
erasnya hujan aku berlari keluar dari rumah megah dimana aku baru saja berkencan dengan kekasihku untuk pertama kalinya. Hubungan yang kami jalani sudah berjalan sekitar lima bulan. Aku terisak melewati hujan keluar dari halaman yang luas itu. Tak ku perdulikan lagi bagaimana para pelayan di rumahnya menatapku aneh. Aku terus berlari sembari mencari kendaraan. Namun, tak kunjung ku dapatkan sebab perumahan ini berada di sekitar perumahan yang elit. Tentu akan sulit menemukan kendaraan. Hingga lelah aku menyusuri jalan dengan berlari semakin kencang.
Rasa lelah bahkan tak ku rasakan lagi. Hingga tiba di sisi jalan besar aku mendapati taksi dan meminta di antar ke rumah. Aku tidak tahu bagaimana semua ini terjadi.
"Agatha? apa yang terjadi denganmu?" Suara itu menyambutku ketika tiba di rumah. Kedatanganku sontak saja di sambut wajah syok oleh Mami Tasha.
Yah dia adalah Mamiku yang merawatku sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Pelukannya bahkan mampu menghangatkan tubuhku saat ini yang kedinginan.
"Agatha, katakan pada Mami. Apa yang terjadi? wajahmu pucat, tubuhmu basah semua. Siapa yang menyakiti mu? Apa yang di lakukan?" Ku lihat wajah Mami begitu khawatir. Aku hanya bisa membalas dengan menggelengkan kepala menangis.
Rasa trauma masih jelas ku rasakan saat ini. Mami mengerti dengan keadaanku yang belum mau bicara, ia pun memelukku dan menuntun ku masuk ke kamar. Bahkan tubuhku yang sudah dewasa Mami urus layaknya anak kecil ketika harus di bukakan pakaian dan juga di pilihkan pakaian ganti.
"Mi, Agatha pengen sendiri dulu." Aku meminta Mami Tasha keluar kamar. Dimana aku lihat Mami dengan berat hati mengangguk meski aku tahu Mami pasti sangat ingin di sampingku.
Aku menutup kamar dan berbaring di atas kasur kala melihat ponselku yang basah. Di luar suara petir saling bersahutan sangat kencang. Aku menangis meraih telepon khusus di kamar. Sebuah nomor ku hubungi dan air mata ku justru semakin deras menetes.
"Halo," saat suara pria di seberang sana ku dengar aku tak sanggup menutup mulutku. Tangisku pecah seketika.
"Gara! tolong aku, aku sangat takut." Bibirku aku bungkam setelahnya.
"Agatha? Agatha ini kamu kan? Apa yang terjadi?" Aku menggeleng mendengar suara panik dari seberang telepon.
"Kamu di rumah kan? Aku sebentar lagi sampai, aku sudah di bandara." Mendengar keberadaannya sudah di bandara mendadak perasaanku sangat lega.
Aku membaringkan tubuhku meringkuk di atas kasur. Pikiranku menerawang kala mengingat kemarahan adik angkatku Gara yang melarang aku berhubungan dengan Morgan. Pria yang begitu aku gilai selama ini. Namun, aku sama sekali tak mau mendengar ucapan pria itu.
"Agatha." Ku dengar suara itu Gara.
__ADS_1
Tak lama setelah itu aku pun mendengar suaranya secara langsung dan aku berlari memeluk tubuhnya. Sosok adik yang begitu selalu perhatian padaku bagai pelindung untukku.
Gara begitu sayang padaku meski aku bukanlah kakak kandungnya. Mami dan Papi semula mengira jika aku adalah anak dari Papi dan wanita masa lalunya. Sampai pada akhirnya identitasku di ketahui jika aku adalah anak dari mamahku dan kekasihnya sebelum Mamah berpacaran dengan Papi Raga.
Di rumah ini aku benar-benar merasa tak ada perbedaan antara anak kandung dan anak angkat. Aku memeluknya menumpahkan segala sedihku dan detik berikutnya baru aku menceritakan semua yang terjadi.
"Dia hampir melecehkan aku, Gara. Aku benar-benar salah tidak mendengar ucapanmu selama ini. Aku tidak tahu jika ucapannya yang ingin hubungan kami serius justru ingin membuat aku hancur. Aku berpikir jika ia membawaku ke rumahnya adalah untuk mengenalkan pada orangtuanya." Aku menceritakan semua dengan menundukkan kepalaku.
Ku rasakan rambut panjangku di usap lembut olehnya. Ia sedang berusaha menenangkan diriku dari rasa takut.
"Gara, ini berikan pada Agatha." Mami masuk ke kamar dan memberikan segelas air pada Gara untukku.
"Kita bisa melaporkan dia ke polisi. Mami rasa itu adalah hal yang paling tepat. Jangan sampai ini terjadi pada banyak wanita di luar sana." Mendengar usulan dari Mami sontak kepalaku menggeleng tak setuju.
Bagaimana mungkin aku setuju sedangkan di sini semua teman-temanku tahu jika aku dan Morgan berpacaran. Aku tidak ingin di jadikan bahan bicaraan teman-temanku di luar sana.
"Jangan, Mami. Aku tidak mau. Aku malu." Mataku kembali meneteskan air mata. Meski pun Morgan belum sempat menyentuhku tapi aku tidak ingin ini semua jadi panjang.
"Gara! Jangan pergi, Gar. Tolong, aku mohon."
"Gar, jangan melakukan hal di luar batas." Kali ini Mami Tasha yang berucap setelah ucapanku sama sekali tak di gubris oleh Gara.
Aku di kamar ini bersama Mami dengan aku berbaring di atas kasur. Entah apa yang ingin Gara lakukan. Aku tahu tubuhnya pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari luar negeri. Kami memang adik dan kakak tanpa adanya ikatan darah. Tapi lantaran kemampuanku yang tidak seberapa akhirnya aku hanya bisa menetap di Indonesia. Sedangkan Gara yang cerdas seperti Mami Tasha ia beruntung bisa menempuh pendidikan ke luar negeri.
Tanpa sadar mataku terpejam ketika lelah menangis. Ku rasakan tubuhku mendapat pelukan hangat dari Mami Tasha. Ia benar-benar beruntung hidup di kelilingi orang baik. Segera ku putar tubuhku menghadap Mami dan membalas pelukannya. Dalam tidur pikiranku bahkan masih merasakan kejaran dari Morgan.
Sumpah demi apa pun semua ini bisa menjadi rasa trauma sendiri bagiku. Hingga aku benar-benar tak sadar dengan apa yang terjadi ketika aku bangun tidur, waktu sudah malam. Suara adzan ku dengar berkumandang.
__ADS_1
"Sudah bangun?" Aku menatap Mami kala bertanya sembari membereskan meja nakasku.
"Apa Gara belum pulang, Mi?" tanyaku penasaran. Namun, Mami Tasha justru tersenyum mendekati aku.
"Kamu sangat rindu dengan adikmu yang rasa kakak itu yah? Dia di kamarnya sedang main gitar tadi Mami lihat." Aku pun pamit keluar kamar karena begitu penasaran dengan apa yang Gara lakukan. Aku sangat yakin jika dia telah menemui Morgan saat aku tidur.
Kamar aku ketuk yang tidak tertutup rapat. Ku dengar suara gitar berbunyi dan itu sudah pasti dari arah balkon kamar. Inilah yang membuat aku terasa kehilangan sosok adikku yang tampan sejak ia ke luar negeri. Rumah terasa sunyi tanpa adanya suara gitar yang baru terdengar.
"Magrib kok main gitar sih?" tanyaku mendekat.
Saat itu juga Gara menoleh dan tersenyum. Rasanya ketika bersama Gara aku merasa sedang bersama temanku. Sebab tubuhnya bahkan jauh lebih besar dari pada aku.
"Kan ngiringi adzannya. Bercanda kok. Lagi asik aja ini juga sudah mau berhenti." Tanpa sengaja aku melihat ujung tangannya yang di balut perban, segera aku raih dan bertanya.
"Gar, kamu kelahi?"
"Bukan. Lebih tepatnya habis hajar orang." jawab Gara dengan santai.
Tak kuasa rasanya aku mendapat pembelaan seperti ini. Segera aku memeluknya.
"Makasih banyak yah, Dek. Kalian benar-benar sayang sama aku. Aku benar-benar bersyukur." Pelukanku justru di balas dengan erat oleh Gara.
"Kak, sudahlah. Kita semua keluarga. Sudah sepantasnya kita saling melindungi. Dan kami semua tidak membedakan apa pun antara kita. Kakak sudah seperti Kakak kandungku. Sudah sepatutnya aku melindungi Kakak. Dan kalau Kakak nggak keberatan ikut aku kuliah di luar negeri yuk. Biar ada yang jagain."
Mendengar ajakan Gara yang sering kali membuat aku merasa tak percaya diri dengan kemampuan otakku, segera aku melepas pelukan itu dan menggeleng.
"Nggak ah. Kalau buat cari pelindung kan kamu bisa bantu aku cari pengganti yang benar-benar baik menurut kamu. Aku janji pasti akan patuh kok, Gar."
__ADS_1
"Oh jadi kakak mau cari brondong yah? Kan teman-temanku semua usianya lebih muda dari Kakak."
Tawaku tanpa sadar pecah saat itu juga. Rasanya senang sekali Gara kembali ke rumah ini lagi. Selama beberapa bulan aku di rumah ini terasa sunyi hanya berdua dengan Mami. Sebab Papi sering lembur di perusahaan.