Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Pertemuan Dua Keluarga


__ADS_3

Meja ruang tamu ku lihat sudah tertata banyak hidangan yang begitu menarik. Mami dan Papi masih di kamarnya. Aku yang gelisah tidak sadar jika sejak tadi keluar masuk ruang tamu dan ruang tengah. Berjalan seperti setrikaan sampai tiba-tiba ku dengar suara dari arah luar.


“Silahkan duduk, Tuan. Saya akan beri tahu Pak Raga.” Itu adalah suara Bibi.


Begitu Bibi memasuki ruang tengah segera ia menghampiriku.


“Non Agatha, itu tamunya sudah datang.” Aku mengangguk dan meminta Bibi pergi. Aku sendiri yang akan memanggil Papi dan Mami.


Dan di sinilah kami semua duduk berkumpul. Jantungku benar-benar berdebar melihat Mikael duduk di antara kedua orangtuanya.


“Agatha kenapa pemalu sekali yah? Ini bukan pertemuan kita yang pertama kalinya loh.” Aku mengangkat wajah tersenyum menatap wajah mamahnya Mikael.

__ADS_1


Tak tahu harus bersikap bagaimana. Sementara tatapan dari papahnya Mikael aku merasa sangat canggung. Berbeda dengan raut wajah mamahnya Mikael.


Malam ini aku dan Mikael hanya mendengar pembicaraan kedua orangtua kami yang saling menceritakan kami.


“Kami sudah sangat senang mendengar Mikael menemukan wanita yang dia pilih, Pak Raga. Agatha juga gadis yang baik dan juga dewasa. Sudah sepantasnya mereka maju ke jenjang yang lebih serius.” Pertama kali aku mendengar ucapan Mamahnya Raga begitu serius.


Pikiranku bertanya mengapa bukan papahnya Raga yang berbicara?


“Bagus. Kami juga berpikir hal demikian.” Aku menatap Papi ketika mengatakan itu.


“Tapi, sebelum membicarakan hubungan mereka. Saya rasa kewajiban saya untuk mengatakan semua ini tentang Agatha. Bagaimana pun ini memang harus di beritahu.” Papi kembali menambahkan ucapan. Aku menundukkan kepala takut.

__ADS_1


“Tenang, semua baik-baik saja kok.” Mami Tasha berbisik pelan padaku. Aku pun mengangguk.


Di depan sana aku memberanikan diri menatap mereka semua. Menunggu bagaimana respon mereka terhadapku jika tahu siapa aku.


“Agatha bukanlah anak kandung kami. Kami hanya menganggapnya sebagai anak kami dan itu tidak ada batas waktunya. Bagaimana kasih sayang kami sejak kecil padanya. Begitu pun dengan selanjutnya. Hanya saja kalian perlu tahu jika Agatha anak dari orang lain.” Sejenak aku memejamkan mata.


Begitu pun Mikael yang aku lihat menghela napas. Kami sama-sama lega setidaknya orangtuanya sudah mendengar kebenaran meski hasilnya nanti akan seperti apa. Jika pun aku di tolak menikah dengan Mikael itu tak masalah. Mungkin kedepannya aku harus bisa menyesuaikan diri dengan pria mana harus bersama. Yang jelas bukan seperti Mikael yang sudah mapan dan keluarga terhormat.


“Itu bukan masalah, Pak Raga. Yang utama adalah kebahagiaan anak kami, Mikael.” Pertama kalinya suara papahnya Mikael ku dengar.


Kini ia menatapku tapi tatapan itu bukan tatapan hangat seperti mamahnya Mikael. Aku merasa ada hal yang menjadi pembatas di antara kami.

__ADS_1


“Apa kalian yakin tidak mempermasalahkan hal itu? Bagaimana dengan citra keluarga kalian di depan media? Kami tidak ingin jika di akhir justru nasib anak kami di pertanyakan hanya karena masalah asal usul saja. Saya masih sanggup membahagiakan anak saya.” Air mataku rasanya hampir jatuh mendengar Papi berkata seperti itu.


Ada rasa emosi yang Papi tahan saat ini. Aku sadar mungkin Papi begitu kesal dengan papah kandungku yang tega tidak memunculkan dirinya hingga saat ini. Bahkan di saat seperti ini pun Papi benar-benar masih ingin mempertimbangkan nasibku ke depannya. Papi begitu menjadi pahlawan untukku.


__ADS_2