Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Rencana Bu Dewi


__ADS_3

Melihat sikap Raga yang tidak mengenakkan, sontak saja Rafa pun berpamitan pergi pada Firman. Ia merasa tak nyaman duduk berdua dengan pria yang menatapnya seperti meminta pergi.


Setelah memastikan Rafa pergi, kini giliran Raga yang duduk berdua dengan Firman. Indri pun meninggalkan mereka sebab ingin menyusul sang anak yang tak kunjung keluar dari kamar sang cucu.


“Loh ini pintunya kenapa di kunci? Tasha?” Teriak Indri mengetuk pintu kamar.


Tasha yang memeluk erat tubuh Gara lantaran sang anak tiba-tiba bangun dan rewel akhirnya turun untuk mendekati pintu.


“Iya, Bu. Tolong buka pintunya, Bu.” jawab Tasha.


Segera Indri membuka pintu. Jelas ia melihat wajah sang anak yang nampak biasa saja. “Kamu baik-baik saja kan, Sha?” tanyanya.


Bukannya menjawab, Tasha justru menoleh ke arah luar.


“Mereka sudah pulang semua, Bu?” tanyanya. Indri menggeleng.


”Papinya Gara belum pulang.” tuturnya.


Tasha pun meminta sang ibu masuk ke dalam kamar bersamanya. Sementara Raga di sini tengah duduk berhadapan dengan Firman. Masih jelas jika pria paruh baya di depannya ini terus menatapnya dengan tatapan dalam.

__ADS_1


“Apa masih kurang yang kami berikan ke kamu? Dengan tidak membatasi pertemuan kalian dengan Gara? Kesalahan kalian memang berdua. Tapi Tasha berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Dengan pria mana pun yang ia pilih asal bukan kamu.” Firman pun akhirnya angkat bicara juga.


Jujur ia tak suka melihat tingkah Raga yang menampakkan ketidak sukaannya dengan sosok Rafa. Sedangkan Firman tampak yakin jika Rafa adalah pria baik-baik.


Bahkan Tasha sudah menceritakan sosok ibu dari Rafa yang ramah padanya.


“Saya mencintai Tasha, Om.” jawab Raga dengan mantap.


Firman justru berdecih tak suka. Bagaimana pun tampannya Raga tetaplah di matanya Raga pria yang tidak ada di dalam kriteria menantunya.


“Cinta? Om? Saya tidak pernah menikah dengan tantemu!” tekannya sinis.


Raga meneguk kasar salivahnya. “Saya memang salah telah meninggalkan Tasha tanpa tanggung jawab. Tapi saya tidak tahu semuanya, Pak. Biarkan saya memperbaiki semuanya sekarang.” tutur Raga lagi.


Firman tampak begitu kembali kejam. Matanya membulat serentak dengan tubuhnya yang berdiri mengusir Raga.


Merasa keadaan semakin tegang, Raga pun pergi. Ia berpamitan dengan sopan meski rasanya berat. Ketakutannya semakin besar kala melihat dengan nyata jika ada pria lain yang saat ini akan menginjak rumah Tasha selain dirinya. Itu artinya lampu waspada harus selalu menyala untuk Raga. Bukan tak mungkin Tasha bisa membuka hatinya.


Di dalam mobil, Raga memukul-mukul setir mobil. Bayangan wajah tampan Rafa yang tak kalah jauh darinya semakin membuat pria itu tidak tenang.

__ADS_1


“Aku harus bisa membawa Tasha ke dalam pelukanku. Tapi bagaimana? Waktunya hanya pagi dan sore saja. Tidak! Aku tidak bisa tenang jika begini caranya.” tutur Raga mulai gusar.


Sepanjang perjalanan ia terus berpikir apa yang harus di lakukan.


Berbeda dengan Rafa yang berada di hotel. Ia sedang bertelponan dengan sang ibu.


Bu Dewi tersenyum melihat wajah tampan anaknya melalui panggilan video.


“Bagaimana, Raf? Sudah bertemu Tasha?” tanyanya.


“Bu, sudah. Besok bisa kah aku kembali ke Singapur? Pekerjaanku sedang banyak.” ujar Rafa lagi.


Bu Dewi yang nampak tegas justru menggelengkan kepala menolak. “Memang sudah ada foto kalian berdua makan malam? Ingat yah kesalahan kamu itu fatal. Tiga kali makan malam seharusnya adalah hukuman yang ringan untuk kamu. Tasha itu icon yang utama untuk bisnis ibu. Bisa-bisanya kamu malah mengusir dia dan menuduh penipu. Huh Rafa, ibu benar-benar tidak habis pikir sama kamu. Apa karena seorang dokter kamu jadi tidak bisa menggunakan pikiran kamu untuk melihat hal yang positif lagi? Semua kamu lihat seperti virus.”


Rafa tampak menghela napas kasar mendengar sang ibu mengomel tiada henti.


Yah, kedatangannta ke Indonesia untuk memenuhi semua tuntutan dari Bu Dewi. Meminta maaf, berfoto tiga kali saat makan malam dan mendapat kesepakatan kembali dari Tasha agar mau meneruskan kerja sama dengan Bu Dewi dan kembali ke Singapura lagi.


“Yah besok aku usahakan, Bu.” tutur Rafa.

__ADS_1


Panggilan pun terputus dari Rafa. Sedangkan Bu Dewi nampak terkekeh puas. Ia bersorak heboh lantaran senang sekali.


“Hahaha akhirnya semua berjalan mulus. Rafa Rafa…kamu tidak tahu saja jika semua yang kamu lihat adalah ulah Ibu sendiri. Sekarang kamu yang harus menanggung resiko dengan membujuk Tasha. Dia wanita yang baik dan pantas kamu bujuk, Nak. Maafkan ibu harus berbohong seperti ini. Rasanya sulit kalau harus membujuk kamu sendiri untuk mendekati Tasha. Semoga dengan pertemuan tiga kali itu kalian bisa saling dekat.” tutur Bu Dewi penuh rencana.


__ADS_2