
Keduanya melangkah masuk ke dalam dan terlihatlah punggung tubuh sosok pria yang tegap. Ia nampak duduk berhadapan dengan Firman serta Indri. Tasha melangkah perlahan bersama Raga. Menggendong Gara memasuki rumah membuat Raga tak mendapat penolakan dari Tasha agar tidak masuk.
Pertama kalinya Firman yang menyadari kehadiran dari Tasha kemudian di susul Indri serta pria yang tak asing bagi Tasha menoleh menatap kedatangannya.
Terkejut tentu saja Tasha begitu terkejut melihatnya. Ia sampai mengernyitkan kening dalam. Dalam rangka apa sebanarnya pria ini datang padanya.
“Sha…” Indri berdiri menghampiri anaknya. Tasha tampak berdiri mematung. Berusaha mencerna apa arti pertemuan mereka saat ini.
“Dia…” Tasha menunjuk ke arah pria di depan sana.
“Maaf…” pria tampan itu berdiri mendekati Tasha.
“Aku salah menuduhmu. Maafkan aku. Semua sudah saya ketahui dan saya datang ke sini benar-benar niat untuk meminta maaf.” tutur pria tampan itu dengan satu tangan ia ulurkan ke depan Tasha.
Tergugup Tasha menoleh ke arah sang ibu, Raga dan sang papah. Meski berat namun rasanya ia tak sampai hati untuk mengabaikan uluran tangan dari sosok pria di hadapannya.
__ADS_1
“Saya sudah memaafkan anda. Hanya kecewa saja jika anda menuduh kerja keras saya dengan kata-kata menyakitkan seperti itu.” ujar dari Tasha menatap dalam kedua matanya.
“Nona Tasha, bisakah kita bicara di luar? Sebelumnya saya sudah meminta izin pada Tuan Firman dan Nyonya Indri.” Rafa tampak menatap kedua orangtua Tasha. Bahkan sekali pun ia tidak pernah menatap wajah Raga yang masih berdiri memandangnya menggendong Gara kecil.
“Uncle…” suara mungil Gara terdengar membuyarkan lamunan Tasha. Segera ia mengajak Raga untuk masuk ke kamar Gara.
“Gara akan bangun jika suara ribut terdengar. Permisi saya mau mengantar Gara.” Acuh dengan ucapan Rafa, ia memilih mengantar Raga ke kamar sang anak.
Indri menatap kedua mata Rafa yang terus menatap kepergian sang anak bersama pria masa lalunya.
“Siapa pria itu, Sha?” tanyanya dengan suara penuh penekanan.
Baru kali ini Raga benar-benar merasakan ketakutan yang luar biasa. Melihat ada pria lain yang dekat dengan wanita pujaannya begitu membuat jantungnya berdebar kencang.
“Dia hanya rekan kerjaku saja. Kenapa sih?” Tasha bingung.
__ADS_1
“Tidak usah keluar lagi. Masuk ke kamarmu.” pintah Raga dengan agresif.
Tasha justru terkekeh remeh melihat bagaimana Raga mengatur dirinya. Rasanya sungguh lucu baginya pria yang tidak pernah mengiringi hidupnya selama ini tiba-tiba datang mengatur pergerakannya.
“Apaan sih? Bahkan kamu bukan siapa-siapa aku. Apa hakmu meminta aku masuk ke kamar?” ujar Tasha bertanya dengan rasa bingung.
Kini Gara baru sadar jika dirinya begitu keterlaluan. Ia gelagapan hendak menjawab apa hingga akhirnya Raga memilih untuk berjalan meninggalkan kamar itu dengan mengunci Tasha dari dalam.
“Bi, tolong di buka pintu kamarnya tunggu pria itu pulang.” ujar Raga melangkah pergi. Tak perduli bagaimana wajah pelayan di rumah itu tampak bingung.
Bagaimana bisa pria yang sangat terlarang masuk ke rumah itu dengan mudahnya memberi perintah mereka untuk membuka pintu sesuai waktu yang di katakan.
“Ra-raga…” Indri tergagap melihat Raga yang dengan pedenya duduk di sebelah Rafa.
Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini sampai berani duduk tanpa di persilahkan oleh sang tuan rumah.
__ADS_1
Firman yang melihat sikap Raga tampak menarik napas dalam lalu menghela kasar lantaran kesal melihat kedatangan Raga.