
Satu minggu liburanku telah ku habiskan dengan menemani Mami merawat Papi yang sakit. Memang tak sakit parah, tapi kami tidak mungkin tega membiarkan Papi begitu saja tanpa melayaninya. Bahkan aku selalu melihat Mami yang mengecup kening papi untuk memberikan semangat. Seperti suasana pagi ini di mana Mami tampak menyuapi papi dengan penuh kesabaran. Bubur yang dimakan Papi pun di buat Mami sendiri tanpa bantuan ku mau pun pelayan.
"Agatha, Mami lihat satu minggu ini kamu tidak kuliah?" Pertanyaan Mami lontarkan ketika aku di kamar mereka. Papi pun menoleh padaku seolah menunggu jawaban.
"Kamu sudah libur kuliahkah?" Papi yang bertanya dengan suara seraknya.
Papi terkena flu dan batuk sampai membuat tubuhnya demam. Pelan aku mengangguk menjawab pertanyaan Papi.
"Berlibur lah, Agatha. Papi akan siapkan tiket untukmu. Kemana kau mau pergi? Ke tempat adikmu kah?" tanya Papi sontak membuat aku menggeleng lagi. Niatku ingin menjenguk Gara tak ada lagi saat ini. Aku hanya ingin di rumah menemani Mami dan Papi. Setidaknya menjadi anak yang harus sadar diri, itulah yang ada di pikiranku saat ini. Sedari kecil aku belum pernah melakukan apa pun yang bisa membuat mereka senang.
__ADS_1
"Tidak, Pi. Aku di rumah saja mau belajar. Lagian teman-temanku semua di sini kok tidak ada yang pergi liburan. Gara kan juga baru pulang waktu itu. Nanti saja kalau Mami dan Papi menjenguk Gara baru aku ikut." Mami Tasha yang hanya tersenyum ku lihat.
Meski pun aku adalah anak yang di besarkan mereka penuh kasih sayang, tapi aku sangat hati-hati dalam menjaga perasaan Mami. Aku tidak ingin membuatnya sedih dengan Papi yang terlalu berlebihan dalam memperlakukan aku.
Siang ini bahkan aku berjanjian dengan teman-temanku untuk ngumpul bareng setelah memastikan Papi membaik. Dan aku sudah meminta izin dengan Mami.
Ku lajukan kendaraan roda empat milikku yang menemaniku selama kuliah. Suasana jalanan yang nampak ramai membuat aku begitu santai menikmati kemudi. Hingga beberapa kali notifikasi di ponselku tak kunjung ku hiraukan. Lagi pula beberapa detik lagi aku akan sampai di lokasi pertemuanku dengan teman-teman.
"Hai gais..." Suaraku menggema di cafe siang itu. Hingga wajahku yang tersenyum mendadak pudar melihat satu pria di antara temanku.
__ADS_1
Langkahku terhenti urung menarik kursi yang ingin ku duduki.
"Kalian? Kenapa dia ada bersama kalian?" tanyaku dengan wajah penuh kebingungan.
Sudah lama aku berusaha menghindari semua yang berkaitan dengannya tapi hari ini tanpa ku duga justru sosok yang sangat aku benci justru hadir di depanku dengan tubuh yang sudah berdiri mendekat padaku.
"Agatha, tolong dengarkan aku dulu." Tangannya mengudara berusaha menggapai tanganku. Namun, secepat mungkin aku mengalihkan tanganku ke arah lain. Sama sekali tak sudi jika aku tersentuh oleh orang tak punya hati sepertinya.
"Aku minta maaf, Agatha. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada kalian waktu itu. Aku benar-benar tidak tahu. Aku mengerti jika kamu pasti akan menyalahkan aku dalam hal ini." ujar wanita di depanku.
__ADS_1
"Yah, aku tentu pasti menyalahkan kamu, Rifana." Wanita yang begitu aku benci. Aku sangat membencinya hingga tanpa mendengarkan lagi suara para temanku yang berteriak dan lari mengejarku, aku bergegas meninggalkan cafe.