan sih?” tanyaku dengan ketus. Sebab menurutku semua sudah berubah tak lagi seperti dulu. Mereka bukan lagi orang yang bisa sok akrab begitu di rumahku.


“Kita mau minta maaf.”


“Iya, Tha. Kita salah.”


“Maafin kita semua yah, Agatha.” Aku hanya berdiri tanpa berniat melangkah mendekati mereka. Kedua tanganku saling menyilang di depan dada.


Bagaimana mungkin mereka begitu mudah meminta maaf sedangkan aku sendiri mati-matian berusaha mendamaikan diriku.


“Semua sudah berakhir kan? Kalian mau kita masing-masing? It’s okey. Aku nggak masalah kok. Lagi pula sampai kapan pun aku nggak akan mau kenal dengan orang yang habis manis sepah di buang.” Dalam hati aku tertawa mendengar apa yang aku ucapkan barusan.


Memangnya mereka mendapatkan hal manis apa dariku? Bukankah selama ini justru aku yang merepotkan mereka dengan segala pikiranku yang lelet?

__ADS_1


“Tha, please deh jangan drama kayak orang pacaran gitu. Kita mau minta maaf karena sudah nuduh kamu seperti itu. Kita baikan kayak dulu lagi kan?” Tidak semudah itu aku memaafkan mereka.


Memilih bergegas mandi dan bersiap. Meski awalnya aku tak ada rencana untuk pergi ke kantor pagi ini, tapi demi menghindari mereka aku akan ikut Papi ke kantor.


Sejenak aku terhenti mandi di kamar mandi kala mendengar suara heboh di luar sana.


“Astaga mereka buat apa lagi sih di kamarku?” Aku buru-buru keluar kamar mandi dan ternyata kelima gadis itu sudah menjerit histeris saat mengangkat ponselku.


Kepalaku menggeleng frustasi. Jelas aku melihat Gara sedang melakukan panggilan video pada ponselku dan mereka yang mengangkat.


Jika aku pikir mereka akan pergi dengan tingkah acuhku, nyatanya salah. Mereka justru ikut masa bodoh dan saat ini menikmati kesempatan video call dengan adikku.


“Gara!”


“Gar, kapan balik ke Indo?”


“Iya nih. Kita kangen loh.” Mataku memutar malas mendengar semua pertanyaan itu.


Oke hari ini aku akan meninggalkan mereka di rumah dan ke kantor tanpa membawa ponsel. Rasanya itu bukan satu masalah.


Terlalu asik dengan Gara mereka sampai tidak menghiraukan kepergianku. Aku ikut dengan Papi di mobil.


“Loh teman kamu kok di tinggal?” tanya Mami Tasha yang mengantar kami ke mobil.


“Biarin aja, Mi. Paling mereka mau video call sama Gara aja tuh.” sahutku masa bodoh.


Mami dan papi tak lagi sewot. Ku peluk dan cium Mami sebelum kami berangkat. Setengah hari aku bekerja membantu Papi mengurus pengecekan laporan keuangan yang baru saja di berikan asisten papi.

__ADS_1


Rasanya otakku mulai sedikit terkontrol setiap melihat angka di depan mataku. Tak seperti sebelumnya kepalaku sering terasa pusing melihat deretan angka.


__ADS_2