Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Bab 20


__ADS_3

Tak terasa penatku di perusahaan kini sudah berakhir ketika ku lihat jam sudah berada di angka dua belas. Dimana waktu istirahat untuk semua pekerja dan waktu untukku bergegas pergi ke rumah berganti pakaian. Hari ini Papi akan pulang makan siang di rumah tentu aku akan ikut lagi dengan papi. Mobil sampai di halaman rumah dan betapa kagetnya aku.


“Astaga, mereka masih belum pulang juga?” Aku menggelengkan kepala melihat jajaran mobil di depan rumah.


Entah apa yang mereka lakukan setengah hari di rumahku? Aku masa bodoh dan memilih memeluk Mami yang datang menyambut kami.


“Sayang, ayo makan. Aku sudah siapkan makan siang kita.” Mami menggandeng tangan Papi dan aku ikut di belakang.


Aku pikir meja makan hanya akan ada kami. Ternyata semua mantan temanku sudah duduk di kursi masing-masing sembari memasang senyum padaku. Tak ku hiraukan mereka. Aku hanya makan dalam diam.


“Mi, Pi, aku siap-siap ke kampus dulu yah?” ujarku.


“Oh iya. Kalau gitu Mami temani Papi kamu dulu istirahat yah?” Aku mengangguk meninggalkan meja makan.


Di kamar sejenak aku merebahkan tubuh.


“Capek?” Aku terlonjak kaget mendengar suara yang ternyata dari ponselku.

__ADS_1


“Loh, Gar. Kok kamu?”


“Kenapa nggak pernah hubungi adiknya lagi? Tunggu dapat masalah yah baru mau ingat lagi?” Kepalaku menggeleng cepat.


“Nggak! Bukan gitu lah. Kan kamu tahu aku sibuk banget akhir-akhir ini.” Aku menjawab dengan menatapnya setelah meraih ponsel yang terletak di nakas.


“Mereka di maafin nggak?” tanya Gara yang segera aku menggeleng lagi.


“Yasudah aku mau siap-siap kuliah dulu. Bye…” Panggilan segera ku matikan. Lelah dan ngantuk segera ku hilangkan dengan mandi siang itu.


Di depan cermin aku hanya duduk tenang. Ku biarkan permintaan maaf mereka berkreasi saat ini. Hingga akhirnya kami berangkat kuliah bersama dengan aku yang di tarik ke dalam mobil Sisil. Aku hanya patuh. Sepanjang jalan pun aku hanya diam.


“Tha, maafin kita dong,”


“Kita udah bisa kebuka kok pikirannya. Ternyata Rifana itu niat buat hancurin kita.”


“Iya, Tha. Kita sudah lama sahabatannya. Masa mau hancur karena orang baru sih?”

__ADS_1


Aku tak menjawab sama sekali. Mataku terpejam mengistirahatkan otak sejenak sebelum kembali berpikir di kelas.


Ada rasa senang juga melihat para mantan sahabatku yang mengejarku seperti ini. Padahal jika di pikir aku yang sangat bergantung pada mereka. Tapi, kenapa justru mereka yang mengejarku?


Satu semester itu ku lewati dengan kesibukan. Bukan berarti aku tidak pernah ikut bergabung dengan mereka. Di setiap waktu kosongku malam atau pagi mereka sering mengunjungiku ke rumah. Meski sikapku masih saja sama. Hingga suatu malam dimana kami berkumpul semua di rumahku, mendadak kelima gadis itu histeris.


“Ya Tuhan!”


“Oh my God!”


“Pangeranku datang!” Ku lihat kehadiran pria tampan yang tersenyum hanya padaku. Satu koper di tangan kanannya berdiri di samping kakinya.


“Gara?” Aku terkejut melihat kedatangan adikku yang tak memberi kabar.


“Mami, Gara pulang!” Terlalu senang aku sampai berteriak memanggil Mami Tasha.


Rasanya hidupku mendadak berwarna lagi. Rasa rindu yang ku rasakan membuat aku tak kuasa untuk tidak memeluk Gara. Para temanku yang heboh pun tak mau ketinggalan ikut memeluk kami berdua.

__ADS_1


__ADS_2