Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu

Sepenggal Masa Lalu Di Putih Abu-abu
Renggang


__ADS_3

Sejak kejadian batal pindah rumah kini waktu sudah berjalan hampir dua minggu, dimana Tasah melihat perubahan pada sang suami. Kehangatan pernikahan mereka mendadak berubah menjadi sunyi hening tanpa ada kehangatan kata mau pun sentuhan lagi. Setiap pagi Raga berangkat kerja dengan mencium kening Tasha namun tak banyak mengeluarkan kata. Bahkan pulang dari kantor selalu di atas pukul sepuluh malam. Tak hanya Tasha yang merasakan hal itu, Gara dan kedua orangtuanya pun merasakan hal yang sama. Tasha tak bisa mengelak sebab tinggal seatap dengan kedua orangtua tentu mereka tahu apa yang terjadi. Bahkan suara canda Gara dan Raga sudah lama juga tak terdengar.


Kini tepat pada pukul sebelas malam, Tasha melangkah membuka pintu rumah dimana semua anggota keluarga telah terlelap. Tatapan matanya tampak berkaca-kaca menatap wajah tampan di hadapannya yang berdiri dengan raut wajah datar.


"Mandilah dan segera berganti pakaian." pintahnya pada Raga yang hanya mengangguk.


Jika seharusnya Raga akan perduli pada Tasha ketika melihat netra mata sang istri yang berkaca-kaca, tidak untuk kali ini. Pria itu melangkah dengan wajah yang sangat lelah. Tasha tahu itu bukan wajah lelah pekerjan, melainkan lelah dengan pikiran. Entah apa yang terjadi. Ingin sekali bertanya namun rasanya tak mungkin menuntut waktu pada sang suami dalam keadaan yang sudah larut di kala Raga pulang kerja dengan lelahnya.

__ADS_1


Adab sebagai seorang istri tentu bagi Tasha sangatlah penting. Sudah berapa waktu ia menahan diri untuk bersabar menunggu waktu yang tepat. Kesibukannya bahkan tak sempat untuk mendatangi sang suami di kantor siang hari.


Ketika keduanya tiba di kamar, Raga sudah selesai dengan berganti pakaian usai mandi. Pria itu meneguk segelas air yang di sodorkan sang istri di depannya. Betapa baiknya wanita yang ia jadikan ibu dari anaknya ini. Dalam keadaan menahan sesak bahkan Tasha masih memperdulikan kedudukan sebagai istri.


"Sejak kemarin Gara selalu menanyakan papinya. Sebaiknya tidurlah bersamanya sampai pagi nanti." Tasha berucap dengan pelan namun jelas nada itu sangat tidak seperti biasanya.


Air mata pun jatuh mengenai sarung bantal saat itu, Tasha bergerak membalik badan melihat pintu yang tertutup rapat dengan pandangan nanar. Hatinya terasa begitu sakit saat ini entah karena apa. Sikap berbeda dari Raga membuat Tasha bertanya-tanya apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Di kamar yang berbeda, Raga pun tertidur memeluk tubuh mungil sang anak yang terlelap dengan mata sembab. Sepertinya yang Tasha katakan nyatanya jauh lebih buruk saat ini. Dimana Gara tidak hanya bertanya tentangnya melainkan anak kecil itu menangis merindukannya.


"Papi," suara Gara terdengar dengan kedua mata yang terbuka lebar. Bibirnya tersenyum lebar melihat wajah tampan di depannya saat ini.


"Hai Gar...kita tidur bareng yah? Papi temani malam ini." ujar Raga yang membuat Gara menoleh ke sebelah dimana berharap ia di tengah-tengah sang mami dan papi.


"Mami sudah tidur sepertinya kelelahan." sahut Raga yang begitu paham dengan pertanyaan di kepala sang anak.

__ADS_1


__ADS_2