Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Meminta Izin


__ADS_3

Hari pertama Gara sekolah akhirnya usai. Bocah tampan itu begitu sangat gembira saat berjalan keluar dari kelasnya. Wajahnya tersenyum lebar untuk pertama kali ia bisa merasakan bermain dengan bocah seusianya.


Hingga langkah kakinya terhenti kala kedua manik mata bening miliknya melihat sosok pemuda yang tak asing.


Keningnya ia kerutkan sedalam mungkin, berusaha meyakinkan diri jika ia melihat seseorang dengan benar.


“Huh, itu Uncle tampan bukan? Iya itu juga mobilnya sama.” celetuk Gara yakin. Ia pun menoleh kesana kemari mencari sang papah. Namun, hingga usai memastikan Gara tak kunjung mendapati sang papah atau pun maminya menjemput.


“Uncle!” Teriaknya memilih untuk menunggu bersama Raga. Mendengar panggilan yang tak asing, Raga pun menoleh ke arah sumber suara.


Ia begitu senang melihat Gara lagi. Sungguh Raga begitu candu dengan bocah tampan ini. Langkah kaki lebar ia ayunkan dan segera Raga menggendong tubuh anaknya itu. Menciumnya bertubi-tubi bahkan Gara sampai merasa sedikit risih sebab kesulitan bernapas.


“Uncle, wajah Gara gatal.” keluhnya memejamkan mata usai mengusap wajahnya kasar. Bukannya berhenti, Raga justru semakin menciumnya dan memeluk tubuh mungil itu.


“Akhirnya kita ketemu lagi. Ayo kita jalan-jalan.” ajak Raga usai ia menurunkan tubuh Gara di dalam mobil tepat di sampingnya.


Mereka duduk bersebelahan dengan Raga menyetir sendiri mobil miliknya.


“Uncle, nanti Papah mencari Gara. Sebaiknya kita pulang saja.” bocah itu tak tega jika sang kakek cemas tak menemukan dirinya.


Raga menoleh, tangannya mengusap lembut rambut sang anak. Rasanya moment yang tak pernah terlintas di benaknya akan duduk bersama bocah tampan ini. Masih seperti mimpi bagi Raga.

__ADS_1


“Uncle sudah ijin menjemputmu untuk makan siang dan bermain. Papah juga meminta uncle untuk menjagamu.” ujar Raga.


Usia Gara masi terbilang kecil sedikit sulit jika Gara ingin masuk ke dalam hidupnya secara instan. Ia ingin semua berjalan sendirinya tanpa Raga memaksa sang anak merubah panggilan uncle itu.


“Wah…benarkah? Kita akan jalan-jalan? Ayo uncle. Tapi kenapa Kakak tidak ikut?” Wajah Gara murung kala memastikan di belakangnya tak ada siapa pun termasuk Tasha yang ia kira akan bergabung.


Mendengar sebutan itu Raga sedikit sedih. Anaknya benar-benar hidup dengan suasana yang beda dari anak pada umumnya. Sungguh miris. Kakek dan nenek ia panggil papah dan mamah. Sedang ibunya ia panggil kakak. Dan saat ini ayahnya sendiri pun ia panggil dengan uncle.


Mengingat semua itu Raga ingin sekali memukuli tubuhnya. Ia menjadi pria terlalu bodoh rasanya hingga tidak bisa membuat dirinya bijaksana. Kini penyesalan tak hentinya membuat ia sakit sendiri. Setiap panggilan yang Gara sebut seolah terasa mencabik hati Gara. Seperti ada goresan silet yang menyayat hatinya.


“Kakak sedang sibuk kan? Gara tahu itu. Lain waktu kita akan bersama. Sekarang biar sama uncle dulu.” ujar Raga memberi pengertian pada sang anak.


Gara yang hanya bisa patuh pun duduk manis menunggu mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang tak padat siang itu.


Keduanya tidak tahu jika siang ini Tasha justru mendatangi perusahaan sang papah. Wajahnya tampak sendu.


Tiga kali ketukan ia ayunkan di pintu ruang kerja sang papah.


“Papah, ini Tasha.” teriaknya dan Firman pun memberikan izin untuk masuk.


Tasha memandang sang papah, ia duduk saat pria paruh baya di depannya tengah mengangguk.

__ADS_1


“Pah, maafkan Tasha jika mengganggu. Tapi Tasha harus segera berangkat ke Singapura. Ada masalah dengan produksi pakaian di sana. Tasha harus menjadi penanggung jawab. Tolong Papah kesampingkan masalah dengan pria itu. Tasha tidak mungkin melakukan kesalahan berulang, Pah. Ini masalah kerjaan yang urgent. Menyangkut kepercayaan masyarakat pada kualitas kerja Tasha.”


Firman sebagai pengusaha pun paham apa yang sang anak tengah hadapi saat ini.


“Lalu, Gara bagaimana?” tanyanya yang tak melupakan status sang cucu saat ini yang bahkan ia sendiri yakin jika belum pulang ke rumah.


“Tasha percayakan Gara pada Papah dan Mamah. Tidak mungkin Tasha membawanya sedangkan di sana Tasha akan turun ke pabrik langsung. Papah memiliki kuasa atas Gara. Lagi pula dia juga sudah masuk sekolah.” ujarnya meski berat rasanya berpisah dengan sang anak.


Itu sebabnya Tasha akan pergi hanya dua atau tiga hari saja. Jika pun bisa selesai dalam waktu satu hari, maka ia akan segera pulang.


“Kapan keberangkatan itu?” tanya Firman kembali.


“Sore ini, Pah.” jawab Tasha mantap.


Sebab di Singapura pun ia sudah di tunggu oleh Ibu Dewi Maharani.


Setelah mendapatkan izin, barulah Tasha bisa bernapas lega. Ia pulang ke rumah untuk bersiap dan ke bandara. Setidaknya Gara masih sibuk dengan Raga dan itu tidak akan membuat sang anak sedih melihat maminya pergi.


Singkat cerita, kini di bandara Tasha memperhatikan cuaca yang sedikit gelap. Kilatan petir tampak beberapa kali menyala.


“Semoga hujannya belum turun. Aku harus segera sampai. Semoga perjalanan kali ini tidak ada kendal…”gumamnya penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2