
"Aku menitip anakku pada kalian."
Kedua bola mata itu menatap nanar pada Tasha yang ia masih genggam tangannya. Lalu beralih pada sosok mungil yang kini berdiri di sisinya.
"Renata Agatha, anak Mamah yang pintar menurutlah pada mereka. Patuhlah pada siapa pun kamu tinggal, Sayang. Mereka adalah orang yang baik..." Suara bergetar itu pelan terhenti dan kedua mata yang terus meneteskan air mata saat itu juga tertutup bersamaan dengan helaan napas pelan untuk terakhir kalinya.
"Dia sudah pergi." Tasha berucap lirih dengan wajah syok tak menyangka jika kedatangannya justru menjadi terakhir kalinya bertemu dengan wanita ini.
"Agatha, mamah kamu sudah tenang Sayang." Dengan kebesaran hati Tasha berucap lembut pada anak kecil yang tampak tidak tahu apa-apa itu.
"Mamah Agatha lagi bobok yah Tante?" tanyanya dengan wajah tak sedih. Tasha yang bingung harus mengatakan apa memilih menatap pada Raga yang berdiri di dekat mereka.
__ADS_1
Segera Tasha memeluk tubuh Agatha lembut. "Mamah Agatha sudah meninggal. Agatha harus kuat yah?" Detik berikutnya suara anak kecil itu menangis begitu kerasnya. Ia tak terima dengan kabar yang ia dapatkan. Susah payah Tasha menenangkan Agatha hingga beberapa kali gadis itu memukuli Tasha berharap ini semua tak benar.
"Heh apa yang kau lakukan pada Mamiku?" teriak Gara yang menarik kasar tangan bocah cantik itu lalu mendorongnya menjauh dari Tasha.
"Gara." panggil Tasha kaget melihat kemarahan sang anak.
Gara menatap tak suka pada Agatha, dan bocah cantik itu berlari memeluk sang mamah yang sudah tak bergerak lagi. Ia menangis di sana menumpahkan kesedihannya.
"Makanya jangan kasar. Dia sedang sedih. Kita harus hibur dia yah?" Patuh Gara hanya bisa menganggukkan kepala.
Kejadian menyedihkan tersebut nyatanya tak hanya memakan satu nyawa saja. Ibunda dari Rizka yang syok mendengar kabar sang anak meninggal terkena serangan jantung dan terpaksa Raga mengurus pemakaman keduanya di waktu yang sama. Agatha benar-benar kehilangan semuanya.
__ADS_1
Malam yang indah ketika banyak bintang bertaburan di atas langit sana mengelilingi bulan menjadi pandangan yang Tasha fokuskan. Kedua tangannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri saat ini. Hingga tiba-tiba saja pelukan hangat ia rasakan dari belakang tubuhnya. Angin memang terasa begitu kencang saat ini ketika waktu sudah mendekati pukul dua belas malam.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Gara di samping telinga sang istri.
"Aku ingin kita segera pindah rumah. Mamah dan Papah tak baik harus melihat kehadiran Agatha di rumah ini yang bukan siapa-siapa mereka. Kedua orangtuaku butuh waktu menerima kehadirannya. Aku tidak ingin kesehatan Mamah dan Papah yang terancam." ujar Tasha.
Bagaimana pun ia pasti bisa merasakan kedua orangtuanya pasti akan kesal setiap kali melihat wajah Agatha dimana mereka tahu jika itu adalah buah cinta Raga dengan wanita lain.
"Besok kita akan segera pindah ke rumah baru kita." Setelah berkata demikian Tasha melangkah meninggalkan sang suami ke tempat tidur.
Meski ia sudah berusaha mempertahankan semuanya nyatanya tak mudah untuk Tasha menerima semua ini. Dimana ia harus membesarkan anak dari buah cinta sang suami dengan wanita lain. Tentu rasanya sangat menyakitkan.
__ADS_1